27 Agustus 2008

JAKARTA : Negara-negara ASEAN menyelenggarakan pertemuan pertama membahas aspek iptek Pembangkit Tenaga Nuklir (1st Meeting of The Technical Working Group on Nuclear Power Plant). Sekitar 4 negara menyetakan komitmennya membangun PLTN.

“Indonesia dan Vietnam ditunjuk sebagai koordinator pengembangan PLTN di wilayah ASEAN. Indonesia bahkan dipilih sebagai chairman,” ujar Prof Dr Carunia M. Firdaussy, Deputi Dinamika Masyarakat Kementerian Negara Riset dan Teknologi disela-sela pertemuan di Jakarta, Rabu ( 27/8).

Negara-negara yang menghadiri pertemuan tersebut (TWG-NPP), diantaranya Vietnam, Thailands, Singapura, Philipina, Myanmar, Malaysia, serta Brunei Darussalam.

Operasional PLTN di Thailand direncanakan sekitar 2018, Vietnam pada 2021, sedangkan Indonesia tidak mengubah rencananya, sekitar 2016. “Philipina tengah mempertimbangkan kembali, setelah mengalami pergantian pemerintahan. Sedangkan, Singapura belum mempertimbangkan membangun karena negaranya relatif kecil,” ujar Carunia.

Sementara itu, Dr Adi Wardoyo, Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) mengatakan dalam pertemuan pertama bidang iptek negara- negara ASEAN ini akan membahas PLTN mulai dari feasiblity study, operasional hingga commissioning .

“Pertemuan ini semacam think thank dari kalangan iptek berbagai negara ASEAN terkait pengembangan PLTN. Nantinya, akan diputuskan melalui tingkat menteri negara-negara ASEAN,” ujarnya.

Pertemuan pertama Technical Working Group on Nuclear Power Plant ini, merupakan tindak lanjut The 12th ASEAN Ministerial Meeting on Science and Technology (AMMST) di Mandalay, Myanmar pada akhir tahun lalu.

Dalam pertemuan sebelumnya, para menteri negara-negara ASEAN bidang energi (AMEM) menyepakati mendirikan the ASEAN Nuclear Energy Safety Sub-Sector Network (NES-SSN) untuk lebih menggali aspek keselamatan nuklir. “Untuk menjamin iptek memainkan peranan penting didalam pengembangan PLTN maka dibentuk ad hoc TWG,” ujar Adi. (Lea)

Advertisements