http://www.kr.co.id

Dihantam 3 Krisis, Nasib Nelayan Kian Terpuruk
21/11/2008 08:01:08

YOGYA (KR) – Nasib nelayan budidaya maupun tangkap di Indonesia semakin terpuruk. Setelah dihantam dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan krisis energi, mereka dihadapkan pada perubahan iklim yang mengakibatkan nelayan tidak berani melaut karena gelombang tinggi. Nelayan saat ini juga dihadapkan pada dampak krisis finansial global yang berakibat menurunnya permintaan pasar ikan di dunia.

“Namun dari tiga krisis itu, dampak yang paling besar pengaruhnya yakni krisis energi. Sebab, kenaikan harga BBM 2005 dan 2008 telah mengakibatkan biaya operasional semakin tinggi, sehingga memaksa sebagian nelayan beralih profesi dan kehilangan mata pencaharian. Dari sekitar 9,6 juta nelayan di seluruh Indonesia, kini hanya sebagian saja yang masih beroperasi,” ujar Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Ir H Winarno Tohir dalam forum Indonesian Aquaculture 2008 di Hotel Inna Garuda Yogyakarta, Kamis (20/11).
Didampingi Ketua Umum KTNA Jawa Tengah Siti Yamroh Suudi, sejumlah Ketua Umum KTNA Kabupaten di Jateng serta pakar energi Iwan Kurniawan, Winarno Tohir juga menyoroti kebijakan pemerintah dalam pengembangan energi alternatif yang tampak kurang memperhatikan aspirasi petani dan nelayan, seperti dalam hal pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Hal senada disampaikan Siti Yamroh, di Jateng pun sebagian nelayan kini tidak lagi melaut. Tidak hanya di sepanjang Pantai Utara, namun kondisi serupa juga terjadi di Pantai Selatan Jateng.
Para nelayan itu juga mengeluhkan kebijakan pemerintah mengembangkan PLTN di Jepara, karena dikhawatirkan akan semakin merugikan masa depan nelayan. Karena itu, Winarno Tohir maupun Siti Yamroh menolak dengan tegas rencana pembangunan PLTN.
Winarno mengatakan, seharusnya pemerintah lebih memberdayakan potensi energi alternatif lainnya sebagai pengganti BBM dibandingkan PLTN. Alasan penolakan petani dan nelayan terhadap pembangunan PLTN di Semenanjung Muria ini menurut Siti Yamroh, antara lain karena pembangunan PLTN menggunakan lahan pertanian produktif sehingga bakal mengurangi lahan pertanian yang ada.
“Jika benar-benar dibangun, berapa ribu keluarga petani dan nelayan yang kehilangan mata pencaharian, padahal mereka tidak memiliki keahlian lain. PLTN juga lebih besar bahayanya dibandingkan manfaatnya,” tandas Siti Yamroh.
Sedang Iwan Kurniawan menjelaskan, energi nuklir memang banyak manfaatnya, tetapi khusus untuk PLTN manfaatnya hanya sebagai pembangkit listrik saja. Selain itu, yang lebih besar adalah bahayanya. Sampai sekarang pun belum ada ilmuwan yang bisa menetralkan limbah PLTN.          (San)-s

Advertisements