Dunia mencatat Indonesia adalah salah satu negara pertama Asia yang mengembangkan teknologi nuklir. Pada 1954, Indonesia menciptakan momentum dalam teknologi nuklir, dengan mendirikan Komisi Nasional Radioaktivitas dan Energi Atom, lompatan yang jauh melampaui prestasi banyak negara.

Sejalan bertambahnya pengalaman mengelola teknologi nuklir, seperti dalam reaktor riset yang sudah kita miliki sejak 1965, Indonesia mampu membangun berbagai sistem perudangan yang menjamin teknologi ini berlangsung aman. Hingga sekarang, pelbagai pengaturan sistem Indonesia terkait nuklir tetap terbuka menjadi referensi cepat bagi negara-negara Asia Tenggara.

Sekarang, makin banyak negara tetangga mengumumkan waktu tepat kapan mereka mulai membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Viet Nam berencana menjalankan PLTN pada 2018, sedangkan Thailand dan Malaysia, keduanya ingin mengoperasikan infrastruktur canggih ini pada 2021.

Seminar Nuklir ASEAN

Melalui suatu acara seminar di bilangan April 2011, Kementerian Riset dan Teknologi (Ristek) merencanakan membuka kesempatan bagi publik untuk melihat lebih dekat dinamika Asia Tenggara membangun infrastruktur PLTN. Rapat perdana persiapan seminar ini (09/02/2011) dihadiri oleh perwakilan dari Batan, Bapeten, Kemlu, Kementerian ESDM, dipimpin oleh Prof. Syamsa Ardisasmita, Deputi Bidang Jaringan Iptek.

Acara seminar PLTN di wilayah ASEAN ini sendiri akan berlangsung di Provinsi Bangka Belitung. Direncanakan, acara seminar akan mengundang kehadiran Mitra Wicara, yaitu negara-negara maju yang telah puluhan tahun menjalankan PLTN, untuk membagikan pengalaman memanfaatkan teknologi nuklir dalam membangkitkan energi.

Sementara itu, pemilihan Bangka Belitung sebagai lokasi seminar PLTN ASEAN bukannya tanpa alasan kuat. Proponen pemerintahan daerah ini sendiri menunjukkan semangat untuk mendirikan PLTN di wilayahnya, karena melihat visi manfaat ekonomis pembangunan infrastruktur energi bagi masyarakat setempat [lihat Berita Kegiatan Ristek “Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Terus Mendesak Pembangunan PLTN”].

Teknologi nuklir dianggap sangat bermanfaat bagi perlindungan alam, karena tidak memberikan polusi gas rumah kaca. Selain sebagai perangkat pembangkit listrik, PLTN dapat digunakan sebagai infrastruktur penghilang kadar garam dalam air laut (desalinator), dan unit pengumpul hidrogen yang kian populer di seluruh dunia karena sangat ramah lingkungan.

Indonesia Kepala TWG-NPP ASEAN

Acara rapat persiapan tadi masih akan dilanjutkan dengan pertemuan serupa, untuk mengumumkan rencana langkah riil Indonesia bagi sosialisasi teknologi PLTN di Asia Tenggara. Indonesia bersama Viet Nam merupakan ketua dalam Kelompok Kerja Teknis PLTN (“Technical Working Group NPP” atau TWG-NPP) di lingkungan ASEAN.

Pada Agustus 2008, Ristek pernah menyelenggarakan pertemuan kelompok kerja PLTN. Viet Nam kemudian menyelenggarakan kegiatan lanjutannya di tahun 2009, sebelum ASEAN kembali mempercayakan Indonesia menjadi tuan rumah.

TWG-NPP adalah suatu badan khusus ASEAN yang mengkomunikasikan seluruh aspek iptek PLTN untuk menopang program nuklir. Lewat badan ini, sesama negara anggota saling membagikan seluruh postur kemampuan iptek nuklir, yang dipergunakan dalam kebijakan publik PLTN.

Pertemuan kelompok kerja PLTN akan didahului oleh acara seminar PLTN di Bangka Belitung. Kegiatan seminar dan pertemuan kelompok kerja PLTN ASEAN akan diakomodir oleh Asisten Deputi (AD) Jaringan Penyedia serta AD Jaringan Iptek Internasional, dan didukung oleh Sekretariat ASEAN. (ristek.go.id)

Advertisements