http://www.suarapembaruan.com

Jenis energi ini antara lain panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel), aliran sungai, panas surya, angin, biomassa, biogas, ombak laut, dan suhu kedalaman laut.

http://www.emu-consult.dk

Kincir dengan tenaga angin menjadi sumber energi terbarukan atau yang tak akan habis sepanjang masa.

Bertambahnya jumlah penduduk dunia meningkatkan pula kebutuhan energi. Di Indonesia, sekitar 95 persen kebutuhan energi diperoleh dari sumber energi fosil, seperti minyak bumi, gas, dan batu bara. Energi ini digunakan berbagai kepentingan masyarakat, antara lain untuk listrik, transportasi, dan industri.

Penggunaan energi fosil yang dibakar secara besar-besaran secara langsung atau tidak telah mengakibatkan dampak buruk terhadap lingkungan dan kesehatan

Selain fungsi utamanya untuk menghasilkan energi, pembakaran sumber energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara akan mengemisikan gas-gas, antara lain karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), dan sulfur dioksida (SO2) yang mengakibatkan pencemaran udara. Semua ini masuk dalam unsur gas-gas rumah kaca yang berakibat makin parahnya pemanasan global.

Emisi NOx adalah pelepasan gas NOx ke udara. Di udara, sebagian NOx ini berubah menjadi asam nitrat (HNO3) yang dapat mengakibatkan terjadinya hujan asam. Emisi SO2 adalah pelepasan gas SO2 ke udara yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan peleburan logam. Gas jenis ini juga mengakibatkan terjadinya hujan asam.

Sementara itu, emisi CO2 adalah pelepasan CO2 ke udara. Emisi CO2 ini mengakibatkan kadar gas rumah kaca di atmosfer meningkat, sehingga terjadi peningkatan efek rumah kaca dan pemanasan global. CO2 tersebut menyerap sinar matahari (radiasi inframerah) yang dipantulkan oleh bumi sehingga suhu atmosfer menjadi naik. Hal ini dapat mengakibatkan perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut.

Sedangkan, emisi CH4 (metana) adalah pelepasan gas CH4 ke udara yang berasal, antara lain dari gas bumi yang tidak dibakar, karena unsur utama dari gas bumi adalah gas metana. Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global.

Batu bara selain menghasilkan pencemaran (SO2) yang paling tinggi, juga menghasilkan karbon dioksida terbanyak per satuan energi. Membakar satu ton batu bara menghasilkan sekitar 2,5 ton karbon dioksida.

Jadi, sangat jelas bisa dikatakan bahwa meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap energi telah mengakibatkan peningkatan penggunaan bahan bakar fosil. Ini juga berarti secara linear akan menambah buruk kondisi kesehatan manusia dan lingkungan hidup di sekitarnya.

Dari sebuah seminar yang digelar Universitas Gadjah Mada baru-baru ini disebutkan, Indonesia masih sangat bergantung pada kebutuhan energinya dari jenis energi fosil, atau setidaknya 30 tahun lagi. Jika kebergantungan itu begitu tinggi, pertanyaannya sekarang, mungkinkah aktivitas manusia dikurangi untuk menurunkan jumlah konsumsi energi sekaligus memperbaiki kualitas lingkungan?

Jawabannya sebenarnya sudah ditemukan, yakni harus memanfaatkan sebesar-besarnya sumber daya energi terbarukan. Indonesia sendiri dengan kondisi geografisnya disebutkan memiliki kekayaan energi yang luar biasa dari sumber daya energi terbarukan. Peraturan Presiden No 5/2006 tentang Kebijakan Energi Nasional juga menjadikan energi terbarukan sebagai salah satu alternatif sumber energi pada kemudian hari.

Bahan Bakar Nabati

Energi terbarukan adalah energi yang dihasilkan dari sumber daya energi yang secara alamiah tidak akan habis dan dapat berkelanjutan jika dikelola dengan baik. Jenis energi ini antara lain panas bumi, bahan bakar nabati (biofuel), aliran sungai, panas surya, angin, biomassa, biogas, ombak laut, dan suhu kedalaman laut.

Namun, setelah dua tahun peraturan ini keluar, bagaimana komitmen pemerintah? Ternyata masih jauh dari harapan. Tengok saja, energi dari bahan bakar nabati (BBN) masih belum bisa berkembang, meskipun pemerintah sudah membuat tim nasional khusus untuk pengembangan BBN.

Ide kreatif yang menggunakan energi terbarukan sebenarnya sudah cukup banyak dan dilakukan oleh orang Indonesia sendiri. Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Misrah, misalnya, menciptakan sebuah kendaraan (mobil) ramah lingkungan dengan menggunakan energi listrik tanpa bahan bakar minyak (BBM).

“Ide ini tidak diterima industri karena pengaruh perusahaan-perusahaan minyak yang masih sangat kuat,” kata Misrah.

Ekonom dari Universitas Indonesia (UI), Faisal Basri, juga mengaku bingung dengan sikap pemerintah terkait energi terbarukan ini. Faisal menceritakan, pernah ia dan rekan-rekannya membuat pembangkit listrik tenaga mikrohidro yang ramah lingkungan di sebuah kampung yang tidak dialiri listrik. Namun, tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, tiba-tiba Perusahaan Listrik Negara (PLN) masuk ke desa tersebut yang pada akhirnya mematikan operasional mikrohidro karena masyarakat lebih memilih listrik PLN yang lebih murah.

“Di sini terjadi salah urus sumber energi. Pemerintah malahan menjual sumber energi yang murah ke luar negeri. Sedang yang mahal justru kita konsumsi,” tuturnya.

Salah urusnya sumber energi jangan dibiarkan berlarut-larut dan harus mendapat penanganan secepatnya, agar kualitas manusia Indonesia beserta lingkungannya tidak terus memburuk. [SP/Erwin Lobo]

Advertisements