Greenpeace activists in Brazil

Greenpeace activists campaigning against nuclear power in Brazil
25 April 2009 17:52 WIB
http://www.mediaindonesia.com

JEPARA–MI: Greenpeace bekerja sama dengan Muria Institute, Sabtu (25/4), meluncurkan komik antinuklir atau ‘Nuclear Meltdown – A Message From the Darkness’ untuk mengingatkan semua orang akan bahaya nuklir.

Sebelum dilakukan peluncuran komik antinukir, yang bertempat di Gedung PCNU Jepara di Jalan Pemuda, dilakukan diskusi yang mengupas tentang bahaya nuklir, termasuk tragedi Chernobyl 26 April 1986. Setelah diskusi, seluruh peserta diskusi ditantang untuk menjawab sejumlah pertanyaan tentang nuklir.

Lma pertanyaan tentang nuklir, yakni tentang kapan tragedi Chernobyl terjadi, sejumlah daerah di Indonesia yang akan menjadi rencana pemerintah membangun PLTN, jumlah korban Chernobyl, hingga penemu energi atom berhasil terjawab. Peserta diskusi yang berhasil menjawab masing-masing pertanyaan mendapatkan hadiah kaus anti nuklir.

Kemudian dilakukan pemutaran film tentang dampak radiasi nuklir di Kazakstan selama 10 menit. Film berdurasi pendek itu memprelihatkan sejumlah warga yang mengalami dampak radiasi nuklir, seperti kondisi tubuh yang menyusut, menderita tumor otak, pertumbuhan melambat, sakit jiwa, menderita leukemia, dan penyakit ginjal, serta sejumlah penyakit yang membahayakan lain.

Menurut juru kampanye regional nuklir Greenpeace Asia Tenggara, Tessa de Ryck peluncuran komik ini sekaligus untuk memperingati hari tragedi Chernobyl sebagai bencana nuklir terburuk sepanjang sejarah yang terjadi pada 1986. Selain itu, kata dia, peluncuran komik itu juga merupakan satu dari serangkaian acara yang diselenggarakan oleh kelompok lokal Jepara yang menentang rencana pemerintah membangun PLTN di Jateng.

“Komik ini membidik kaum muda di kawasan Asia Tenggara, termasuk di Jepara. Bahkan, beberapa waktu sebelumnya diluncurkan di Filipina,” ujarnya. Ia menganggap, kaum muda perlu disadarkan akan bahaya dari penggunaan tenaga nuklir karena generasi mereka yang paling merasakan dampak buruk dari penggunaan teknologi ini.

Tessa menyatakan prihatin atas publikasi yang salah terhadap tenaga nuklir yang dianggap sebagai salah satu solusi untuk perubahan iklim dan cara untuk memenuhi kebutuhan energi dunia yang semakin meningkat. “Hal ini, biasanya dilakukan oleh konsultan yang didanai oleh industri nuklir. Secara global, industri ini mencoba mempengaruhi generasi muda agar melihat kesan tenaga nuklir lebih positif setelah dua dekade selalu menuai penolakan,” ujarnya.

Namun, masalah utama tenaga nuklir ini tidak pernah berubah dari waktu ke waktu, yakni soal keamanan mengingat tidak ada cara yang aman untuk menyimpan limbah nuklir. “Dengan biaya tinggi dan waktu perencanaan dan pembangunan, reaktor nuklir bukanlah solusi untuk memecahkan masalah perubahan iklim,” ujarnya.

“Solusi terbaik untuk mengurangi gas emisi rumah kaca sebagai penyebab perubahan iklim adalah dengan mengalihkan invstasi dari teknologi berbahya seperti batu bara, minyak, dan nuklir, menjadi energi terbarukan yang bersih, seperti panas bumi dan tenaga angin, demi memberikan generasi muda masa depan yang lebih bersih dan aman,” tandasnya.

Koordinator Jaringan Lestari Alam (Jala) Muria, Lilo Sunaryo mengatakan, ada beberapa kebohongan mengenai tragedi Chernobyl antara lain pernyataan bencana serupa tidak akan terjadi lagi, karena teknologi nuklir sudah lebih aman. “Berikutnya, soal bencana Chernobyl diakibatkan oleh rezim Soviet,” ujarnya.

Ia menegaskan, tenologi nuklir lebih banyak memberikan dampak negatif dibandingkan dampak positifnya. Bahkan, radiasi nuklir bisa dibawa oleh tiupan angin yang dimungkinkan berdampak pada daerah yang terlewati tiupan angin tersebut.

Selain itu, radiasi tersebut juga mempengaruhi kaum perempuann yang sedang mengandung terutama pada bagian reproduksi. “Dampak yang akan terjadi biasanya adalah pertumbuhan janin menjadi tidak sempurna, karena ada mutasi gen,” ujarnya. (Ant/OL-06)

Advertisements