Pulau Karimunjawa Salah Satu Alternatif
Jumat, 18 April 2008 | 01:14 WIB
http://www.kompas.com

Palembang, Kompas – Badan Tenaga Nuklir Nasional tahun ini tengah mengkaji beberapa tempat di luar Semenanjung Muria, Jepara, untuk lokasi pembangkit listrik tenaga nuklir. Langkah ini diambil menyusul penolakan beberapa pihak terhadap rencana pembangunan pembangkit di daerah tersebut.

Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional Hudi Hastowo ketika ditemui dalam Rapat Koordinasi Nasional Riset dan Teknologi di Palembang, Kamis (17/4), mengatakan, pihaknya saat ini belum bisa menyebutkan nama lokasi-lokasi itu karena belum semua daerah yang akan disurvei memberikan izin untuk itu. Ia mengatakan, lokasi tersebut masih di sekitar pantai utara Pulau Jawa.

Rencana pembangunan PLTN, pernah disusun sejak tahun 1960-an, hingga kini belum terlaksana, antara lain karena resistensi masyarakat yang khawatir akan dampak negatif yang ditimbulkan bila terjadi masalah dalam pengoperasiannya.

Sementara itu, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman di sela-sela acara Rakornas Ristek menyatakan setuju pada masukan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. ”Gus Dur bilang janganlah PLTN dibangun di daerah yang banyak permukiman. Bangunlah di kawasan yang secara geologi memenuhi syarat dan tak banyak penolakan dari masyarakat. Bangun saja PLTN di salah satu pulau yang tak banyak penduduknya,” katanya.

Mengingat tingginya tingkat kepadatan penduduk di Jawa, lanjut Kusmayanto, perlu dipikirkan kemungkinan pembangunan PLTN di pulau terdekat dengan Pulau Jawa yang nyaris tidak ada penduduknya. ”Kalaupun ada, penduduk itu dapat dimobilisasi dan diberi ganti untung. Kemudian di pulau tersebut dibangun PLTN dan ditarik kabel bawah laut ke Jawa,” ujarnya.

Menanggapi usulan pembangunan PLTN di luar Jawa, Hudi mengatakan, secara ekonomis, pembangunan PLTN di luar Pulau Jawa akan meningkatkan harga listrik karena ada tambahan komponen ongkos transmisi. ”Secara teknis, kita akan ditertawakan negara maju karena kita membuat keputusan teknis dengan memasukkan pertimbangan yang tidak normal,” ujarnya.

Ada usulan menyebut Pulau Karimunjawa, sekitar 60 kilometer utara Jawa. Dengan biaya transmisi 1 sen dollar AS/kWH, menurut Hudi, masih relatif mahal karena ada tambahan 25 persen dari total biaya 4 sen dollar/kWH bila dibangun di Muria. Pulau Jawa tetap menjadi pilihan karena permintaan tinggi.

Menurut Hudi, di negara mana pun rencana pembangunan PLTN selalu ada penolakan dari masyarakat. ”Masalahnya, alasan penolakan itu proporsional atau tidak. Bila penolakan itu diakomodasikan, kita harus siap untuk ditertawakan,” ujarnya. Sekarang telah ada komitmen dari beberapa negara ASEAN untuk membangun PLTN. Vietnam telah berkomitmen membangun PLTN tahun 2020. (YUN)

Advertisements