http://www.suarapembaruan.com

AP/Hasan Sarbakhshian

Foto yang dibuat Rabu (25/2) menunjukkan gedung reaktor (tengah) terlihat mendominasi pusat pembangkit listrik tenaga nuklir Iran di Bushehr.

[BUSHEHR] Pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang pertama mulai diuji coba, Rabu (25/2). Uji coba dilakukan di tengah keprihatinan mendalam komunitas internasional akan ambisi nuklir negara republik Islam tersebut. Teheran menyebutkan, proyek yang lama tertunda tersebut dapat beroperasi dalam hitungan bulan.

Sejumlah pejabat Iran dan Rusia, yang terlibat di dalam pembangunan pembangkit listrik tersebut selama 14 tahun terakhir, memantau secara cermat dimulainya uji coba pembangkit yang berada di Bushehr, sebuah pelabuhan yang berada di Teluk.

“Uji coba akan berlangsung antara empat dan enam kali, dalam kurun waktu tujuh bulan,” ungkap Direktur Organisasi Energi Atom Iran Gholam Reza Aghazdeh dalam konferensi pers di Bushehr.

“Jika uji coba berlangsung mulus, maka peluncuran Bushehr dapat dilakukan lebih awal,” kata Aghazdeh.

Ia menuturkan, Iran kini juga mengoperasikan 6.000 mesin sentrifugal untuk memperkaya uranium. Dengan aktivitas pengayaan tersebut, Iran jelas menampik seruan internasional yang mendesak dihentikannya proses nuklir yang terbilang sensitif dan menjadi inti kekhawatiran Barat, bahwa Iran secara diam-diam berupaya membangun senjata nuklir.

“Kami memiliki 6.000 mesin sentrifugal yang sudah beroperasi dan kami berencana untuk meningkatkan jumlah tersebut. Dalam lima tahun ke depan, kami berencana memiliki 50.000 mesin sentrifugal,” ungkap Aghazdeh kepada para wartawan.

Iran sudah berkali-kali menolak seruan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), di mana Rusia menjadi salah satu anggota tetapnya, agar aktivitas pengayaan uranium segera dihentikan. Desakan dewan tidak kunjung dihiraukan, meskipun Iran sudah dijatuhi tiga sanksi akibat menolak desakan penghentian aktivitas pengayaan.

Laporan IAEA

Badan Energi Atom Internasional (IAEA), yang merupakan badan pemantau nuklir PBB, dalam sebuah laporan pekan lalu, menyebutkan, perluasan aktivitas pengayaan uranium Iran sedang diperlambat. Sejauh ini, sebanyak 3.964 mesin sentrifugal yang dimiliki Iran sudah aktif beroperasi di Natanz.

Direktur Badan Nuklir Rusia, Sergei Kiriyenko, yang berkunjung ke Iran, mengumumkan, pembangunan pembangkit Bushehr berkapasitas 1.000 megawatt telah rampung dikerjakan. Tetapi, kata Kiriyenko, Rusia akan tetap terlibat selama satu tahun setelah pembangkit tersebut resmi dioperasikan.

“Kami telah mencapai kesepakatan untuk membuat usaha bersama (joint venture) mengoperasikan pembangkit tersebut,” ungkap Kiriyenko. Ia mengimbuhkan, dua belah pihak juga sedang membicarakan penandatanganan kontrak pasokan bahan bakar nuklir dari Rusia selama kurun waktu sepuluh tahun.

Kendati menjadi negara produsen minyak mentah terbesar keempat di dunia dan punya cadangan gas alam terbesar kedua di dunia, Iran bersikeras, negaranya membutuhkan pembangkit listrik tenaga nuklir. [AFP/E-9]

Advertisements