Thorium

Provinsi Bangka Belitung selain kaya akan timah, juga kaya akan bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), yaitu Thorium. Thorium ini diperoleh dari ikutan timah yang berada dalam Tin Slag dan tidak ikut diekspor.

Staf Bappeda Pemprov Babel, Ahmad Yani Hasir mengatakan, Thorium yang tersimpan dalam Tin Slag di Babel ini mencapai ribuan ton yang masih tersimpan dari proses peleburan timah baik yang ada di PT. Timah, PT. Koba Tin dan Smelter-smelter yang ada di Babel.

“Kita bersyukur sekali bahwa daerah kita ini dikaruniai Thorium yang banyak punya ribuan ton. Thorium dan Uranium ini merupakan bahan bakar dari PLTN, dan kita beruntung memilikinya, bahkan sudah lama tersimpan sejak timah digali,” ungkapnya akhir pekan lalu.

Meskipun memiliki bahan baku PLTN, Yani menjelaskan, untuk rencana PLTN yang akan dibangun di Bangka Barat dan Bangka Selatan nantinya tidak akan menggunakan bahan baku thorium dari Babel tersebut, karena sebelum dijadikan bahan baku, Thorium terlebih dahulu dikayakan dengan tekhnologi yang super canggih yang hanya ada di Eropa dan negara-negara maju lainnya.

Thorium

“Untuk mengelolanya harus diperkayakan, dan kita belum punya teknologi itu. Tapi, di negara Eropa Slowakia, Slovenia, Amerika ada, dan boleh kita bawa kesana untuk dikayakan menjadi bahan baku PLTN kita, namun kita punya kebijaksanaan, BATAN tidak akan menggunakan deposit-deposit uranium dan thorium ini di Indonesia terlebih dahulu,” katanya.
“Kita tetap akan membeli secara bahan baku itu, karena secara strategi politik ekonomi jauh lebih mengutungkan membeli daripada kita mengayakan thorium kita,” timpalnya.
Hal ini menurut Yani, dikarenakan beberapa pertimbangan oleh BATAN dan pemerintah pusat, diantaranya adalah untuk persediaan Thorium dunia jika sewaktu-waktu Thorium dan Uranium dunia habis, Indonesia bisa menggunakannya dan jauh lebih efisien serta nominalnya lebih baik lagi.
“Karena suatu saat dunia akan megalami kelangkaan sumber energi, dan thorium kita tahan dulu apabila persediaan dunia menipis. Kita akan perkayakan kita kirim ke luar negeri, atau kita addopt teknologi mereka kita bangun pengayaan di Indonesia. Kita memerlukan SDM yang jauh lebih hebat lagi untuk pengayaannya dengan tujuan untuk perdamaian bukan peperangan,” tukasnya.

Lebih lanjut dikatakan Yani, meskipun Indonesia belum memiliki tekologi pengayaan Thorium dan Uranium tersebut, namun Indonesia memiliki Sumber Daya Manusia (SDM) dan SDA yang banyak sehingga SDM Indonesia yang saat ini bekerja di negara maju bisa ditarik kembali ke Indonesia.
Ia menyebutkan, ahli nuklir, kimia dan fisika Indonesia saat ini bahkan ada yang bekerja di Internasional Atom Energi Agency (IAEA) selama kurang lebih 20 tahun, dan di negara-negara lainnya.

“Memang, yang mengerti teknologi pengayaan Thorium ini adalah ahli-ahli nuklir, fisika, kimia, dan dalam hal ini kita banyak SDMnya, namun tidak punya sarana prasarana sehingga mereka ini digunakan oleh IAEA dan negara maju lainnya yang sudah diakui dunia. Intinya kita tidak kekurangan SDM, kita kaya akan SDA, oleh sebab itu IAEA sangat mendukung kita membangun PLTN, karena kita lebih siap dibandingkan negara-negara tetangga di ASIA,” tandasnya.

Yani mengharapkan, dukungan seluruh masyarakat Bangka Belitung dalam pembangunan PLTN ini, karena PLTN merupaka solusi untuk kebutuhan listrik di Indonesia yang setiap tahun mengalami peningkatan kebutuhan seiring dengan pertumbuhan penduduk, investasi dan sebagainya.
Dengan adanya PLTN, masyarakat Babel menurutnya lebih mudah memenuhi kebutuhan listrikya, bahkan jauh lebih murah dibandingkan yang ada saat ini. Selain itu, keberadaan sumber listrik ini bukan hanya berakibat pada kebutuhan masyarakat yang terpenuhi, namun berkembangnya Provinsi Babel menjadi provinsi maju, karena segala bentuk investasi akan masuk dan akan meningkatkan perekonomian masyarakat serta membuka lapangan kerja baru.

Disisi lain, Wawan Purwanto dari BATAN mengatakan, bahan bakar PLTN berupa thorium memang masih didatangkan dari luar negeri. Hal itu, berlaku di beberapa negara yang memiliki PLTN.

Namun, ke depan cadangan thorium lokal dapat digunakan setelah Indonesia sudah mampu mengolahnya. Teknologi energi nuklir, ujarnya, setiap tahun terus berkembang termasuk juga PLTN di Indonesia.

“Fukai Jepang menggunakan PLTN teknologi Inggris tahun 1955 sebesar 115 MW. Setelah itu, Fukai jadi kawasan kaya yang berkembang teknologinya. Dari PLTN bila berdiri di Babel, maka dapat royalti dan serapan tenaga kerja 2.000 orang,” imbuhnya. (rakyatpos.com – tribunnews.com)

Advertisements