http://www.sinarharapan.co.id

Jepara – Lebih dari 1.500 warga Kecamatan Balong, Jepara, Sabtu (25/4), berunjuk rasa menolak rencana pemerintah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir di desa mereka.
Aksi itu sekaligus untuk memperingati tragedi meledaknya reaktor nuklir Chernobyl, Ukraina, pada 26 April 1986 yang menyebabkan 9.000 orang terkena radiasi nuklir.
Warga Balong itu memulai aksi dari Proliman Balong. Mereka kemudian naik puluhan truk menuju jalan raya jurusan Kota Jepara. Di sana, mereka membentangkan spanduk sepanjang 500 meter. Di spanduk itulah warga melakukan cap jempol darah dan tanda tangan untuk menolak rencana pemerintah membangun PLTN di Semenanjung Muria.
Aksi penolakan terhadap PLTN itu sudah terjadi berkali-kali sejak zaman pemerintahan Orde Baru. Aksi itu makin marak pada masa Reformasi. Bahkan, pada 27 Februari 2008, ribuan warga menutup pintu gerbang Kantor Badan Tenaga Nuklir Nasional di Desa Balong dengan tembok permanen setinggi 3 meter.
Penolakan terhadap PLTN itu juga diperkuat dengan fatwa haram yang dikeluarkan oleh para ulama dalam pertemuan di Jepara pada tahun 2008.
”Kami hanya ingin menunjukkan kepada pemerintah, masyarakat, dan seluruh dunia bahwa warga Jepara memang menolak PLTN. Kami sepakat menolak PLTN itu sejak dulu hingga sekarang,” kata Sardi Elbayano dari Koalisi Rakyat dan Mahasiswa Tolak PLTN.
Massa membawa spanduk 500 meter itu ke Kantor Kecamatan Balong. Kemudian, spanduk itu akan dibawa ke Kota Jepara agar seluruh masyarakat bisa mengetahui aksi penolakan PLTN tersebut.
Pemerintah berencana membantun PLTN di Balong Jepara dan akan beroperasi 2016. Untuk mencapai target itu, tahun ini pembangunan PLTN sudah harus memasuki tahap tender, kemudian 2010 tahap konstruksi. Kapasitas PLTN tersebut sekitar 4-6 megawatt, ditargetkan mampu memenuhi kebutuhan listrik nasional sebesar 5 persen.
(su herdjoko)

Advertisements