Teknologi yang Memperburuk Lingkungan

http://www.sinarharapan.co.id

JAKARTA – Tanpa disadari, ternyata kita menuju pencarian teknologi energi alternatif yang merugikan. Bukti jalan panjang ketidakberpihakan terhadap pandangan pelestarian lingkungan.
Bila melihat situs http://www.digg.com, lebih kurang 129 hari yang lalu, Australia dengan yakin memaklumatkan pembangunan pembangkit listrik bertenaga panas matahari di negaranya. Diklaim, pembangkit tersebut merupakan terbesar yang pernah ada dibumi ini. Dengan total dana A$ 420 juta, 154 megawatt tenaga listrik akan dihasilkan. Dengan keluaran sebanyak itu juga, paling tidak 45.000 rumah bisa diterangi, dan 400.000 ton pelepasan karbon yang mampu merubah iklim bumi bisa dikurangi.

Di Amerika Serikat (AS), masalah pencarian energi alternatif juga terus digalakan. Mengingat makin tingginya bukti-bukti pemanasan bumi, akibat tingginya pelepasan karbon di angkasa. Salah satu sektor terbesar dari pelepasan karbon merupakan pemakaian energi fosil, yang sebagian besar berasal dari alat transportasi yang digunakan. Karena hal itu juga, AS kemudian mengembangkan unsur hidrogen sebagai alternatif. Hasilnya sebuah motor bertenaga hidrogen berhasil digunakan. Selain juga kemungkinan penggunaan energi ini untuk tenaga mobil, pesawat terbang dan lainnya (SH/8/2/2007).

Portugal, belum ada dua minggu yang lalu memamerkan kemampuan mereka memanfaatkan gelombang laut untuk energi alternatif. Dengan rekayasa teknologi serupa ular yang bergerak sejajar tiap terbawa naik dan turun seperti ombak. Portugal kini paling tidak memiliki 252 juta megawatt listrik pertahun untuk dihasilkan, “Itu menutupi kebutuhan 20 persen listrik di negara kami,” kata Teresa Pontes, Insinyur dari Institut Nasional Energi, Teknologi dan Inovasi Lisbon, kepada BBC.

Selain karena lantaran makin menipis cadangan energi fosil, banyak negara kini mencari alternatif energi karena keterkaitan dengan keadaan lingkungan. Di Australia, karena saking panasnya cuaca disana, yang terbukti dengan luasnya daerah kering, memanfaatkan panas matahari sebagai sumber energi.

Di AS, karena ketergantungan dengan negara lain dalam hal pasokan energi fosil, sementara pasokan energi yang lain seperti nuklir terus dipertanyakan. Membuat mereka mencari alternatif terbaik. Oleh karena itu hidrogen yang paling mudah didapat melalui unsur air, dimanfaatkan dan dikembangkan.

Di Portugal, yang seluruh orang juga tahu dengan kedahsyatan ombak pesisir lautannya. Pantas bila kemudian memanfaatkan hal tersebut untuk kemaslahatan mereka terhadap energi.

Selain mencari alternatif energi, pada negara-negara tersebut juga terlihat pandangan berbeda pada kondisi lingkungan. Di Australia, karena ketidakberpihakan pada neraca ketergantungan yang terjadi bila kebijakan protokol Kyoto dijalankan, memutuskan menjalankan upaya tersendiri untuk perbaikan iklim bumi. Hasilnya pembuatan pembangkit listrik bertenaga surya terbesar, ketimbang membayar karbon bagi negara yang berada di posisi Annex III.

AS dan Portugal cenderung sama. Visi mereka mengenai perubahan iklim pada akhirnya mengantarkan pada peminimalan penggunaan energi fosil. Hasilnya, AS mengembangkan hidrogen, Portugal memakai gelombang laut.

Namun berbeda di Indonesia. Program pencarian teknologi alternatif energi cenderung mengarah pada pemanfaatan lingkungan secara eksploitatif. Karena, secara implisit kita memiliki kebijakan pemakaian biofuel (energi hayati) sebagai jalan keluar. Biofuel yang didapat dari biji jarak, kelapa sawit, atau kotoran hewan dijadikan ikon solusi kebutuhan kita pada energi.

Jadi bisa dikatakan, kita mencari alternatif energi yang salah arah. Karena berbeda dengan negara seperti Portugal, AS atau Australia yang mencari alternatif energi melalui teknologi ramah lingkungan. Namun kita justru memakai teknologi untuk makin memperburuk lingkungan. (sulung prasetyo)

Advertisements