PLTN Iran

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir akan berkunjung ke Iran mempelajari pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pada 22-24 Februari 2015. Kunjungan ini dimaksudkan untuk mempelajari teknologi nuklir Iran sebelum Indonesia membangun PLTN skala kecil di Serpong, Banten.

“Teknologi nuklir Iran sudah cukup tinggi. Kami ingin tanyakan juga apa yang membuat pembangunan PLTN Iran diboikot, padahal puluhan negara lain menggunakan PLTN,” kata Menteri saat menerima kunjungan Masyarakat Penulis Iptek (Mapiptek) di Jakarta, Rabu (18/2/2015).

Ia menyebutkan, kunjungan ke Iran itu juga terkait dengan penyelenggaraan Konferensi Tingkat Menteri bidang Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Inovasi negara-negara anggota Gerakan Non-Blok. Indonesia akan membangun PLTN skala laboratorium (Reaktor Daya Eksperimental/RDE) berkapasitas antara 10-40 megawatt (MW) di mana studi kelayakannya akan mulai dilakukan tahun ini dan diharapkan selesai akhir 2017.

“Segera setelah itu bisa dilakukan conditioning, sehingga diharapkan RDE sudah bisa beroperasi 2021. Kami berharap dengan ini masyarakat akan bisa melihat sendiri keamanan PLTN dan menerima dengan antusias PLTN yang sebenarnya,” kata Nasir sebagaimana dikutip Antara.

Nasir menilai keberadaan PLTN di Indonesia amat penting karena bersih bagi lingkungan dan dapat memenuhi kebutuhan listrik murah, massal, dan andal. Ia membandingkan dengan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar minyak di mana biaya listrik per kwh mencapai 18 sen dollar AS. Adapun pembangkit listrik batu bara berbiaya 12 sen dollar AS per kwh atau bila biaya lingkungan dimasukkan, maka bisa lebih dari 18 sen dollar AS per kwh.

Sementara itu, pilihan penggunaan energi terbarukan seperti geotermal mencapai 15 sen dollar AS. Nasir menyebutkan, pembangkit listrik tenaga air memang lebih murah, tetapi tidak bisa diandalkan karena sungai sudah semakin menyempit.

“Yang paling murah hanya nuklir, sekitar 3,4 sen dollar per kwh, maksimal 6 sen. Meskipun investasi pembangkit besar, namun biaya bahan bakar per tahunnya murah karena uranium 1 kg saja sudah bisa membangkitkan puluhan megawatt selama setahun,” katanya.

Nasir menuturkan, investasi RDE di Serpong antara Rp 1,6 triliun dan Rp 1,8 triliun. Hasil listriknya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik internal. Ia menyebutkan, generasi keempat PLTN saat ini sangat aman dan berbeda jauh dari PLTN di masa Chernobyl. Ia mencontohkan Amerika Serikat yang tetap aman mengoperasikan 100 PLTN untuk mencukupi kebutuhan 325 juta penduduknya.

“Jadi 1 PLTN AS berkapasitas 1.000 MW untuk melistriki 3,25 juta penduduk. Artinya, satu orang AS mendapat alokasi listrik 35.000 Watt, sementara Indonesia paling-paling 900 Watt,” katanya.

Advertisements