http://www.bisnis.com
Krisis listrik di negeri ini sudah jelas di depan pelupuk mata. Sebenarnya krisis listrik ini tidak akan terjadi jika pemerintah dan DPR mengikuti saran para peneliti energi, yaitu pada 2004 perlu dibangun pembangkit listrik skala besar.

Para peneliti sudah lama memberi warning bahwa dengan tingkat pertumbuhan kebutuhan listrik nasional rata-rata 12,5% per tahun akan mustahil dipenuhi dengan pembangkit konvensional.

Hal ini karena pembangkit konvensional yang berasal dari angin, biomassa, panas bumi, matahari, dan air belum mampu menghasilkan listrik dalam skala besar, sedangkan pembangkit batu bara menimbulkan berbagai masalah lingkungan.

Salah satu cara realistis yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan listrik dalam skala besar adalah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Namun, PLTN masih diragukan oleh mereka yang belum paham mengenai teknologinya. Bahkan, PLTN ditarik pada ranah politik.

Padahal, teknologi PLTN sudah mapan, telah dipakai untuk mencukupi kebutuhan energi paling besar di seluruh dunia. Ada lebih dari 500 unit PLTN di dunia.

Beberapa waktu lalu para kiai di Jawa Tengah mengeluarkan fatwa ‘haram’ terhadap PLTN. Ini wajar saja, karena mereka hanya mendapat informasi sepihak dari pihak yang kontra.

Hal ini diperburuk lagi dengan informasi yang dibesar-besarkan tentang kecelakaan Chernobil yang diibaratkan seperti jatuhnya bom nuklir di Hiroshima. Kenyataannya, kecelakaan Chernobil hanya menelan korban langsung maupun tidak langsung sebanyak 56 jiwa. Bandingkan dengan kecelakaan pabrik kimia Bopal di India yang menelan korban ribuan jiwa.

Kecelakaan pengendara sepeda motor di Indonesia menyebabkan kematian bagi sedikitnya 30.000 jiwa. Perbandingan seperti ini tentu tidak sepenuhnya relevan tetapi jangan dibandingkan juga antara PLTN dan bom nuklir.

Reaksi bom nuklir di Hiroshima memang sengaja dibuat menimbulkan reaksi berantai yang tidak terkendali, sedangkan PLTN, reaksi nuklir yang terjadi dikontrol oleh sistem kontrol (control rod) yang sangat canggih, sehingga menghasilkan energi yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia.

Demikian juga untuk sistem keselamatannya. PLTN generasi sekarang mempunyai sistem keselamatan yang sangat andal, sehingga kebolehjadian terjadinya kecelakaan sangat kecil.

Mengapa Jepang yang pernah dibom nuklir dan menelan banyak korban jiwa tidak menimbulkan traumatis terhadap nuklir? Negeri Sakura itu memiliki PLTN yang dibangun di dekat keramaian di sepanjang pantai dan jumlahnya sangat fantastis, 55 unit.

Mengapa pula Iran yang, notabene mempunyai minyak bumi melimpah, justru sedang membangun empat unit PLTN, masing masing sebesar 2.000 MW produksi Rusia. Mengapa para ulamanya tidak mengeluarkan fatwa haram? Jawabannya sangat sederhana, karena PLTN itu aman dan bermanfaat.

Energi ‘seksi’

Beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Thailand mengatakan energi nuklir itu ‘seksi’. Oleh karena itu, negara tetangga tersebut juga memutuskan membangun PLTN dalam waktu dekat. Demikian juga Vietnam pada 2015 dijadwalkan membangun PLTN pertama dengan kapasitas 2.000 MW.

Ditinjau dari aspek keselamatan, PLTN sangat aman. Hal ini karena PLTN menggunakan sistem yang dikenal dengan defence indepth (pertahanan berlapis-lapis).

Perlindungan pertama adalah pada matriks bahan bakar. Hasil reaksi fisi akan tetap berada dalam matriks bahan bakar. Pada saat kondisi normal atau apabila terjadi kecelakaan, kelongsong bahan bakar akan berfungsi sebagai pelindung kedua untuk mencegah keluarnya zat radioaktif.

Perlindungan ketiga, yaitu sistem pendingin. Jika zat radio aktif masih lolos dari sistem pendingin, masih ada perlindungan keempat, yaitu sistem pengungkung berupa baja dan beton setebal dua meter. Chernobil tidak menggunakan konsep ini.

PLTN generasi sekarang menggunakan sistem keselamatan yang boleh dikatakan sempurna, seperti AP 600 menggunakan sistem pasif. Jika terjadi kecelakaan paling parah pun (severe accident), zat radioaktif didesain tidak akan keluar sedikit pun, sehingga dipastikan akan aman dari masyarakat.

Bahkan seandainya semua sistem keselamatan yang ada tidak berfungsi (mal function system), PLTN didesain melindungi dirinya sendiri yang dikenal dengan konsep sistem pasif.

Konsep sistem pasiv, jika pompa sirkulasi pendingin tidak bekerja, sistem akan bekerja secara sirkulasi alamiah (natural circulation), sehingga bahan bakar yang leleh akan dingin dengan sendirinya dan terkungkung dalam bejana pengungkung reaktor. Hal ini yang menyebabkan kecelakaan di Three Mile Island, AS pada 1978, tidak menelan korban jiwa.

Pada kecelakaan di Monju, Jepang, hanya menelan korban satu orang, itu pun meninggal bukan karena efek radiasi, melainkan karena terpental oleh tekanan fluida yang menyemprot akibat pipa bocor pada sisi tersier.

Ditinjau dari pengangkutan bahan bakar, karena bahan bakar PLTN sangat kecil dibandingkan dengan PLTU batu bara, sistem pengangkutannya sangat mudah, sehingga kontinuitas operasi PLTN sangat terjamin.

Untuk memproduksi listrik 2.000 MW, misalnya, hanya dibutuhkan uranium dengan berat sekitar 2 kg, dan dalam siklus penggunaan yang panjang, yaitu 1,5 tahun.

Bandingkan dengan PLTU batu bara, dengan produksi listrik yang sama, dibutuhkan ratusan ton batu bara dengan siklus yang sangat pendek, sehingga akan menyulitkan sistem transportasinya. Akibatnya, kontinuitas operasinya pun kurang andal.

Kenyataan ini terlihat di Indonesia. Meskipun batu bara melimpah, dengan keterlambatan pengangkutan, PLTU tidak bekerja semestinya sehingga mengganggu pasokan listrik secara nasional. Hal ini diperburuk dengan naiknya harga batu bara di pasar dunia. Akibatnya, para pengusaha tergiur membuka keran ekspor lebih besar, sehingga pasokan batu bara nasional pasti terganggu.

Cadangan uranium di Indonesia sangat melimpah, sekitar 12.409 ton U308 yang tersebar di daerah Kalan, Kalbar. Perinciannya, 907 ton terukur, 7.100 ton terindikasi, 2.004 ton tereka, dan 2.398 ton spekulatif.

Jumlah ini belum termasuk di tempat yang potensial seperti di Papua. Ini merupakan potensi yang cukup besar bagi Indonesia untuk bisa mengembangkan teknologi bahan bakar PLTN.

Oleh Khairul Handono
Peneliti di Pusat Teknologi Reaktor dan Keselamatan Nuklir, Puspitek

Advertisements