http://kamase.org/

Polemik yang mendera bangsa Indonesia di bidang energi terasa semakin pelik. Berbagai kebijakan energi yang diterapkan pemerintah tidak mampu meyakinkan rakyat. Sementara itu, tuntutan pemenuhan kebutuhan energi semakin mendesak. Setelah melalui berbagai kajian mendalam, pemerintah memutuskan untuk membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Pembangkit ini direncanakan akan dibangun di daerah pegunungan Muria. Sebuah daerah berbukit di sebelah utara kota Jepara. Pegunungan Muria dianggap paling memenuhi syarat sebagai tempat berdiri dan beroperasinya PLTN. Selain karena aman dari gempa, daerah Muria juga sangat dekat dengan sumber air (Laut Jawa) yang dibutuhkan untuk mendinginkan reaktor nuklir setelah ‘lelah’ bekerja. Dengan dibangunnya PLTN, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi fosil yang selama ini diandalkan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat.

<!–
google_ad_client = “pub-3026534164374522”;
//300×250, created 11/17/07
google_ad_slot = “1613381625”;
google_ad_width = 300;
google_ad_height = 250;
google_language = “en”;
//–>

Yang menjadi pertanyaan, sudahkah kita mampu membangun PLTN dan menanggung segala resiko yang mungkin terjadi?? Sudah bukan rahasia umum jika PLTN sampai saat ini masih dipertanyakan sistem keamanannya. Tragedi Chernobyl, dan Three Mile Island di Amerika Serikat cukup dijadikan bukti bagi masyarakat untuk menolak PLTN. Bahkan, bom atom yang meluluhlantakkan kekuatan Jepang di Perang Dunia kedua pun belum lekang dari memori.

Tak ayal, penolakanpun terjadi dimana-mana. Terlebih lagi bagi warga Kudus dan Jepara yang merasa telah dijadikan ‘kelinci percobaan’ bagi proyek pemerintah ini. Mereka dengan lantang menyuarakan suara hati melalui demo yang digelar di berbagai tempat dan (entah mengapa) mengatasnamakan diri pembela lingkungan.

Mengenal PLTN

Sebenarnya seperti apakah PLTN?? Apakah PLTN memang semengerikan itu?? Pada prinsipnya, system kerja pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) hampir sama dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang berbahan bakar batubara. Panas yang dihasilkan dari reaksi nuklir digunakan untuk menguapkan air pendingin pada reaktor. Tekanan tinggi dari uap air akan menggerakkan turbin. Turbin selanjutnnya menggerakkan generator. Dari generator inilah akan dihasilkan listrik. Pada PLTN, panas dibangkitkan oleh reaktor daya fissi melalui reaksi fissi nuklir dari isotop fissi uranium dan plutonium (wikipedia.org). Terlihat pula bahwa bahan bakar yang digunakan adalah uranium dan plutonium sedangkan pembangkit listrik konvensional menggunakan minyak bumi, gas dan batubara sebagai bahan bakar.

Sementara itu, reaksi nuklir sendiri ada dua jenis yaitu reaksi nuklir terkendali dan tidak terkendali (elektroindonesia.com). Contoh reaksi nuklir yang tidak terkendali adalah ledakan bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki yang pada akhirnya mengakhiri perang dunia kedua. Pada PLTN, reaksi berantai dikendalikan oleh batang kendali dan berlangsung di dalam reaktor. Namun, PLTN tetap berbeda dengan bom nuklir. Pada bom nuklir, reaksi berantai dibiarkan bebas tak terkendali sehingga bahan bakar terkayakan 100%. Pada PLTN, selain keberadaan batang kendali, bahan bakar uranium U-235 hanya dikayakan 3% sehingga tidak mungkin meledak dalam kondisi apapun.

PLTN adalah pembangkit listrik yang sangat ramah lingkungan. Selama beroperasi, PLTN tidak mengemisikan gas-gas berbahaya seperti CO2, NO2 atau Nox. PLTN memang menghasilkan limbah radioaktif namun tidak diemisikan ke lingkungan karena limbah PLTN merupakan elemen bahan bakar bekas dalam bentuk padat. Limbah ini disimpan sementara dan diisolasi dari dunia luar sebelum dilakukan penyimpanan secara lestari (BATAN, 1997).

Kebanyakan orang beranggapan bahwa PLTN adalah pebangkit yang berbahaya. Jika terjadi kecelakaan yang serius, jawabannya memang ya. Namun, teknologi yang ada pada PLTN selalu diutamakan untuk mendapatkan tingkat keamanan yang lebih baik. Bahkan, bisa dibilang, PLTN adalah pembangkit yang paling aman untuk saat ini. Sistem keamanan PLTN terdiri atas penghalang ganda yang berlapis-lapis. Penghalang utama adalah kubah pengungkung setebal 1,5-2 m yang terbuat dari beton dan kedap udara. Menurut Dr.-Ing. Kusnanto, ahli energi dari Jurusan Teknik Fisika UGM, pengungkung ini bahkan tidak akan hancur walaupun ditubruk oleh pesawat jet jumbo.

Masih menurut Dr. Kusnanto, jika terjadi kecelakaan, system PLTN yang sudah full computerized memungkinkan PLTN untuk shut down secara otomatis. Lalu bagaimana jika batang kendali rusak?? Apakah reaktor akan meledak?? “PLTN, sekali lagi tidak mungkin meledak, karena ada 2 batang kendali yang bekerja bergantian di dalam reaktor sehingga ketika salah satu rusak, batang kendali lainnya yang akan bekerja sementara yang lain akan diperbaiki,” tegas Dr. Kusnanto. Tragedi Three Mile Island dan Reaktor Kashiwazaki adalah bukti amannya sistem PLTN saat ini. Pada PLTN Three Mile Island unit 2, kecelakaan yang terjadi sangat serius bahkan sampai menyebabkan teras reaktor hancur akibat kekurangan air pendingin. Namun, pengungkung utama sukses membuat radiasi yang keluar ke lingkungan hanya sampai 1 % saja. Pada PLTN Kashiwazaki, ketika terjadi gempa beberapa reaktor langsung shut down secara otomatis. Kalaupun ada radiasi yang keluar ke lingkungan, levelnya masih termasuk low level radioactive yang bahkan masih lebih aman daripada radiasi alami yang kita terima setiap harinya dari lingkungan . Sementara itu, kejadian pada PLTN Chernobyl adalah suatu anomali. Pada PLTN tersebut, terjadi suatu uji coba yang tidak sesuai prosedur oleh 2 orang ahli listrik (bukan ahli nuklir) dimana sistem reaktor dicoba untuk bekerja pada daya yang sangat rendah. Akibatnya, terjadi ledakan disertai kenaikan daya yang tidak terkendali. Pada PLTN Chernobyl, bangunannya memiliki cacat bawaan dan tidak dilengkapi dengan pengungkung seperti PLTN lainnya. Alhasil, tidak ada yang menghalangi keluarnya radiasi ke lingkungan (Ma’rufin 2007).

Pemenuhan kebutuhan energi sekaligus meningkatkan rasio elektrifikasi adalah kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Keberanian mental terhadap PLTN hanyalah bagaimana pemerintah mengopinikan PLTN ke masyarakat. “Sosialisasi maksimal harus diopinikan. Kita harus bisa memperlihatkan manfaat PLTN. Bagaimana membangun opini masyarakat. Kita lihat sendiri, masyarakat tidak pernah takut ketika masuk ke ruang kedokteran nuklir untuk melakukan roentgen (penyinaran sinar x) padahal tingkat radiasinya lebih tinggi daripada di PLTN namun marah besar begitu mendengar kata PLTN,” sebut Dr.-ing. Kusnanto memungkasi pembicaraan.(sakuragi)

Penulis   : Kamase 2005

Advertisements