http://www.seputar-indonesia.com

Energi Nuklir adalah Anugerah Tuhan
Sunday, 04 May 2008

Kusmayanto Kadiman Menristek
MENRISTEK Prof.Koesmayanto Kadiman menegaskan keyakinannya akan kemampuan Indonesia untuk memanfaatkan energi nuklir di PLTN.

Berbagai pandangan miring tentang nuklir dianggapnya sebagai suatu bentuk ketakutan atas sesuatu yang tidak diketahui.Nuklir memiliki potensi yang sangat besar untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis energi

Apakah energi nuklir memang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia?

Jelas bisa.Nuklir selayaknya dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia. Energi nuklir adalah anugerah Tuhan yang luar biasa,yang harus kita syukuri keberadaannya.Energi nuklir sudah memiliki peran vital dalam memasok listrik dunia dan merupakan sumber listrik utama pada sejumlah negara.Tercatat,439 PLTN beroperasi di 32 negara.

Sementara pemanfaatan limbah radioaktif dari PLTNdan penggunaan radioisotop dalam pertanian,industri, riset dan kedokteran. Energi nuklir lebih menguntungkan ditinjau dari segi lingkungan,karena tidak menghasilkan unsur berbahaya, seperti logam berat (Cd,PB,As,Hg,V),SO2,Nox, dan VHC,dan dalam hal ini PLTNdapat membantu mengurangi hujan asam dan pembatasan emisi gas rumah kaca.

Sejauh mana bahaya pemanfaatan energi nuklir?

Tidak ada teknologi yang seratus persen aman.Selama ini,sudah banyak negara– bukan hanya yang berstatus maju/new industrializing countries,melainkan juga negara berkembang seperti Pakistan–yang sudah menikmati teknologi PLTNdan aman-aman saja. Sekitar 17% listrik di dunia berasal dari energi nuklir.

Negara yang paling banyak menggunakan listrik nuklir adalah AS dengan 103 PLTN dan menyumbang 20% listrik di sana.Sementara secara persentase listrik,negara yang paling banyak memanfaatkan nuklir adalah Prancis yang dengan 59 PLTN menyumbang 75% listrik domestik, bahkan diekspor ke negara lain.

Di Asia,Korea Selatan adalah negara dengan persentase listrik nuklir tertinggi, yaitu 40% dari 20 PLTN. Kemajuan teknologi,pengetatan peraturan,dan pengawasan telah membuat nuklir menjadi semakin aman.Risiko terhadap manusia dan lingkungan menjadi jauh lebih kecil dibanding risiko industri yang lain.

Bagaimana kesiapan teknologi Indonesia untuk mengembangkan PLTN?

Indonesia saat ini memiliki tiga reaktor riset.Pengoperasian dan perawatan ketiga reaktor itu memberikan pengalaman berharga bagi kita guna menuju ke era listrik nuklir. Perlu diketahui,pengoperasian reaktor riset jauh lebih sulit dan rumit dibandingkan PLTN. Adapun desain suatu PLTN yang dikembangkan di Indonesia berpedoman pada filosofi ”Defense in Depth”(pertahanan berlapis) untuk keselamatan yang mampu mencegah insiden yang mungkin dapat menjalar menjadi kecelakaan.

Semuanya serbaotomatis. Dalam bidang limbah, Batan memiliki unit yang mempelajari dan melakukan pengelolaan limbah nuklir. Unit pengelolaan limbah nuklir Batan di Serpong menampung dan mengolah semua limbah nuklir yang berasal dari industri di seluruh Indonesia.Dengan pengalaman ini,pengelolaan limbah PLTNnantinya tidak menjadi masalah bagi SDMkita.

Bagaimana kesiapan SDM Indonesia di bidang ini?

Selain pengalaman SDM yang sudah kita miliki,saat ini masih ada cukup waktu untuk meningkatkan penguasaan teknologi nuklir yang lebih modern,baik untuk pengoperasian, penyiapan bahan bakar maupun pengelolaan limbahnya. SDMkita sudah terlatih dalam perawatan komponen reaktor penelitian nuklir.

Saat ini Batan memiliki pusdiklat yang bersertifikasi dan punya Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) yang siap mencetak ilmuwan dan teknolog nuklir masa depan. Selain itu berbagai perguruan tinggi seperti UI,UGM,dan ITBmemiliki program pengajaran yang terkait pemanfaatan Iptek nuklir.

Apakah PLTNini bisa menjadi jalan keluar krisis energi Indonesia?

Kita tentu mengharapkan nuklir bisa berperan dalam membantu mengatasi krisis energi nasional.PLTN diperlukan untuk mendukung terwujudnya keamanan pasokan nasional secara berkelanjutan energi (energy security of supply). PLTNdinilai secara kompetitif terhadap PLTBatu bara, di mana PLNsendiri telah membuat studi pada 2005,yang berasumsi pertumbuhan listrik 7% per tahun.

Di studi tersebut, penggunaan BBMdan gas tidak dipertimbangkan karena alasan yang sudah jelas,ketersediaan sumber daya.PLTNdapat menghasilkan energi listrik kapasitas tinggi pada lahan yang luasnya terbatas,dan operasionalnya tidak tergantung pada fluktuasi harga BBMdi dunia.

Jadi,keunggulan nuklir sudah jelas.Selain dapat membantu mengurangi laju pemanasan global karena PLTNramah lingkungan tanpa gas rumah kaca dan gas buang berbahaya lainnya,ia juga aman dan ekonomis.

Bagaimana pandangan dunia internasional terhadap upaya pengembangan energi nuklir Indonesia?

Perlu kita ingat,Indonesia punya hak utuh untuk mengelola kepentingan domestiknya sendiri.Di samping itu,Indonesia mempunyai sikap bebas dan aktif dalam melakukan diplomasi internasional.Patut dicatat,dalam memenuhi kebutuhan mendapat dukungan negara-negara di dunia, prestasi diplomasi putra-putri bangsa sudah sangat baik. Sejauh ini kita mendapatkan dukungan internasional yang kuat.

Sebagai anggota BadanTenaga Atom Internasional (IAEA),kita mendapatkan bantuan teknis yang cukup besar.Selain itu,ada bantuan bilateral maupun regional seperti dari Amerika Serikat, Jepang,dan Korea Selatan. Satu lagi prestasi internasional kita di bidang PLTN, yaitu pada 8th ASEAN Science and Technology Week di Filipina (2008),Indonesia telah ditunjuk menjadi focal point (negara penggerak) untuk masalah keselamatan dan keamanan nuklir di wilayah Asia Tenggara.(*)

PROF KOESMAYANTO KADIMAN
Menteri Negara Riset dan Teknologi

Penanganan Serius Pemerintah
Sunday, 04 May 2008

Masalah PLTN jelas sudah menjadi politis.Pertanyaan bukan lagi sekadar kemampuan teknis,melainkan sudah melebar ke ranah ketidakpercayaan terhadap kemampuan pemerintah untuk menjalankan proyek ini secara proporsional.

Bayangan terhadap korupsi selalu mengintai benak masyarakat. Ketakutan akan PLTN yang selalu digambarkan sebagai monster yang menakutkan,akhirnya mengurangi objektivitas penilaian masyarakat. Pun begitu,inilah realita yang harus dihadapi dan menjadi tantangan pemerintah.PLTN harus dijelaskan kepada masyarakat dalam bahasa sederhana masyarakat.

Bukan dengan bahasa penuh retorika penguasa yang selalu meninggikan potensi dan menafikan kekurangan dan akibat yang bisa timbul. Untuk masalah regulasi,mungkin sudah sewajarnya pemerintah menguatkan bidang yang satu ini. Pemerintah bisa saja menerapkan sistem monopoli untuk pemanfaatan nuklir ini seperti yang dilakukan Prancis dengan perusahaan AREVAnya.

AREVA di sana mengontrol setiap langkah industri nuklir mulai penambangan uranium,pengayaan, pembuatan desain pembangkit, konstruksi pembangkit hingga program daur ulang limbah radioaktif yang membutuhkan penanganan khusus. Tentu saja,monopoli yang dilakukan bukan seperti yang sudahsudah terjadi di Indonesia dengan mengorbankan efisiensi dan kualitas.

Keseriusan pemerintah jika ingin melaksanakan proyek ini tak bisa ditawar-tawar lagi.Proyek dengan risiko setinggi ini harus memperkirakan segala kemungkinan dan dampak yang bisa saja terjadi.Pasalnya,kita sekarang berurusan dengan manusia dan alam.Kedua-duanya dapat diperkirakan namun tak dapat dipastikan. Sebaik apapun prosedur yang diterapkan,tetap saja ada kemungkinan human error.

Kita harus belajar dari Jepang yang menerapkan standar tinggi bagi setiap reaktor nuklirnya. Tiap reaktor di sana didesain dapat menahan gempa berkekuatan 6,5 skala Richter (SR).Bahkan,kejadian gempa di Nigata pada 16 Juli tahun lalu dengan besaran 6,8 SR dapat dilewati hanya dengan sedikit kebocoran yang dapat ditanggulangi sistem pertahanan lapis lima pada reaktor Kashiwazaki-Kariwa.

Untuk menjamin keberlangsungan PLTN yang aman,baik bagi manusia maupun alam,kontrol masyarakat sangat diperlukan.Fungsi kontrol dapat dilakukan dalam bentuk selalu mengawasi pelaksanaan proyek dan selalu menjadi mitra kritis dari pemerintah.Memang dalam pembangunan ini ada beberapa pihak yang diuntungkan secara langsung, khususnya investor dan PLN.

Namun bagaimanapun proyek ini akan memberikan dampak yang baik bagi masyarakat, dan dilaksanakan untuk kepentingan masyarakat. Mimpi akan listrik murah akan lebih mudah terwujud dengan efisiensi yang dijanjikan PLTN.Tingkat inflasi yang biasanya mengikuti pergerakan TDL (tarif dasar listrik) bisa dikurangi.Kebergantungan pada bahan bakar fosil juga bisa kita kurangi,seperti pengalaman di Prancis,yang 75% kebutuhan listriknya disuplai PLTN.

Bahkan, Prancis mampu mengekspor listrik ke berbagai negara tetangganya. Namun,jangan sampai mimpi indah yang datang dari berbagai angka yang menjanjikan seputar pemanfaatan PLTN menjadi awal malapetaka bagi bangsa ini.Diperlukan keseriusan dan penanganan yang maksimal dari pemerintah untuk menjaga pelaksanaan proyek ini tetap berkesinambungan dan terus berada di jalur yang tepat.

Kesalahan terkecil dalam proyek ini dapat berakibat pada bencana terbesar bagi bangsa ini.Jangan sampai berbagai kekhawatiran terhadap risiko bencana menutupi berbagai keberhasilan pemanfaatan moda energi yang satu ini. (pangeran ahmad nurdin/m azhar)
Teknologi dan Kebijakan untuk Masa Depan Tenaga Nuklir
Saturday, 03 May 2008

Hingga saat ini, tidak sedikit pandangan negatif terhadap nuklir. Masyarakat awam akan merasa terkejut dan dihantui ketakutan mendengar kata radioaktif, radiasi.

Hal ini disebabkan kurangnya informasi bagi masyarakat untuk memahami energi nuklir. Mengapa negara-negara Eropa dan Amerika Serikat (AS) serta negara lain tetap mengoperasikan PLTN? Sebab, mereka sudah lebih maju dan tahu ilmunya. Saya yakin bahwa banyak publik yang takut akan bahaya gempa karena Pulau Kawa ada dalam cincin api (ring of fire).

Mereka membayangkan kalau reaktor meledak, Pulau Jawa akan punah seperti terkena bom atom. Reaktor nuklir tidak bisa disamakan dengan bom atom. Untuk membuat bom atom itu memerlukan ribuan kilo uranium yang diperkaya (enrichment uranium), sedangkan untuk reaktor nuklir masa kini enrichment uranium berkadar rendah, sekitar 2–5%.

AS dan Jepang sebagai negara pengguna nuklir juga bukannya negara aman dari bencana.Namun, semuanya sudah diperhitungkan. Seandainya terjadi bencana, reaktor akan mati secara otomatis. Banyak aktivis antinuklir dan ahli lingkungan lebih menginginkan energi terbarukan.

Pada praktiknya, tidak semudah itu. Sebagai contoh, biodiesel, selain belum layak harga jualnya,juga minyak sawit atau bahan nabati lainnya masih diperlukan sebagai pangan. Dari hasil teleconference di Oregon bulan lalu, untuk menghasilkan tenaga yang sama,energi angin memerlukan sekitar 75 hektare, sedangkan nuklir memerlukan 0,5 hektare.

Kalau diperbandingkan dengan batu bara,hasilnya akan lebih mencengangkan. Setiap tahunnya pembangkit listrik berbahan batu bara memerlukan 2,6 juta ton batu bara untuk menghasilkan 1.000 MW. Sebaliknya, PLTN memerlukan bahan bakar hanya sekitar 30 ton/tahun Pergerakan antinuklir juga muncul secara sporadis di AS antara 1950 hingga 1979.Walaupun banyak tentangan, industri nuklir di AS mencapai sukses pada dekade 1965–1975.

Dalam periode itu, 224 PLTN dipesan oleh industri. Hingga 1979, berdasarkan survei, rata-rata 25–30% menentang PLTN. Setelah kasus Three Mile Island pada 28 Maret 1979, kelompok antinuklir kembali bangkit. Musibah Chernobyl pada 1986 di Ukraina juga membuat Amerika memutuskan untuk mengumpulkan data kesehatan dan lingkungan terhadap risiko pembangkit listrik bertenaga fosil sebagai pembanding terhadap tenaga nuklir untuk melihat mana yang lebih besar risikonya.

Namun, reaktor generasi pertama seperti yang dipakai di Chernobyl saat ini sudah tidak ada. Desain dan teknologi sudah dikembangkan berdasarkan pengalaman, jadi masyarakat tidak perlu takut dan dihantui ketakutan. Dalam teknik nuklir dan radiasi, untuk memproteksi keselamatan manusia dan lingkungan sudah ada perhitungannya, yakniberdasarkan asas yang disebut as low as reasonably achievable (ALARA).

Salah satu pedoman adalah menggunakan aturan National Council on Radiation Protection (NCRP) dan International Commission on Radiological Protection (ICRP) untuk menentukan jenis radioaktif dan jumlah dosis minimum yang bisa diterima organ tubuh. Skenario terjadinya kecelakaan dan penyebaran atau perpindahan radioaktif juga bisa diprakirakan dengan cara simulasi menggunakan seperangkat peranti lunak.

Regulasi

Saya percaya, kita bukan negara terbelakang, kita bangsa yang besar dan punya banyak ilmuwan dan teknokrat yang bisa memiliki PLTN seperti halnya negara lain. Syaratnya adalah adanya stabilitas politik, ekonomi, dan kejujuran. Seperti halnya di AS, setiap laboratorium nasional, universitas, dan rumah sakit yang menggunakan bahan radioaktif sadar sendiri membuang limbahnya ke tempat yang disediakan.

Kalau ada bahan radioaktif yang tertumpah, mereka tidak diperkenankan keluar dari lab sebelum petugas radiologi datang. Tidak sedikit reaktor di AS yang dicabut izinnya karena tidak mematuhi aturan dan tidak layak operasi sebelum ada inspeksi atau perbaikan. Hal ini janganlah dijadikan ajang demo antinuklir yang kurang mendukung keberadaan PLTN dan mereka menganggap membahayakan atau merusak.

Tapi, dari sini kita harus menelaah bahwa komisi nuklir di sini tidak dipengaruhi siapa pun dalam mengambil tindakan. Dalam pendirian PLTN,pemerintah juga bisa mengacu pada pengalaman negara negara maju untuk membuat aturan pernukliran (nuclear rule and regulation). Sepertinya halnya di AS,PLTN di sana harus tunduk pada badan yang disebut Nuclear Regulatory Commission (USNRC) dan status penggajian mungkin harus setara DPR atau menteri.

Sebagai pemegang kebijakan nuklir di AS staf NRC bisa bergaji di atas USD120.000 per tahun. Sebelum mendirikan PLTN, pemerintah juga harus sudah memikirkan biaya penutupan PLTN (decommissioning) yang tinggi. Biaya decommissioning bergantung pada sejumlah faktor dan lokasi, terutama jenis reaktor yang digunakan dan lokasi geografis.

Saat ini biaya rata-rata decommissioning sekitar 325 juta USD dan biaya ini harus dipikul industri nuklir tersebut. AS sendiri pada tahun fiskal 2001 mempunyai aset sekitar USD22,5 miliar untuk mengantisipasi biaya decommissioning mendatang yang bisa menelan sekitar USD40 miliar untuk semua PLTN yang ada di AS. Selain itu, juga biaya asuransi untuk menjamin kalau terjadi kecelakaan.

Saya yakin bangsa kita bisa menggarapnya,asalkanfaktor korupsi dihilangkan dan keimanan serta kejujuran ditingkatkan demi majunya generasi bangsa kita di masa mendatang. Kita masih ada waktu untuk semua ini dan kemajuan sudah mulai terlihat dengan kepemimpinan saat ini,menteri sekalipun bisa dibui kalau memang bersalah. (*)

Supriyadi Sadi
Peneliti Fisika Nuklir dan Radiasi Terhadap Kesehatan di Oregon State University.

Advertisements