TEMPO Interaktif, BANDUNG:— Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Hudi Hastowo memastikan rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di kawasan semenanjung Muria, Jepara, Jawa Tengah, dijadwal ulang. Alasannya, sampai saat ini belum ada kejelasan lokasi pembangunan PLTN. ”Dulu target 2016 beroperasi. (Itu) sangat tidak mungkin karena sekarang memilih PLTN saja belum jelas,” katanya di Bandung, Jumat (20/3).

Namun begitu, kata Hudi, sejumlah kajian di tapak Muria masih dilakukan. Diantaranya mendata perubahan iklim di kawasan itu, seismik, dan kekuatan struktur geologi dengan cara pengeboran. Jika terbukti daerah tersebut dekat dengan patahan lempeng bumi dan rawan gempa, kemungkinan pemerintah akan membatalkan rencana membangun PLTN di sana.

Pilihan lainnya, lokasi tetap di semenanjung Muria dan bangunan dirancang agar tahan gempa. Tim kajian akan menghitung kemampuan tanah untuk mempercepat satuan waktu pelepasan gempa itu. ”Gempa yang ada harus di dalam kerangka reaktor itu aman,” ujarnya. Untuk lebih memastikannya, BATAN telah meminta kesediaan badan tenaga nuklir internasional untuk memberikan penilaian dengan kunjungan langsung ke tapak Muria pada 2010.

Selain kawasan Gunung Muria, Jepara, Jawa Tengah, pemerintah kini masih mencari kemungkinan lokasi lain untuk pembangunan PLTN seperti di Banten. Pemerintah menetapkan lokasi-lokasi PLTN yang harus banyak dibangun untuk mengatasi krisis energi berada di Pulau Jawa. Alasannya, konsumsi listrik di Jawa, Bali, dan Madura sangat tinggi karena padatnya penduduk.

Meskipun demikian, kata Hudi, sejumlah kepala daerah seperti dari Bangka Belitung dan Kalimantan Timur, telah meminta agar PLTN dibangun di wilayahnya. Alasannya, pertambahan penduduk bakal menguras energi listrik sehingga perlu diantisipasi dari sekarang. ”Bangka Beliting tidak punya sumber daya, tapi berkembang dan butuh energi besar,” katanya.

ANWAR SISWADI

Advertisements