Ribuan Warga Balong Demo Tolak PLTN


SM/Ruli Aditio AKSI TEATERIKAL: Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jateng menggelar aksi demo menolak PLTN pembangunan PLTN di semenanjung Muria. Aksi diwarnai dengan orasi dan teaterikal di alun alun Kudus, Senin (18/6).(30)
http://www.jawapos.co.id
JEPARA – Ribuan warga Desa Balong, Kecamatan Kembang, Jepara mulai dari anak-anak hingga dewasa kemarin menggelar aksi demonstrasi menolak rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria.

Aksi tersebut dilakukan dengan berjalan kaki mulai Desa Balong sampai kantor Kecamatan Kembang yang berjarak sekitar lima kilometer dengan berjalan kaki, kemarin (25/04).

“Warga Balong selalu menyatakan sikap penolakan untuk rencana pembangunan PLTN, kapanpun!” ujar Sardi Elbayanu, Perwakilan dari Koalisi Rakyat dan Mahasiswa Tolak PLTN (Kraton).

Sardi mengatakan, bagaimanapun upaya yang dilakukan Badan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) untuk mendekati masyarakat tidak akan mengubah sikap masyarakat untuk menolak PLTN dan untuk berpihak pada Batan.

Menurutnya, PLTN tetap berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Sedangkan kelangsungan hidup manusia dan tanaman-tanaman yang ada di sana masih sangat dibutuhkan untuk menyambung kehidupan yang ada di bumi.

Sementara itu, Ketua PC NU Jepara Nuruddin Amin dalam orasinya menyatakan, Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) sebagai lembaga yang mewakili pemerintah dalam kontrak kerjasama pembangunan PLTN Muria kini mulai melakukan langkah-langkah pendekatan secara langsung kepada masyarakat, seperti halnya denagn memberikan beasiswa, bantuan ternak, pertanian, dan lain-lain.

Ia memastikan masyarakat Balong yang telah komitmen untuk menolak PLTN tidak akan goyah denagn iming-iming tersebut. Bahkan, untuk menegaskan hal itu, seluruh warga Balong siap membuat kesepakatan cap jempol darah.

Namun sayangnya, cap jempol darah yang rencananya akan dilakukan di atas spanduk sepanjang 15 meter, urung dilakukan. Sebab, pihak medis tidak bisa menyiapkan jarum sebanyak jumlah warga yang ikut demo.

Sehingga, penggunaan jarum yang nantinya bergantian dikhawatirkan malah berbahaya. “Untuk itu, cap jempol darah kita ganti dengan tanda tangan warga,” ujar Nuruddin.

Rencananya, spanduk akan dibawa ke hadapan bupati. “Perwakilan dari kami akan sowan ke pendapa untuk membawa spanduk dan ditunjukkan ke bupati,” tukasnya.

Marem Gelar Lomba Poster anti-PLTN

Dari Kudus, LSM Masyarakat Reksa Bumi (Marem) mulai kemarin menggelar poster anti-PLTN di Plasa Kudus. Poster-poster itu merupakan kiriman lomba poster anti-PLTN yang diikuti belasan pelajar dan mahasiswa.

“Kami menerima kiriman lebih dari 20 poster. Peserta berasal dari beberapa daerah seperti Kudus, Pati, dan sekitarnya,” ujar Sekretaris Marem Suparmin Keceng saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (24/4) lalu.

Selain di Kudus, Marem juga menyelenggarakan lomba serupa di Jepara bekerjasama dengan Jalamuria. Keceng menjelaskan, acara tersebut berusaha menampung kreativitas kaum muda dalam mengutarakan aspirasinya tentang penolakan rencana pembangunan PLTN. Kemarin, dewan juri yang terdiri dari jurnalis dan perupa melakukan penilaian terhadap karya-karya tersebut.

Salah seorang juri Bambang Dalyoko menegaskan, cara bertutur poster berbeda dengan media lain. Poster lebih membutuhkan bahasa yang ringkas dengan pesan yang jelas. Meski demikian, tidak tertutup kemungkinan untuk memakai gambar yang bakal menggelitik mereka yang melihat.

Secara umum, Bambang melihat masih banyak yang menampilkan poster serupa dengan karikatur. Padahal, dengan tidak adanya batasan media dari panitia, peserta semestinya bisa lebih kreatif dengan menggunakan beraneka sumber. Sementara, salah satu hal yang harus diingat yakni pengaturan komposisi antara gambar dengan pesan yang harus diatur agar seimbang.

Hasil penilaian dewan juri sendiri akan diumumkan Sabtu (2/5) mendatang di tempat pameran. Keceng juga menginformasikan, Minggu (26/4) pukul 10.00 nanti akan ada beberapa penyair muda Kudus yang ikut meramaikan pameran poster tersebut. Mereka akan membacakan beberapa puisi tentang lingkungan termasuk keprihatinan terhadap rencana pembangunan PLTN. (sep/mg1/nto)

Advertisements