Dibawah ini adalah kumpulan berita tentang krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat yang kemudian berimbas ke seluruh dunia. Mengapa hal ini menarik? karena imbasnya mendunia, disini kita juga bisa menyaksikan bagaimana dinasti Bush ( Bush Junior – Presiden AS) bermuka dua dalam usahanya menyelamatkan ekonomi negaranya.

Saya mengucapkan terima kasih kepada Kompas.com, atas kelengkapan dkumentasinya, semoga data ini berguna bagi yang membutuhkan…Amien.

sumber : http://www.kompas.com

Barclays Beli Divisi Perbankan Lehman
Rabu, 17 September 2008 | 11:09 WIB

NEW YORK, SELASA – Barclays PLC, Selasa (16/9) waktu setempat, setuju untuk membeli divisi perbankan Lehman Brothers, yakni Lehman’s North American senilai 250 juta dollar AS tunai.

Bank asal Inggris itu juga membeli markas Lehman di New York dan dua pusat data di New Jersey senilai 1,5 miliar dollar AS.

Barclays menyatakan akan mengakuisisi operasi Lehman North American, termasuk unit bank investasi, riset, perdagangan, dan penjualan saham. Dengan penjualan itu, sekitar 10.000 karyawan Lehman akan terkena PHK.

Barclays dan Lehman mencapai kesepakatan setelah empat jam pernyataan bangkrut perusahaan investasi terbesar keempat di AS itu dikumandangkan di ruangan pengadilan pailit AS Manhattan. Kesepakatan ini masih memerlukan persetujuan dari pengadilan kepailitan.

Perusahaan induk Lehman Brothers Holdings Inc menyatakan bankrut pada Senin (15/9) waktu setempat setelah tidak bisa mendapatkan pendanaan segar untuk menutup balance sheet-nya.

Sementara itu, eksekutif Lehman masih terus melakukan negosiasi untuk menjual divisi investasinya. Divisi tersebut menurut analis Wall Street bernilai sekitar 10 miliar dollar AS.

Menurut sumber, seperti dikutip AP, Lehman fokus untuk mencoba menjualnya kepada perusahaan saham swasta. “Penjualan tersebut diharapkan pada hari-hari ini,” ujar sumber. EDJ

Rontoknya Institusi Wall Street
Jumat, 19 September 2008 | 08:57 WIB

Tsunami finansial. Demikian kalangan pasar finansial menggambarkan drama rontoknya sejumlah raksasa bank investasi dan lembaga keuangan terkemuka Wall Street dalam beberapa hari terakhir.

Seperti mimpi buruk. Dalam waktu singkat, kondisi pasar finansial AS seperti dijungkirbalikkan dan tersapu habis. Lehman Brothers, yang merupakan perusahaan sekuritas keempat terbesar di AS dan salah satu tertua di Wall Street, harus mengaku bangkrut. Merrill Lynch harus merelakan diri diakuisisi oleh perusahaan yang menjadi rivalnya selama ini, Bank of America.

Pemerintah juga dipaksa menalangi dan Federal Reserve harus menjadi lender of resort (penjamin likuiditas terakhir perbankan) sejumlah raksasa bank investasi, lembaga sekuritas atau perusahaan asuransi, dan penjamin kredit yang rontok satu per satu, mulai dari Bear Stearns, Fannie Mae dan Freddie Mac, IndyMac, hingga American International Group (AIG), karena alasan risiko sistemik. UBS, bank tabungan, dan bank kredit terbesar Washington Mutual juga di ujung tanduk. Hingga sekarang belum ditemukan investor penyuntik modal.

Dua bank investasi yang masih tersisa, Morgan Stanley dan Goldman Sachs, kemungkinan juga akan dipaksa merger dengan bank lain guna menghindari nasib serupa. AS harus menelan ludah sendiri. Negara adidaya ekonomi yang sebelumnya menolak masuknya investasi BUMN milik pemerintah asing (sovereign wealth fund/SFW) ke lembaga keuangan dan sektor strategis lain di negaranya—karena desakan sentimen nasionalisme di dalam negeri—itu kini harus mengemis kepada bank-bank asing untuk mengakuisisi atau menjadi partner merger bank-bank nasionalnya karena krisis likuiditas yang dihadapi.

Keruntuhan lembaga-lembaga keuangan besar Wall Street—sebagai rentetan dari krisis kredit macet perumahan yang sudah berlangsung sejak Juli 2007— itu memicu kekhawatiran akan terjadinya efek domino yang menuntun ke spiral kebangkrutan seluruh sistem finansial global.

Di Inggris, sejauh ini sudah ada dua bank Inggris yang kolaps, HBOS dan bank kredit Halifax Bank. Keruntuhan fondasi keuangan Wall Street juga berdampak sangat destruktif pada perekonomian AS, pasar finansial, dan perekonomian global.

Pasar saham mengalami kejatuhan terbesar sejak insiden serangan teroris ke World Trade Center, 11 September 2001. Pencapaian 10 tahun terakhir pun lenyap dengan indeks Standard & Poor’s turun di bawah level tahun 1998. Hingga kemarin, saham dari berbagai sektor secara accross the board terus berjatuhan, diikuti indeks di bursa-bursa saham di seluruh dunia.

Kalangan analis mengingatkan, krisis memasuki periode yang semakin berbahaya dengan nyaris lumpuhnya pasar surat utang karena investor di berbagai penjuru dunia yang panik berebut memindahkan uangnya ke instrumen yang lebih aman, seperti T-bills dan emas.

Krisis likuiditas, yang dikombinasikan dengan krisis kepercayaan juga membuat suku bunga pinjaman bagi sektor korporasi membubung tinggi, membuat dunia usaha kesulitan membiayai kegiatan operasi sehari-hari mereka. Suku bunga pinjaman jangka pendek antarbank (overnight) sempat melonjak hingga 8,5 persen, Kamis, sebelum turun kembali ke 2 persen pascaintervensi bank-bank sentral negara maju.

Perkembangan situasi di Wall Street dari jam ke jam dan dari hari ke hari yang sangat cepat dengan efek ramifikasi yang luas ke seluruh penjuru dunia membuat tak ada seorang pun berani meramalkan apa yang akan terjadi ke depan.

Beberapa analis, termasuk mantan Pemimpin Fed Alan Greenspan memprediksi bakal ada lagi perusahaan finansial besar lain di Wall Street yang akan kolaps.

Bangkrut

Untuk meredam gejolak, Fed dan pemerintah sudah mengambil sejumlah langkah untuk memulihkan kepercayaan pasar. Selain memfasilitasi pengambilalihan lembaga keuangan yang kolaps oleh perusahaan lain, Fed juga memperluas jenis kolateral untuk pinjaman Fed. Dengan fasilitas ini, dimungkinkan lembaga keuangan menjaminkan sahamnya untuk mendapatkan fasilitas pendanaan darurat Fed.

Pemerintah juga akan menambah jumlah surat berharga pemerintah dalam lelang berkala yang dilakukan pemerintah. Dengan tekanan, Fed juga berhasil memaksa 10 bank terbesar berkolaborasi menghimpun dana senilai 70 miliar dollar AS sebagai sumber likuiditas darurat yang bisa digunakan lembaga keuangan yang kesulitan likuiditas jangka pendek. Komisi Sekuritas dan Saham juga mengeluarkan aturan yang melarang praktik transaksi short selling.

Namun, sejauh ini semua upaya ini gagal meyakinkan pasar. Kejatuhan harga saham baru tertahan setelah kalangan bank sentral negara maju melakukan intervensi dengan memompakan likuiditas senilai 180 miliar dollar AS ke pasar uang global dalam upaya melonggarkan krisis likuiditas yang dihadapi Wall Street. Namun, para analis meyakini efeknya hanya akan sementara.

Rontoknya institusi Wall Street menunjukkan kerapuhan fondasi hegemoni sistem kapitalisme AS dengan Wall Street sebagai pilar utamanya. Krisis sekarang ini adalah akibat kombinasi dari moral hazard yang luar biasa di kalangan industri keuangan Wall Street dan sikap menutup mata di kalangan otoritas pasar finansial, otoritas moneter (Fed), dan juga pemerintah yang selama ini asyik bermain mata dengan para big boy di Wall Street. (TAT)

http://www.kompas.com

Akhirnya Amerika Membentuk BPPN

Senin, 22 September 2008 | 03:00 WIB

Setelah indeks saham terjun bebas selama beberapa bulan, Jumat pekan lalu pasar saham di seluruh dunia naik tajam karena investor pasar keuangan mendengar rencana Pemerintah Amerika Serikat akan membentuk lembaga yang mengambil alih tagihan kredit macet di perbankan AS. Lembaga tersebut akan mengambil alih tagihan macet kredit properti sampai jumlah 700 miliar dollar AS (produk domestik bruto/PDB Indonesia sekitar 490 miliar dollar AS). Bentuk lembaga ini semacam Badan Penyehatan Perbankan Nasional yang pernah dibuat Pemerintah Indonesia pada waktu krisis keuangan tahun 1998.

Ketamakan pelaku pasar keuangan telah memakan dirinya sendiri. Liberalisasi pasar keuangan tanpa rambu kehati-hatian telah menelan banyak korban. Krisis keuangan global yang kita hadapi saat ini adalah krisis yang serius, bukan suatu masalah yang bisa selesai dalam waktu tiga bulan. Pada waktu kita mengalami krisis ekonomi Asia pada tahun 1998, ekonomi dunia tidak terpengaruh. Namun, kali ini yang sakit adalah mesin ekonomi dunia (AS) sehingga dampaknya mengglobal.

Tanpa kita sadari, gejolak ini sudah berlangsung lebih dari satu tahun, sejak Juli 2007. Bermula dari timbulnya kredit macet di portofolio subprime mortgage, kerugian sistem perbankan global per kuartal II-2008 sudah mencapai 500 miliar dollar AS. Dampak dari krisis keuangan saat ini telah membuat ekonomi dunia kehilangan mesin pemberi kredit. Bank internasional, seperti Citigroup, UBS, Merril Lynch, dan Morgan Stanley, rugi puluhan miliar dollar AS sehingga pasti mereka tidak berminat menyalurkan kredit sebelum ada tambahan modal.

Pada awalnya, ekonomi Asia dianggap tidak akan terkena dampak krisis di AS karena porsi ekspor negara-negara Asia ke AS semakin menurun dibandingkan satu dekade lalu. Namun, pada era globalisasi, gerak ekonomi dunia bukan hanya ditentukan oleh sektor riil, tetapi sangat ditentukan oleh aliran modal di pasar keuangan.

Kerugian bank-bank internasional akibat krisis subprime mortgage pada awalnya menimbulkan penurunan kurs dollar AS terhadap mata uang euro dan yen serta merontokkan harga saham di AS. Jatuhnya valuasi saham di AS selanjutnya memicu penurunan harga saham di seluruh dunia karena investor khawatir pelemahan ekonomi Amerika akan berdampak pada pelambatan ekonomi dunia.

Masalah makin rumit, penurunan harga saham di negara berkembang sering kali disertai pelarian modal ke instrumen yang dianggap kurang berisiko (misalnya surat utang negara maju atau emas). Akibatnya, kurs mata uang negara berkembang melemah dan bank sentral harus menaikkan suku bunga.

Lari ke komoditas

Situasi tahun 2008 sangat kompleks. Demi menghindari resesi, bank sentral Amerika menurunkan bunga secara drastis dari 5,25 persen ke 2,0 persen. Namun, di lain pihak, penurunan bunga dan penurunan kurs dollar AS membuat investor mencari kompensasi dengan membeli komoditas tambang dan pertanian. Akibatnya, harga komoditas melesat tajam, menimbulkan gelombang inflasi.

Inflasi di Indonesia tahun ini diperkirakan 12-13 persen. Akibatnya, bank-bank sentral di negara berkembang harus menaikkan suku bunga.

Teori penguatan harga komoditas tidak berlangsung lama. Pada akhirnya kita lihat bahwa melambatnya ekonomi dunia dan meredanya ketegangan geopolitik di Iran dan Irak menurunkan harga komoditas tambang (termasuk minyak bumi) dan pertanian. Hasil akhirnya, kerugian bertambah besar.

Usaha penyelamatan dilakukan bertubi-tubi. Amerika telah menurunkan suku bunga secara drastis dan mengucurkan likuiditas ke perusahaan sekuritas. Bank JP Morgan diminta mengambil alih perusahaan sekuritas Bear Stearns. Bank of America mengambil alih Merrill Lynch. Pemerintah AS terpaksa harus menyelamatkan lembaga kredit perumahan Fannie Mae and Freddie Mac yg mempunyai kewajiban 5 triliun dollar AS!

Pemerintah AS juga menyuntik likuiditas 85 miliar dollar AS ke asuransi jiwa AIG. Namun, sebagai peringatan kepada para spekulan, Pemerintah AS membiarkan Lehman Brothers bangkrut. Selanjutnya, bank sentral AS mengajak bank sentral Eropa dan Jepang mengucurkan likuiditas ke pasar uang. Tidak terpikir sebelumnya di benak kita bahwa AS dan Inggris sebagai pembela liberalisasi pasar akhirnya minggu lalu melarang investor keuangan melakukan aksi spekulasi short selling.

Apa yang harus dilakukan masyarakat Indonesia? Tanpa mengurangi optimisme, kita harus selalu waspada. Fundamental ekonomi kita masih cukup baik, pertumbuhan ekonomi tahun ini masih bisa sedikit di atas 6 persen. Likuiditas rupiah harus tersedia, tetapi jangan berlebihan agar tak dipakai spekulasi membeli mata uang asing. Bisa dimengerti jika BI belum mau menurunkan suku bunga sampai yakin inflasi turun ke arah 7 persen agar kepercayaan investor asing pembeli surat utang negara tetap terjaga. Namun, perbankan sebaiknya tak menawarkan bunga deposito yang terlalu tinggi karena akan menimbulkan persepsi negatif.

Kinerja ekspor komoditas diperkirakan melambat sehingga perlu diimbangi dengan penurunan impor minyak bumi dan bahan baku lain. Rencana ekspansi korporasi yang berlebihan harus dipikirkan pendanaannya karena suku bunga kredit sudah naik dan keran kredit dari luar negeri belum akan tersedia sampai setahun ke depan.

Fundamental anggaran pemerintah cukup baik, defisit anggaran diperkirakan turun ke 1,7 persen PDB dari rencana semula 2,1 persen persen PDB. Maka, pemerintah di pusat dan daerah harus mengompensasi pelambatan ekonomi dengan mempercepat penggunaan anggaran, tentu saja tanpa menerjang rambu-rambu good governance.

http://www.kompas.com

Buffet: “Bailout” Tidak Disetujui, AS Hadapi Krisis Keuangan Terbesar

var so = new SWFObject(‘http://tv.kompas.com/video/mediaplayer.swf’,’mpl’,’298′,’225′,’8′);so.addParam(‘allowscriptaccess’,’always’);so.addParam(‘allowfullscreen’,’true’);so.addVariable(‘height’,’225′);so.addVariable(‘width’,’298′);so.addVariable(‘file’,’rtmp://stream.kompas-tv.com:443/default/’);so.addVariable(‘image’,’http://tv.kompas.com/images/stories/080927_c_bisnis.jpg’);so.addVariable(‘id’,’080927_c_bisnis’);so.write(‘player’);

Senin, 29 September 2008 | 02:14 WIB

WASHINGTON, MINGGU -Miliuner Warren Buffet memperingatkan Kongres Amerika Serikat, bahwa jika mereka tidak menyetujui bailout, maka negara Uwak Sam itu akan menghadapi krisis keuangan terbesar dalam sejarah AS.

Pesiden AS George W Bush mengusulkan paket bailout 700 miliar dollar AS untuk menyelamatkan sistem keuangan AS yang tengah bergejolak. Paket tersebut memerlukan persetujuan Kongres. Namun dalam Kongres sendiri terjadi pertentangan.

Pernyataan chairman dan CEO Berkshire Hathaway Inc. itu muncul saat dimintai pendaptnya oleh pihak Kongres. ” Bufffet salah satu dari beberapa pengusaha yang dimintai pendaptnya,” sebut Senator Kent Contad dari Demokrat, seperti dikutip CNN, Sabtu (27/9) waktu setempat.

Buffet yang mempunyai kekayaan sekitar 50 miliar dollar AS, merupakan orang terkaya kedua di AS dalam daftar orang terkaya di AS dari majalah Forbes.

Sementara itu, seperti dilansir Reuters yang mengutip Senator dari Republik Barney Frank, Kongres akan melakukan debat pada Senin (29/9) waktu setempat, mengenai paket talangan tersebut.EDJ

Mirza Adityaswara Analis Perbankan dan Pasar Modal

Bailout Meragukan, Saham Asia Terkulai Lesu
Kesibukan pialang di bursa lokal Hong Kong pada 12 Juni 2008. Harga saham Hong Kong yang ditutup pada tanggal tersebut turun 1,3 persen karena adanya kekhawatiran pasar terhadap harga bahan bakar yang melambung tinggi di China.

Senin, 29 September 2008 | 15:38 WIB

TOKYO, SENIN – Nilai saham di bursa Asia melemah Senin (29/9) ini saat terdapat keraguan di kalangan investor terhadap prospek paket dana talangan senilai 700 miliar dollar AS dalam mengatasi krisis keuangan yang terjadi. Kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh keprihatinan pasar terhadap dampak keguncangan keuangan ekonomi global ke perusahaan ansuransi terkemuka dan bank Belanda-Belgia Fortis NV sehingga menyatukan Belgia, Belanda dan Luxembourg untuk menjanjikan dana talangan senilai 16 miliar dollar AS.

Indeks Nikkei 225 di Tokyo turun 1,3 persen serta ditutup pada 11.743,61 dan indeks Hang Seng turun 2,1 persen serta ditutup pada 18.286,90. Sejumlah nilai saham di Seoul, Singapura, serta Sydney juga merosot. Sementara indeks saham di Selandia Baru dan Filipina mengalami kenaikan secara marjinal dalam penutupan transaksi hari ini.

“Pasar dibuat khawatir oleh kemungkinan terbukanya kembali keguncangan ekonomi di Eropa akibat percikan krisis di bursa keuangan AS,” kata Castor Pang, seorang analis di Sun Hung Kai Financial, Hong Kong. Pernyataan Castor Pang ini ditujukan pada masalah keuangan yang dihadapi oleh Fortis NV.

Setelah beberapa hari terlibat perundingan intensif, Gedung Putih dan beberapa pemimpin Kongres menyetujui dana talangan senilai 700 miliar dollar AS untuk menggairahkan bursa keuangan AS. Kesepakatan itu dicapai setelah Kongres bersikeras menekankan dibentuknya pembagian pengawasan anggaran dengan pemerintah Presiden George W. Bush.
JIM
Sumber : AP

Efek Domino: Bailout Ditolak, Saham Dunia Terhentak
Selasa, 30 September 2008 | 19:01 WIB

NEW YORK, SELASA – Nilai saham dunia merosot setelah secara tak diduga Dewan Perwakilan Rakyat AS menolak paket dana talangan yang ditujukan untuk menyelamatkan bursa Wall Street. Nilai saham di bursa Wall Street turun hampir 778 poin dalam penutupan transaksi Senin (29/9), atau kemerosotan terbesar sejak serangan teroris di AS pada 11 September 2001.

Indeks Nikkei di bursa saham Tokyo merosot 4,12 persen dalam penutupan transaksi Selasa (30/9) ini setelah paket penyelamatan bursa keuangan AS itu ditolak. Nilai saham lainnya yang tercatat mengalami penurunan adalah indeks saham Australia yang turun 4,32 persen, indeks saham Hong Kong yang turun 1,4 persen, serta indeks saham Korea Selatan yang turun 0,72 persen.

Di London, indeks FTSE 100 sempat turun 2,3 persen menjadi 4705,5, poin terendah sejak Desember 2004, sebelum terkoreksi dan ditutup pada 4765. Sementara bursa saham Rusia menangguhkan perdagangan Selasa pagi waktu Moskow setelah sejumlah saham global merosot.

Sementara bank sentral Jepang, Bank of Japan, Selasa ini, menyuntikkan dana 19,23 miliar dollar AS ke bursa keuangan. Upaya itu dilakukan di tengah upaya sejumlah bank sentral dunia untuk menenangkan kekhawatiran pasar terhadap krisis keuangan global.

JIM
Sumber : CNN

Ancaman Bush ke Kongres jika Bailout Tak Diloloskan
Selasa, 30 September 2008 | 20:34 WIB

WASHINGTON, SELASA – Presiden AS George W. Bush menekankan keruntuhan ekonomi yang dialami oleh AS akan dahsyat dampaknya apabila Kongres tidak meloloskan usulan paket penyelamatan ekonomin pemerintahnya senilai 700 miliar dollar AS. Dalam pernyataannya di Washington, Selasa (30/9), Bush menekankan “Kongres harus bertindak” dan ekonomi AS bergantung pada “aksi menentukan itu.”

Pernyataan Bush itu disampaikannya sehari setelah paket usulan pemerintahnya itu ditolak oleh Dewan Perwakilan Rakyat AS. Bush menerangkan keinginannya meyakinkan penduduk di AS dan seluruh dunia bahwa tak diloloskannya paket ekonomi itu oleh DPR AS bukan akhir dari proses legislatif.

Bush menjelaskan masalah diloloskannya paket ekonomi itu hanyalah masalah kecil soal peralihan RUU menjadi undang-undang. Namun, Bush menekankan bahwa masalah besar yang dihadapi oleh AS adalah momen kritis di bidang ekonomi.

Bush mengakui proses diloloskannya usulan paket penyelamatan ekonomi pemerintahnya itu akan memasuki proses yang alot di kalangan Kongres mengingat banyak pihak tak menyetujui pemakaian uang rakyat dari hasil pembayaran pajak untuk menalangi krisis di bursa keuangan AS. Namun, Bush berusaha meyakinkan usulan paket penyelamatan ekonominya itu dengan menyatakan: “AS dalam situasi genting dan konsekuensi yang dihadapi akan bertambah buruk setiap harinya apabila kita tak bertindak. Apabila AS terus berada dalam jalur krisis, maka kehancuran ekonomi yang dialami akan lebih besar dan berlangsung lama.”

“AS diperhadapkan pada pilihan antara tindakan yang harus diambil atau bencana ekonomi di depan mata jutaan warga AS,” tambah Bush. “Demi keamanan keuangan banyak warga AS, Kongres harus bertindak.”JIM
Sumber : AP

Optimisme Bailout Lambungkan Minyak di Atas 100 Dollar AS
Rabu, 1 Oktober 2008 | 07:49 WIB

NEW YORK, RABU – Harapan pasar komoditas terhadap kemungkinan diloloskannya paket penyelamatan ekonomi Presiden AS George W. Bush oleh Kongres telah melambungkan harga minyak dunia hingga di atas 100 dollar AS per barrel. Dalam penutupan transaksi di bursa komoditas New York Mercantile Exchange, kontrak pengiriman minyak mentah light, sweet untuk bulan November mendatang naik 4,27 dollar AS serta ditutup pada 100,64 dollar AS per barrel.

Sementara dalam penutupan transaksi di bursa komoditas ICE, London, kontrak pengiriman minyak mentah Brent naik 4,19 dollar AS serta ditutup pada 98,17 dollar AS per barrel. Harga minyak mentah telah anjlok sekitar 20 dollar AS atau 17 persen dalam 8 hari terakhir.

Harga minyak di New York Mercantile Exchange, Senin (29/9), ditutup pada 96,37 dollar AS per barrel atau turun 10,52 dollar AS. Penurunan tersebut terjadi setelah Dewan Perwakilan Rakyat AS menolak paket bailout senilai 700 miliar dollar AS yang diusulkan oleh pemerintah Bush. Penolakan tersebut menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor terhadap kemungkinan terjerumusnya AS ke dalam krisis ekonomi berkepanjangan sehingga secara drastis dapat menurunkan permintaan produksi minyak secara global.

JIM
Sumber : AP

Bush Desak Pengesahan Bailout
Kamis, 2 Oktober 2008 | 08:27 WIB

WASHINGTON, RABU – Presiden AS George W. Bush pada Rabu (1/10) waktu setempat, mendesak Kongres AS untuk secepatnya menyetujui paket penyelamatan ekonomi (bailout) guna menstabilkan gejolak pasar.

“Senat akan membahas rancangan undang-undangnya (RUU) malam ini, Saya berharap penuh mereka akan mensahkannya, dan kemudian DPR akan mempunyai kesempatan untuk mensahkannya pada Jumat pagi,” kata Bush. “Rancangan undang-undang ini berbeda, ini merupakan hasil perbaikan, dan saya yakin ini akan disahkan,” kata Bush

Presiden Bush mengatakan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS yang sebelumnya tidak menyetujui paket penyelamatan ekonomi (bailout) awal pekan ini, diharapkan menyetujui versi perubahannya pada Jumat.

Presiden Bush bahkan diberitakan terus menerus menghubungi anggota-anggota kunci di senat melalui telepon agar senat dan Dewan Perwakilan Rakyat AS memberikan dukungan terhadap paket tersebut.

“Persetujuan itu sangat penting untuk meloloskan paket ini guna menstabilkan situasi, sehingga tidak makin memburuk dan berujung pada hilangnya harta dan pekerjaan warga,” kata Bush.

Adapun dalam paket tersebut disebutkan negara akan memompakan hingga 700 miliar dolar AS ke dalam sistem finansial AS untuk menyelamatkan bank-bank bermasalah dan mengakhiri apa yang disebut sebuah kebekuan kredit.

Dalam perbaikan, telah ditambahkan beberapa hal terhadap rancangan undang-undang, termasuk meningkatkan perlindungan Asuransi Korporasi Deposito Federal (FDIC) untuk menutup simpanan di bank 250.000 dolar AS dari level saat ini 100.000 dolar AS.
Sumber : Ant

Senat AS Setujui Paket Dana Talangan Ekonomi
Kamis, 2 Oktober 2008 | 09:34 WIB

WASHINGTON, RABU – Senat AS menyetujui paket dana talangan Wall Street (bailout) sebesar 700 miliar dolar AS dengan suara 74-25 di tengah meluasnya krisis global yang dipicu krisis pasar perumahan AS, pada Rabu (1/10) waktu setempat.

Rencana pengesahan paket yang sudah diperbaharui itu kini tinggal menunggu persetujuan DPR AS, yang sempat menolak versi sebelumnya pada Senin, sehingga memicu pasar dunia jatuh.

Keputusan Senat AS itu memunculkan harapan bahwa paket bakal mendapat persetujuan final Presiden Bush pada akhir pekan ini dan sehingga dapat meredam kepanikan yang menyebar setelah penolakan DPR AS pada Senin.

Pada paket yang diperbaiki, terdapat batas atas asuransi Federal untuk deposito bank yang berubah dari 100.000 dolar menjadi 250.000 dolar, sebuah upaya yang ditujukan menjamin para penabung bahwa dananya aman di bank dan terhindar dari penarikan besar-besaran.

Beberapa hal yang tetap dari rencana semula di antaranya adalah pasal yang memberi Menteri Keuangan AS Henry Paulson kekuasaan untuk membeli aset yang terkait dengan jaminan perumahan di bank yang bermasalah, termasuk batasan pembayaran “parasut emas” bagi eksekutifnya.

Keputusan Senat itu didapat setelah negosiator Partai Demokrat dan Republik menyetujui syarat-syarat yang digunakan dalam memformat ulang paket.

Perundingan baru kini sedang dilakukan di DPR AS, dan akan dilakukan pemungutan suara tahap kedua, setelah sebelumnya pada Senin para anggota DPR itu secara mengejutkan menolak paket awal dengan suara 228 menolak dibandingkan 205 yang menyetujui.

Sumber : Ant

Kapitalisme di Amerika Sudah Mati?
Senin, 6 Oktober 2008 | 14:51 WIB
Oleh: Tjahja Gunawan Diredja

SEBELUM DPR Amerika Serikat menyetujui dana talangan (bail out) sebesar 700 miliar dollar AS untuk disahkan menjadi undang-undang oleh pemerintahan George Bush, penolakan terhadap paket penyelamatan ekonomi itu justru datang dari anggota DPR AS yang berasal dari Partai Republik.

Alasannya, dalam faham dan praktik kapitalisme, penyelesaian terhadap setiap kemelut ekonomi dan keuangan dilakukan melalui mekanisme pasar. Negara dan pemerintah tidak perlu campur tangan. Anehnya, Presiden Amerika George W Bush yang nota bene dari Partai Republik menghendaki krisis keuangan di negaranya perlu segera diatasi dan untuk itu perlu intervensi pemerintah melalui pengorbanan seluruh warga AS sebagai pembayar pajak.

Sebenarnya, sandiwara apa yang sedang dimainkan elite politik di Negeri Paman Sam itu?. Apakah ini merupakan bagian dari upaya cuci tangan dari Presiden George W Bush untuk menutup kegagalannya dalam mengelola ekonomi AS?

Di satu sisi, George Bush cepat dan pandai memutuskan untuk menyerang Irak dengan dalih untuk menumpas kelompok teroris Al-Qaeda. Namun di sisi lain, dia juga seolah tidak peduli dengan anggaran negaranya yang membengkak, antara lain gara-gara agresi ke Irak itu. Wajar kalau kemudian kondisi keuangan negeri Paman Sam itu mengalami defisit ganda, yakni defisit anggaran dan perdagangan.

Di akhir masa jabatannya, sangat boleh jadi Presiden Bush dengan sengaja ingin menyerahkan beban krisis keuangan AS kepada Barack Obama dari Partai Demokrat, yang saat ini sepertinya sudah “memenangkan” persaingan dengan lawannya John McCain meskipun Pemilu di AS baru akan dilakukan 4 November mendatang.

Merasa koleganya McCain dari Partai Republik tidak cukup tangguh untuk bersaing dengan Obama, sangat boleh jadi George Bush bekerja sama dengan kelompok kepentingan yang bercokol di pasar finansial AS untuk menggelembungkan harga-harga saham di Bursa Wall Street maupun harga komoditas di Bursa Berjangka New York.

Sebelum lembaga-lembaga keuangan di AS berguguran, harga minyak dunia naik luar biasa di luar batas kewajaran. Bahkan pernah menyentuh angka 140 dollar AS per barrel. Demikian juga dengan harga saham-saham sektor energi dan tambang meroket.

Berbagai kalangan sebelumnya sudah menduga bahwa kenaikan harga-harga di bursa berjangka maupun Wall Street akibat ulah hedge fund. Benar saja, tidak lama kemudian akibat ulah hedge fund dan menggelembungnya perekonomian di Amerika, sejumlah lembaga keuangan di Amerika bertumbangan.

Seolah serba kebetulan, krisis keuangan di AS ini justru terjadi sebelum Pemilu di negera itu digelar 4 November 2008. Dengan demikian, George W Bush agak terselamatkan karena dia tidak perlu mempertanggungjawabkan kegagalannya dalam mengelola ekonomi negara, karena sebentar lagi dia akan lengser melalui mekanisme suksesi yang memang sudah dijadwalkan sebelumnya.

Bush beda dengan Soeharto

Seandainya kejadiannya seperti di Indonesia, bisa jadi Bush akan bernasib sama dengan Soeharto yang dilengserkan di “tengah jalan” pada bulan Mei 1998. Krisis ekonomi di Indonesia waktu itu berkembang menjadi krisis politik dan sosial. Krisis ekonomi di negara kita yang berkepanjangan juga tidak terlepas dari peran lembaga keuangan dunia seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang salah dalam mendiagnosa dan memberikan obat terhadap penyakit ekonomi yang diderita Indonesia.

Setelah 10 tahun berlalu, kini giliran Amerika tempat bercokolnya Kantor IMF dan Bank Dunia, yang merasakan krisis seperti yang dialami Indonesia. Tentu saja nilai kerugian akibat krisis keuangan di AS jauh lebih besar, dan dampaknya juga sangat luas. Saat ini sekurang-kurangnya sudah ada 760.000 orang di AS yang kehilangan pekerjaan sebagaimana disampaikan Gubernur Ohio Ted Strickland.

Becermin pada kejadian di AS, masihkah negara kita akan tetap menerapkan sistem ekonomi pasar seperti di Negeri Paman Sam. Kita semua sudah maklum bahwa praktik ekonomi dan kegiatan bisnis di Indonesia sudah mengacu pada mekanisme pasar bebas. Itu tidak hanya terjadi di pasar modal dan pasar uang, tetapi juga sudah merasuk ke hampir semua kegiatan usaha di sektor riil.

Bukan hanya batik dari China, sebelumnya pemerintah juga pernah mengimpor beras yang nota bene merupakan komoditas utama bangsa ini. Sementara China sendiri sekarang telah menjadi kekuatan ekonomi baru di dunia disamping India.

Meskipun sebelumnya China ditekan Amerika untuk melepas sistem mata uangnya ke pasar bebas, namun negeri itu tetap bersikukuh mematok (peg) mata uangnya. Sekali lagi, kalau elite negeri ini ingin menyejahterakan rakyatnya, tidak cukup berorasi dan berjanji menjelang Pemilu, tetapi harus diikuti upaya nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kalau para elite politik di Tanah Air masih ingin melanggengkan nafsu berkuasa dan mengeruk kekayaan melalui jabatannya masing-masing, baik di struktur birokrasi maupun melalui infrastruktur politik, mereka harus siap-siap ditinggalkan masyarakat.

Tjahja Gunawan Diredja

Waspada! “Bailout” Tak Efektif, Krisis di AS Berlanjut
Rabu, 8 Oktober 2008 | 13:24 WIB

JAKARTA, RABU – Krisis makroekonomi yang terjadi di AS masih akan berlanjut ke sesuatu yang lebih dalam dan serius. Pasalnya, paket penyelamatan (bailout) yang digelontorkan sebesar 700 miliar dollar AS itu tidak cukup efektif meredam gejolak dampak krisis yang menyebabkan jatuhnya harga properti di negara tersebut. Demikian pernyataan ekonom Indef dalam diskusi Antisipasi Krisis Keuangan Global di Restoran Bebek Bali, Jakarta, Rabu (8/10).

Isi paket bailout tersebut hanya memuat tiga hal, yakni pertama, diperbolehkannya Pemerintah AS mengucurkan dana hingga 700 miliar dollar AS untuk membeli utang kredit perumahan yang bermasalah secara bertahap. Kedua, dibukanya kemungkinan bagi lembaga penjamin simpanan (Federal Deposit Insurance Corporation/FDIC) untuk menaikkan limit penjaminan dari 100.000 dollar AS menjadi 250.000 dollar AS per orang. Ketiga, FDIC diperbolehkan meminjam dana talangan sebesar apa pun kepada Departemen Perbendaharaan jika dibutuhkan.

Dari ketiga klausul tersebut, dikatakan Ikhsan, tak memuat pasal yang membolehkan intervensi secara langsung pemerintah untuk menopang harga rumah yang justru menjadi kunci persoalan. “Maka bisa diprediksi krisis di AS akan terus berlanjut dan akan lebih banyak lembaga keuangan yang berguguran,” ujarnya. MYS

Seberapa Kuat Fundamental Ekonomi Domestik?
Kompas/Riza Fathoni

Kamis, 9 Oktober 2008 | 07:33 WIB
Turbulensi pasar keuangan global kian menjadi-jadi pascabangkrutnya perusahaan investasi raksasa Lehman Brothers pada 15 September 2008. Tak satu negara pun yang terbebas dari amukan bencana finansial ini. Pasar keuangan Indonesia juga karut-marut dihantam sentimen negatif. Seberapa kuat sebenarnya fundamental ekonomi domestik menghadapi situasi ini?

Sejak bangkrutnya Lehman Brothers, laju kejatuhan indeks dan kurs makin kencang. Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia tercatat telah meluncur lebih dari 330 poin. Ini berarti dalam rentang tiga minggu indeks telah jatuh sekitar 18,5 persen. Otoritas bursa pun akhirnya menyuspensi perdagangan saham pada Rabu (8/10).

Dalam kurun waktu yang sama, nilai tukar rupiah terdepresiasi sekitar 1,6 persen. Dalam perdagangan kemarin, kurs rupiah ditutup di level Rp 9.593 per dollar AS.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Miranda S Goeltom Rabu (8/10) di Jakarta menjelaskan, gejolak pasar keuangan dan pasar modal domestik tidak perlu terlalu dikhawatirkan karena masih sejalan dengan pergerakan pasar global.

Kecuali indeks saham, berbagai indikator moneter, perbankan, dan makroekonomi Indonesia, menurut Miranda, menunjukkan ketahanan relatif lebih baik dibandingkan negara lain.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, misalnya, sejak awal tahun hingga kini hanya terdepresiasi 2 persen. ”Bandingkan dengan negara-negara lain yang mengalami depresiasi 4-7 persen akibat krisis keuangan global,” katanya.

Inflasi Indonesia juga relatif lebih baik karena hanya melonjak dua kali lipat dibandingkan 2007. Negara-negara lain umumnya melonjak 3-4 kali dari tahun sebelumnya. Namun, dilihat dari levelnya, inflasi Indonesia tergolong tinggi, per September 2008 mencapai 12,14 persen.

Pertumbuhan ekonomi domestik, kata Miranda, juga tetap kuat di tengah pelambatan perekonomian global.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Hadad mengatakan, kondisi perbankan, yang menjadi jantung perekonomian, juga memiliki fundamental yang kuat. Itu tecermin dari berbagai faktor, seperti rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL), likuiditas, dan permodalan. NPL neto (setelah dikurangi provisi) hanya 1,42 persen, jauh di bawah batas maksimum, 5 persen.

Likuiditas juga masih memadai, tecermin dari rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposits ratio/LDR) yang masih di bawah 80 persen. Ketatnya likuiditas yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan oleh kelangkaan likuiditas yang ada di industri, tetapi lebih karena faktor psikologis dan kepemilikan likuiditas yang tidak merata antarbank.

Banyak bank yang sebenarnya likuiditasnya berlebih enggan meminjamkan ke bank lain karena khawatir sulit mendapatkan likuiditas pada masa mendatang.

Permodalan perbankan domestik, kata Muliaman, juga cukup kuat. Ini tecermin dari rasio kecukupan modal yang sebesar 17 persen, jauh di atas angka minimum 8 persen.

Fundamental yang kuat tersebut akan membuat perbankan tetap optimal melakukan fungsi intermediasi untuk mendorong perekonomian.

Kendati fundamental perekonomian cukup kuat, BI tetap mewaspadai gejolak yang terjadi saat ini dan tetap fokus menjaga nilai rupiah yang tecermin dari inflasi dan nilai tukar.

Atas dasar itulah, kata Miranda, dalam rapat Dewan Gubernur BI dua hari lalu, suku bunga acuan (BI Rate) dinaikkan 25 basis poin menjadi 9,5 persen. ”Ini untuk memberikan sinyal dan arah kepada para pelaku pasar,” kata Miranda.

Untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan 2009, BI ingin memastikan bahwa inflasi tahun 2009 terkendali di kisaran 6,5-7,5 persen. Atas dasar itu, BI Rate disesuaikan menjadi 9,5 persen agar suku bunga riil tetap terjaga di kisaran 2-2,5 persen. Inflasi tinggi amat berbahaya, dapat menurunkan nilai aset yang dimiliki masyarakat golongan bawah.

Dalam jangka pendek, kenaikan BI Rate juga untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang tinggi dari para pelaku pasar. Ekspektasi inflasi yang tinggi telah membuat nilai tukar terpelanting melewati batas psikologis Rp 9.500 per dollar AS.

Menurut Miranda, BI akan menjaga nilai tukar rupiah tidak berfluktuasi secara tajam. Pelemahan rupiah yang tajam sangat merugikan perekonomian karena inflasi yang berasal dari barang impor akan meningkat. Selain itu, eksportir dan importir juga diliputi ketidakpastian sehingga cenderung wait and see.

Pengamat ekonomi Dradjad Wibowo mengatakan otoritas moneter dan otoritas fiskal harus melakukan upaya lain untuk meredam dampak krisis finansial global. Menurut dia, kenaikan BI Rate bersifat kontraproduktif karena memicu risiko kredit macet di sektor pertambangan, perkebunan, dan properti.

Sektor riil

Anggota Komisi XI DPR Maruarar Sirait mengatakan, otoritas fiskal seharusnya memanfaatkan situasi saat ini dengan memperkuat perekonomian domestik. Caranya, antara lain, dengan memberi insentif pada industri lokal, seperti tekstil.

”Sebetulnya inilah momen yang tepat untuk memperkuat dan mempercepat implementasi kebijakan dengan berbagai insentif untuk sektor mikro,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Industri, Teknologi, dan Kelautan Rachmat Gobel.

Menurut Rachmat, peluang tetap terbuka dari sejumlah keunggulan yang kini ada dalam perekonomian Indonesia, seperti pasar dalam negeri yang besar, peluang investasi yang masih terbuka luas, dan sejumlah produk unggulan di pasar ekspor.

Untuk itu, menurut Rachmat, selain melalui sosialisasi langkah ini harus diikuti upaya menerapkan SNI secara lebih tegas dan luas, termasuk membendung masuknya barang ilegal. ”Berdasarkan sejumlah survei, termasuk Bank Dunia, Indonesia mempunyai peluang yang lebih baik dibandingkan sejumlah negara pesaing asalkan iklim investasi segera dibenahi,” katanya.

Untuk sektor ekspor, meski permintaan di pasar tradisional, yaitu AS, Jepang, dan Eropa, turun, peluang yang cukup besar tetap terbuka, terutama ke negara-negara Asia seperti China, India, kawasan Timur Tengah, dan Rusia.

M Fajar Marta,Stefanus Osa Triyatna
Sumber : Kompas Cetak

Saham AS Jatuh Lagi
Kamis, 9 Oktober 2008 | 07:13 WIB

NEW YORK, RABU – Saham-saham AS kembali jatuh untuk kali keenam hari berturut-turut pada Rabu (8/10) waktu setempat meski Federal Reserve melakukan langkah darurat penurunan suku bunga.

The Fed menurunkan suku bunga federal funds 50 basis poin menjadi 1,5 persen.
Gabungan bank-bank sentral dari Inggris, Kanada, Swiss, Swedia, dan China, termasuk Bank Sentral Eropa, juga menurunkan suku bunga utama mereka, 50 basis poin, dalam upaya mengendurkan kondisi moneter dan meningkatkan likuiditas pasar.

Para investor menyambut baik langkah penurunan darurat suku bunga tersebut, sementara laporan tengah tahunan IMF tentang ekonomi global mengurangi antusiasme.

Menteri Keuangan AS Henry Paulson memperingatkan bahwa akan lebih banyak bank yang jatuh (collapse) karena sistem finansial menjalani sebuah periode panjang restrukturisasi.

Sebuah resesi AS telah diperkirakan karena sistem finansial bekerja di luar dari krisis yang telah menahan ketersediaan kredit bagi usaha dan konsumen, kata IMF.
Selama paruh kedua 2008 diperkirakan akan mengalami kontraksi dan tumbuh hanya 0,1 persen pada 2009—turun dari 0,8 persen pada proyeksi Juli. Ekonomi tumbuh 2 persen pada 2007.

Sementara itu, saham Bank of America Corp merosot 7 persen setelah menjual sahamnya pada sebuah diskon dan Alcoa—produsen alumunium terbesar AS—jatuh 12 persen di tengah berkurangnya manufaktur.

Indeks saham blue-chip Dow Jones Industrial Average turun 189,01 poin atau 2 persen menjadi 9.258,10. Dalam sepekan terakhir, indeks Dow telah turun 1.600 poin, indeks Standard and Poor’s 500 turun 11,29 poin atau 1,13 persen menjadi 984,94, dan indeks komposit Nasdaq turun 14,55 poin atau 0,83 persen menjadi 1.740,33.

Di pasar uang, dollar melemah terhadap mata uang Jepang menjadi 99,20 yen dari 101,47 yen pada Selasa. Dollar juga turun terhadap euro dalam lebih dari dua pekan, jatuh menjadi 73,33 sen euro.
XVD
Sumber : Ant

Sinyal Kelabu bagi Industri Barang Mewah
Kamis, 9 Oktober 2008 | 06:13 WIB

JAKARTA, KAMIS – Kelas menengah dan atas paling menderita akibat krisis keuangan yang terlihat dari kejatuhan harga saham di berbagai bursa saham dunia. Harga saham mulai dari AS, Eropa, Asia, hingga Timur Tengah berjatuhan sejak Senin. Sempat membaik diawali transaksi Selasa, harga saham kembali jatuh bebas, Rabu (8/10).

Kebangkrutan masyarakat kelas menengah dan atas jelas sebuah sinyal kelabu, bahkan gelap, bagi industri barang mewah, termasuk industri mobil dunia. Bisnis berlian, minuman berkelas, pakaian mewah, mobil balap, bahkan mobil kelas atas bakal mengalami penurunan penjualan.

Penjualan sampanye turun 2,6 persen dalam delapan bulan pertama tahun 2008 menjadi 165 juta botol. Ekspor ke AS dilaporkan turun 22 persen menjadi 6,5 juta botol pada semester pertama. Krisis keuangan bakal membuat angka penjualan ini turun lagi. Namun, pepatah bilang, ”situasi sulit justru membuat orang butuh sampanye”.

Penghasil mobil sport mewah, Ferrari, tadinya mengharapkan penjualan produk mereka akan naik tajam tahun 2008. ”Penjualan di AS dan Eropa konstan, tetapi meledak di negara seperti Rusia, China, dan Uni Emirat Arab,” ujar Amedeo Felisa, CEO Ferrari.

Sudah 6.000 orang memesan Ferrari tipe terbaru, sebuah mobil kabriolet dengan harga jual sekitar 179.000 euro atau sekitar Rp 2,4 miliar per unit. Pesanan atas mobil keluaran Lamborghini sejauh ini belum ada yang dibatalkan.

Sejauh ini mungkin masih belum terlihat dampak dari krisis bagi keuangan. Akan tetapi, harga saham yang jatuh bebas dan berlangsung panjang diperkirakan segera memengaruhi penjualan produk mewah, semisal mobil-mobil yang banyak diminati kelas menengah.

Pemutusan hubungan kerja

Pabrik mobil Volvo di Stockholm, Swedia, hari Rabu langsung mengeluarkan sinyal akan mengurangi lebih dari 3.000 karyawannya di Swedia dan seluruh dunia. Angka ini tambahan dari pengurangan 2.000 pekerja yang diumumkan awal tahun ini.

Volvo yang kini dikuasai Ford, raksasa mobil AS, terpaksa melakukan hal ini mengingat kondisi industri mobil yang kurang meyakinkan pada tahun ini. Krisis keuangan yang ada semakin membuat kondisi memburuk dan Volvo segera mengantisipasi dengan pemutusan hubungan kerja (PHK).

”Kondisi yang sulit bagi industri mobil secara umum, termasuk Volvo. Langkah ini diperlukan untuk menciptakan perusahaan mobil Volvo yang bisa bertahan dan baru. Perusahaan akan lebih fokus pada operasi dan struktur,” ujar Stephen Odell, CEO Volvo.

Situasi ekonomi yang tidak stabil dan tak menentu membuat kondisi sulit diprediksi. ”Penurunan industri mobil global bakal lebih drastis dari perkiraan,” ujar Odell.

Volvo yang kini punya 24.400 pekerja di seluruh dunia, termasuk 17.600 orang di Swedia, segera mengantisipasi keadaan ketimbang terlambat dan tenggelam. Situasi ekonomi global yang diwarnai krisis keuangan bakal lebih cepat menenggelamkan Volvo jika tidak segera diantisipasi.

UniCredit dari Italia juga akan mengurangi 700 karyawannya di sektor bank investasi. ”Sebuah pilihan cepat menghadapi krisis keuangan,” ujar Alessandro Profumo, pimpinan UniCredit, di Milan, Rabu. Sebelumnya, UniCredit sudah menghentikan 300 pekerjanya.

Krisis keuangan membuat UniCredit kehilangan aset cukup besar. Pemiliknya harus menambah modal hingga 7 miliar euro berkenaan dengan bangkrutnya HypoVereinsbank di Muenchen, Jerman. Bank pemberi kredit perumahan nomor dua di Jerman ini dibeli UniCredit tahun 2005.

Dampak krisis keuangan juga memukul saham Toyota Motor Corp, penghasil mobil nomor satu Jepang dan nomor dua dunia setelah General Motor, AS. Saham Toyota di bursa Tokyo hari Rabu anjlok setelah perusahaan itu melaporkan kerugian keuntungan operasional sebesar 40 persen pada tahun fiskal yang berakhir Maret.

Direktur Pelaksana Toyota Yoichiro Ichimaru mengakui, jumlah penjualan mobil mereka bakal berat karena penjualan mobil di AS jatuh. Begitu juga penjualan mobil di Eropa. Ke depan, angka penjualan ini bakal semakin tenggelam mengingat krisis keuangan belum juga memperlihatkan segera teratasi.

Toyota kemungkinan akan mengurangi target penjualan mobil dari 9,5 juta unit pada tahun ini. Target penjualan harus realistis, sejalan dengan kondisi perekonomian dunia yang lagi ”sakit”.

Krisis keuangan dunia memang membuat masyarakat kelas menengah dan atas rugi besar akibat harga saham dan surat berharga yang anjlok. Tetapi, dalam jangka panjang, masyarakat kelas bawah juga bakal terkena, terutama berkaitan dengan aksi PHK.

Para pemilik modal mengamankan aset mereka dengan mengorbankan karyawannya. Pilihan yang sulit agar ”kapal” tak karam.
Sumber : Kompas Cetak

Advertisements