http://www.okezone.com

Krisis listrik yang terjadi saat ini menunjukkan mendesaknya kebutuhan mencari alternatif pembangunan pembangkit listrik alternatif di Indonesia. Salah satunya adalah pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Meskipun sudah direncanakan dalam PP No 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional serta UU No 17/2007 tentang RPJP 2005-2025, banyak pihak yang menentang pembangunan PLTN. Tulisan ini bermaksud memberikan gambaran tentang perlunya Indonesia membangun PLTN.

Pembangunan PLTN di dunia sudah dimulai sejak1950-an dan makin berkembang pada dasawarsa 1970-an seiring krisis minyak dunia. Dewasa ini energi listrik dunia yang berasal dari PLTN mencapai 18%. Adapun perbandingan dengan porsi yang berasal dari energi primer lainnya antara lain PLTU batubara (39%), gas alam (20%), PLTA (16%), pembangkit BM (5%), dan pembangkit energi terbarukan (2%).

Antara 2000-2006, pertumbuhan PLTN baru di dunia masih rendah, tetapi tingkat produksinya meningkat melebihi 90%. Sejak 2006, opsi penggunaan PLTN kembali marak yang dipicu beberapa pertimbangan strategis, yaitu jaminan kepastian pasokan (security of supply). Saat ini ada 30 negara yang sudah membangun dan menggunakan PLTN dengan jumlah reaktor nuklir 439 unit dan total kapasitas terpasang 372.000 MW atau 13 kali kapasitas terpasang di Indonesia.

Adapun energi yang dibangkitkan PLTN sudah mencapai 25.000 TWh, sekitar 20 kali produksi tenaga listrik Indonesia. Ada 16 negara di dunia yang lebih dari 25% energi listriknya dipasok dari PLTN. Negara-negara tersebut adalah Prancis, Lituania (lebih 75%), Belgia, Bulgaria, Hongaria, Slovakia, Korea Selatan, Swedia, Swiss, Slovenia, Armenia, dan Republik Ceko (lebih 30%), Jerman, Jepang, Spanyol, dan Inggris (lebih 25%).

Sementara Amerika Serikat, Finlandia, dan Rusia sekitar 20%. Di dunia ada enam negara yang berpenduduk di atas 150 juta, yaitu China, India, Amerika Serikat, Indonesia, Brasil, dan Pakistan. Namun, hanya Indonesia yang belum membangun PLTN. Kenapa negara-negara tersebut, khususnya negara yang berpenduduk banyak, memutuskan menggunakan PLTN untuk pembangkit listrik. Mungkin yang menjadi pertimbangan utama adalah security of supply dan tingkat keekonomian.

Kecelakaan

PLTN memang dikenal dan dipersepsikan sebagai sangat berisiko terhadap keselamatan, khususnya terkait risiko kebocoran reaktor. Kecelakaan nuklir yang paling dikenal ada dua, yaitu Chernobyl dan Three Mile Island. Kecelakaan Chernobyl terjadi pada 1986 yang mengakibatkan 50 pekerja meninggal dan 9 anak meninggal akibat kanker thyroid. Kecelakaan terjadi karena kesalahan operasi dan juga faktor desain kekuatan dinding reaktor.

Kecelakaan di Three Mile Island, reaktor mengalami pelelehan inti, tetapi kontainer dan dinding reaktor tidak sampai pecah sehingga kebocorannya hanya sedikit dan tidak berdampak yang signifikan pada lingkungan. Sejauh ini operasi dari 439 reaktor berlangsung aman.

Untuk saat ini dan masa yang akan datang dilaporkan bahwa perubahan dan peningkatan desain reaktor terus dilakukan untuk mengurangi risiko bahaya kebocoran. Bahkan, desain pembangkit dan reaktor yang benar-benar aman sudah dan terus dikembangkan.

Konsekuensi

Hingga 2020, idealnya Indonesia memerlukan tambahan kapasitas pembangkit (di luar yang sedang dibangun) sebesar 40.000 MW untuk memenuhi rasio elektrifikasi melebihi 90% atau pertumbuhan 9% per tahun. Dilihat dari skalanya, persoalan penyediaan listrik terbesar adalah di Jawa-Bali yang memerlukan tambahan kapasitas 70% nasional, yaitu lebih 25.000 MW sampai 2020.

Jika memperhitungkan sampai 2030, kebutuhan tambahan kapasitas Jawa-Bali sekitar 80.000-90.000 MW lagi. Energi primer yang dapat dimanfaatkan untuk tambahan kapasitas di Jawa-Bali adalah panas bumi, gas alam, LNG, dan batu bara yang didatangkan dari luar Jawa-Bali.

Cadangan energi setempat yang ada sangat terbatas, yaitu panas bumi yang potensinya paling banyak 4.000 MW dan tenaga air dengan potensi tersisa maksimum 1.000 MW. Dengan kondisi tersebut, keperluan penyediaan listrik di Jawa-Bali tenaga air, panas bumi, dan gas alam paling banyak 20%. Jika tidak membangun PLTN, berarti yang 80% lagi yaitu sekitar 60.000- 70.000 MW hanya mengandalkan PLTU batu bara.

Jika kita tidak membangun PLTN dalam kurun 20 tahun ke depan, konsekuensi yang kemungkinan akan dialami adalah harus membangun banyak PLTU batu bara di Jawa-Bali. Ini berpotensi memperburuk kualitas lingkungan. Kita perlu dan boleh khawatir terhadap risiko PLTN, tapi jangan sampai harus membayar mahal di masa datang, yang karena ketakutan sampai membuat putusan yang tidak tepat. Mungkin perlu kita renungkan apa yang dikatakan Franklin D Rosevelt, what we have to fear is the fear itself. (*)

Herman Darnel Ibrahim
Ketua Council International Grand Reseau Electricite (CIGRE) Indonesia
(//mbs)

Advertisements