http://www.investorindonesia.com
16/07/2008 23:42:25 WIB
Oleh Rudi S Pakpahan

JAKARTA, Investor Daily
Risiko memiliki dua konotasi: peluang dan bahaya, termasuk untuk pemanfaatan energi nuklir. Apakah bahaya tenaga nuklir lebih besar dari peluangnya sehingga kita menolaknya?

Beberapa risiko atau bahaya dari tenaga nuklir adalah kecelakaan reaktor, kebocoran radiasi, limbah nuklir, risiko proliferasi senjata nuklir, menjadi target terorisme, biaya pembangunannya yang tinggi, dan kerusakan alam karena penambangan uranium.

Kekhawatiran utama dari tenaga nuklir adalah kecelakaan reaktor nuklir. Bencana paling dahsyat dalam sejarah adalah bocornya reaktor Chernobyl pada 1986 yang menewaskan 56 pekerja, 9 anak karena kanker tiroid, dan perkiraan 4 % tambahan kematian karena kanker di masa depan pada penduduk sekitarnya.   Bencana ini juga menyebabkan pengosongan kota Pripyat yang berpenduduk 49.000 jiwa dan 76 desa didekatnya.

Bencana kedua paling dahsyat setelah Chernobyl adalah reaktor Three Mile Island (TMI) pada 1979. Tidak ada korban jiwa pada musibah ini, bahkan bejana reaktor dan kubah pelindung tidak rusak. Perbedaan yang mencolok antara Chernobyl dan TMI menunjukan jurang yang lebar antara teknologi dan manajemen keselamatan kedua tipe reaktor ini.

Reaktor generasi kini (seperti AP1000) jauh lebih aman dari reaktor TMI. Kalau probabilitas kerusakan reaktor TMI diukur dalam puluhan ribu tahun pengoperasian, maka probabilitas kerusakan reaktor generasi sekarang diukur dalam jutaan tahun pengoperasian. Sistem keselamatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sekarang menggunakan konsep dan teknologi sistem pengamanan berlapis, pasif dan aktif, dengan pendekatan sistematik, hal mana memastikan bahwa kecelakaan seperti Chernobyl tidak akan terulang.

Risiko dalam Perbandingan

Seberapa besarkah ancaman kecelakaan PLTN dibandingkan pembangkit listrik lain? Hasil studi menunjukkan kematian dari kecelakaan berbagai jenis pembangkit listrik per TWy adalah: 883 untuk Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA), 342 untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, 85 untuk PLTU gas dan 8 untuk PLTN. Jadi PLTN tidaklah lebih berbahaya daripada pembangkit listrik lainnya.

Persyaratan pemilihan lokasi yang ketat meminimkan dampak PLTN terhadap lingkungan. Persyaratan ini salah satunya harus menjamin paparan radiasi baik dalam kondisi normal maupun kondisi kecelakaan tetaplah rendah. Hasil studi menunjukan akibat penduduk terpapar kebocoran radiasi dari PLTN adalah kemungkinan pengurangan usiasebesar 15 menit. Akibat dari kecelakaan pengangkutan bahan radioaktif adalah kemungkinan satu kematian per abad per total penduduk AS.

Ironisnya, pembakaran batu bara melepaskan lebih banyak zat radioaktif ke lingkungan (hampir 40 jenis) daripada PLTN dalam kondisi normal. PLTU batu bara 1.000 MWe melepaskan sekitar 27 ton material radioaktif per tahunnya.

Kekhawatiran lain dari tenaga nuklir adalah limbah nuklirnya. Begitu pula PLTN dapat menjadi target terorisme dan sabotase, baik berupa serangan langsung ke fasilitas PLTN, maupun kemungkinan pencurian bahan bakar nuklir. Namun, dengan sistem keamanan yang tinggi dan berlapis(, PLTN dapat bertahan dari serangan teroris bahkan dengan skala serangan seperti 11 September 2001.

Soal biaya pembangunan PLTN yang saat ini 25 % lebih mahal dari PLTU batu bara, namun dalam jangka panjang, harga bahan bakar nuklir relatif lebih murah dari bahan bakar fosil, sehingga harga listrik dari PLTN akan stabil.

Peluang Masa Depan

Peluang utama tenaga nuklir adalah PLTN tidak menghasilkan gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global. Energi fosil (minyak, gas dan batubara), bahkan PLTA dan biofuel dapat meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca. Peluang penting lainnya adalah PLTN tidak menghasilkan gas polutan seperti SOx, NOx dan merkuri.

PLTN menghasilkan energi yang berkelanjutan (sustainable) dalam skala yang besar, sebanding dengan energi alternatif lainnya: geo-thermal. Energi sinar matahari dan angin juga dapat memberikan daya yang besar dan sangat bersih, namun ketergantungannya pada cuaca menyebabkan tidak dapat 100% diandalkan. Energi biofuel, micro-hydro dan pasang surut dapat diandalkan untuk skala kecil dan menengah.

Peluang energi nuklir dalam kaitannya dengan masa depan adalah potensi sumbernya yang bisa dikatakan tidak terbatas. Setelah uranium-235 habis terpakai (perkiraan dalam 50 tahun dengan tingkat konsumsi sekarang), PLTN generasi selanjutnya akan menggunakan uranium-238 yang dikonversikan ke plutonium-239. Cadangan uranium-238 yang dapat ditambang secara ekonomis diperkirakan mampu memasok PLTN yang ada sekarang selama 3.000 tahun. Bandingkan dengan cadangan batu bara, minyak dan gas yang akan berakhir masing-masing setelah 210, 40 dan 70 tahun.

Mempertimbangkan bahaya dan peluang di atas, wajarkah kita menolak PLTN sebagai alternatif sumber energi? Tidak dapat dipungkiri, bahan bakar fosil yang menguasai 90 % pemakaian energi dunia saat ini akan tetap mendominasi untuk beberapa waktu mendatang.

Namun, dengan semakin nyatanya pemanasan global dan meningkatnya polusi udara, di samping untuk penghematan pemakaian energi fosil itu sendiri, kita perlu menggencarkan pemakaian energi alternatif yang bersih dan ramah lingkungan. Tenaga nuklir, bersama-sama dengan sumber energi lainnya dapat menjadi pilihan.

*) Penulis menyelesaikan program S2 pada University of Michigan, Ann Arbor (1992), dalam bidang teknik nuklir.

Advertisements