http://www.kompas.com
Pontianak Uji Coba PJU Sel Surya
Kamis, 8 Mei 2008 | 01:13 WIB

Pontianak, Kompas – Pemerintah Kota Pontianak, Kalimantan Barat, menguji coba satu lampu penerangan jalan umum atau PJU dengan energi surya. Penggunaan secara massal lampu PJU dengan sel surya itu masih terkendala investasi awal yang besar.

”Jika memperhitungkan usia panel sel surya hingga 15 tahun ke depan, PJU menggunakan energi surya ini lebih ekonomis dibanding listrik PLN. Namun, melihat investasi awal begitu besar, tampaknya keuangan daerah tidak mampu mengganti semua PJU konvensional,” kata anggota tim PJU Dinas Pekerjaan Umum Kota Pontianak, Makmun Mursalin, Selasa (6/5).

Investasi satu titik lampu PJU konvensional 250 watt kualitas terbaik butuh Rp 3 juta, sedangkan satu titik PJU 40 watt dengan sel surya butuh Rp 26 juta.

Dari total 11.120 titik lampu PJU, traffic light, dan lampu taman kota, setiap bulan Pemkot Pontianak rata-rata mengeluarkan Rp 600 juta untuk membayar tagihan listrik—berarti Rp 7,2 miliar setahun. Biaya perawatan setiap tahun dianggarkan Rp 1,4 miliar, maka biaya total penerangan umum Rp 8,6 miliar.

Lampu PJU sel surya mahal pada investasi awal, tetapi biaya operasional dan pemeliharaannya tak begitu besar. ”Komponen baterai yang harus periodik diganti,” kata Makmun.

Secara terpisah, Ketua Pusat Studi Energi Terbarukan Universitas Tanjungpura Ismail Yusuf menyatakan, potensi intensitas cahaya matahari di Kalbar ada 5 KWh/m>sup<2>res<>res<, lebih besar dari pusat pengembangan listrik energi surya Nagoya, Jepang, yang 4 KWh/m>sup<2>res<>res<. Di Nagoya saat ini telah terpasang pembangkit listrik energi surya kapasitas 4.000 MW dan ditargetkan pada 2010 menjadi 5.000 MW. Kota Pontianak berada di garis khatulistiwa.

Sementara itu, desa-desa di wilayah pedalaman Nanggroe Aceh Darussalam memilih menggunakan listrik tenaga surya karena jaringan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) tak masuk ke desa-desa. Dengan cara itu, kebutuhan minimum warga Desa Lesten pun tercukupi.

Sudir, warga Desa Lesten, menuturkan, bantuan pembangkit listrik tenaga surya baru turun beberapa tahun terakhir. Sebelumnya mereka menggunakan kayu bakar atau membeli minyak tanah dari Pining, yang terasa amat mahal.

Sudir mengatakan, sekitar 15 rumah warga di Kampung Telaga, pecahan Desa Lesten, sudah menggunakan panel surya. Setidaknya tiga lampu dengan daya kurang dari 40 watt dapat menyala malam hari.

Panel surya yang digunakan sebagian besar warga Lesten adalah panel buatan PT Lembaga Elektronik Negara, Bandung, yang mampu menghasilkan daya listrik 50 watt dengan output tegangan 17,0 volt. (why/mhd)

Advertisements