PANGKAL PINANG, KOMPAS.com – Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) mengalokasikan Rp 50 miliar untuk studi kelayakan pembangunan PLTN di Kepulauan Bangka Belitung. Lembaga itu juga mempertimbangkan kerjasama dengan Universitas Bangka Belitung untuk menyiapkan tenaga ahli.

Kepala BATAN, Hudi Hastowo mengatakan, alokasi itu setara 1/8 anggaran BATAN untuk tahun 2011. Anggaran studi kelayakan itu untuk memantapkan rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Kepulauan Bangka Belitung (Babel). “PLTN di Babel akan jadi PLTN pertama di Indonesia,” ujarnya di Pangkal Pinang, Senin (28/2/2011).

BATAN juga akan mempertimbangkan kerja sama dengan Universitas Bangka Belitung untuk menyiapkan tenaga teknis dan tenaga ahli PLTN di Babel. Dengan demikian, warga Babel bisa terlibat dalam pengoperasian PLTN. “Semua itu komitmen BATAN untuk pengembangan energi nuklir di Babel,” ujarnya.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Babel berambisi membangun dua PLTN dalam 12 tahun ke depan. Reaktor akan dibangun di Tanjung Kerasak, Bangka Selatan dan Muntok, Bangka Barat. Uji tapak sudah dilakukan di lokasi yang direncanakan sebagai tempat pembangunan PLTN.

Bangka dinilai layak untuk PLTN karena relatif bebas dari bencana alam yang membahayakan PLTN seperti gempa, letusan gunung berapi, dan tsunami. Sampai saat ini, tiga jenis bencana itu tidak pernah terjadi di Bangka.

Thorium Babel Tidak Untuk PLTN
Deposit Thorium yang banyak di Kepulauan Bangka Belitung tidak akan dijadikan bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir yang direncanakan dibangun di Bangka. Bahan bakar akan dibeli dari luar negeri.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Hudi Hastowo mengatakan, ada beberapa panduan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Salah satunya memakai teknologi yang sudah teruji aman paling sedikit tiga tahun berturut-turut.

“Reaktor thorium untuk masa depan. Reaktor itu sedang dalam tahap pengembangan antara lain oleh India dan Amerika,” ujarnya di Pangkal Pinang, Senin (28/2/2011).

Sedangkan PLTN di Babel, akan memakai bahan bakar uranium. Pengadaan uranium rencananya akan dibeli dari luar negeri. “Bisa pakai kontrak jangka panjang untuk keamanan (pasokan). Ada mekanisme fuel bank bagi negara-negara yang mengoperasikan PLTN,” tuturnya.

Meskipun akan membeli, Hudi memastikan BATAN menguasai teknologi pembuatan bahan bakar reaktor. Hal itu antara lain karena BATAN sudah mengoperasikan reaktor riset di Serpong dan Yogyakarta.

Advertisements