zte-a711-review-spesifikasi-dan-sensor-sidik-jari-1

 

Jakarta — Adanya fasilitas sensor sidik jari sejatinya untuk mengamankan ponsel agar tidak dapat diakses orang lain. Tapi sekarang ini anak kecil pun dapat dengan mudah membobolnya. Bagaimana bisa?

Berbekal kepintaran, seorang bocah dapat dengan mudah mengakses ponsel orang tuanya meski ‘digembok’ dengan sidik jari. Salah satu contohnya adalah Ashlynd Howell, bocah enam tahun asal Amerika Serikat ini. Dilansir Detikinet dari BGR, Rabu (28/12/2016), Howell berhasil mengambil ponsel ibunya yang tengah lelap tidur. Kemudian ia menempelkan salah satu jari ibunya ke Touch ID.

Setelah iPhone berhasil dibuka, Howell pun langsung melancarkan aksinya. Ia mengakses Amazon dan membelanjakan sejumlah karakter Pokemon. Total USD 250 atau sekitar Rp 3,4 juta yang dihabiskannya.

Begitu ibunya bangun, dia langsung terkejut melihat iPhonenya. Sebab ia menerima sejumlah email konfirmasi pembelian. Melihat barang yang dibeli, si ibu langsung menyadari ini semua ulah putri ciliknya itu. Ibu Howell pun langsung menghubungi pihak toko untuk melakukan pembatalan. Untungnya sejumlah toko menyetujui permintaannya setelah mendengar runut kejadian.

Lucunya ketika salah satu pesanan tiba beberapa hari kemudian, dengan bangga Howell berkata ke bundanya bahwa ia telah berhasil berbelanja online sendiri. Barang yang datang tersebut adalah pesanannya. Ibunya Howell hanya bisa geleng-geleng melihat aksi putrinya tersebut.

Dari kasus Howell tentu bisa menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua. Meski ponsel sudah terlindungi dengan sidik jari, bukan bearti sudah aman dari jangkauan anak.

Sebaliknya anak-anak kini sudah lebih melek teknologi. Mereka tahu bagaimana mengakses ponsel yang terkunci sekalipun. Jadi para orang tua harus lebih ekstra lagi dalam menjaga ponsel agar anak tidak salah mengakses.

Apa dan Bagaimana Sensor Sidik Jari atau Fingerprint??

Salah satu tren di smartphone Android tahun ini adalah fitur sensor sidik jari yang memiliki fungsi utama sebagai alat autentikasi keamanan smartphone. Ada yang diletakkan di bagian belakang maupun di depan, jadi pengguna bisa dengan mudah menggunakan sidik jari mereka untuk membuka smartphone yang terkunci.

Logikanya hal ini akan menyulitkan orang lain yang ingin menyalahgunakan smartphone anda, karena hanya bisa dibuka dengan sidik jari yang telah didaftarkan. Namun, muncul pertanyaan, apakah alat sensor sidik jari tersebut benar-benar aman? simak penjelasan techinasia.com berikut.

Mudah diduplikasi
Baru-baru ini Vkansee, sebuah perusahaan biometrik asal Amerika Serikat, memamerkan bagaimana alat sensor sidik jari di smartphone sangat mudah untuk dibobol. Alat yang diperlukan adalah sebuah alat cetakan gigi untuk merekam sidik jari pengguna, serta malam (seperti mainan Play-Doh) yang digunakan untuk membuat cetakan. Cetakan yang terbuat dengan bantuan kedua alat tersebut kemudian ditempelkan di alat sensor jari.

Dalam uji coba yang dilakukan oleh The Verge menggunakan alat dan metode tersebut, ternyata mereka sukses membuka kunci di iPhone 6 dan Galaxy S6 Edge. Cetakan yang terbuat dari mainan anak ternyata bisa digunakan untuk menduplikasi sidik jari manusia dengan mudah pada sebuah uji coba yang melibatkan pemilik sidik jari. Lalu apakah duplikasi sidik jari bisa dilakukan dengan metode lain?

Tidak dapat diubah-ubah
Kedua cara tersebut mungkin membuat kamu meragukan keamanan sensor sidik jari yang terdapat di smartphone. Apalagi alat sensor sidik jari menyimpan datanya di smartphone pengguna dan hanya bisa dibuka menggunakan sidik jari yang telah terdaftar. Selain itu, kamu juga tidak bisa mengubah sidik jari kamu. Artinya apabila sidik jari kamu telah dicuri, si pencuri bisa memiliki akses seumur hidup terhadap keamanan kamu.

Beda halnya dengan keamanan menggunakan kode sandi yang bisa kamu ubah kapan saja. Walaupun memakan waktu yang sedikit lebih lama untuk membuka smartphone, kamu dapat mengubah-ubahnya kapanpun sesuai kebutuhan.

Data Tersimpan di tempat lain
Selain itu, pemerintah Indonesia sendiri telah lama menerapkan E-KTP yang dalam pembuatannya terdapat proses merekam sidik jari pemilik E-KTP. Dengan demikian, pemerintah Indonesia telah mengumpulkan data sidik jari penduduk Indonesia ke dalam sebuah database.

Bisa dibayangkan apabila database sidik jari tersebut bocor dan datanya muncul ke publik. Akses terhadap data sidik jari akan semakin mudah, dan bisa saja digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk membuka kunci smartphone dan menghapus semua datanya. Di lain sisi, dengan database tersebut, pemerintah dalam hal bidang pertahanan bisa menggunakan data tersebut untuk mengurus kasus kriminalitas.(*)

Sumber : Detik.com & Techinasia