Sekolah Jangan Dilibatkan Polemik PLTN
http://www.sinarharapan.co.id
Kudus-Kementerian Negara Riset dan Teknologi dinilai tidak etis melibatkan satuan pendidikan (sekolah) di wilayah Kabupaten Kudus, Jepara dan Pati, Jawa Tengah, dalam polemik rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Pembagian buku suplemen berjudul PLTN Manfaat dan Potensi Bahayanya kepada satuan pendidikan setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah tersebut hanya akan mengganggu proses belajar mengajar belaka.
Pasalnya isi buku itu tidak seimbang dan hanya mempromosikan PLTN saja, diungkap tokoh pendidikan Kudus Drs M Basuki Sugita kepada SH, Selasa (8/4). “Sebagai pusat ilmu buku tersebut cukup bagus. Hanya sayang informasi yang diberikan hanya sepihak. Jelas isi buku mengajak para guru dan siswa mendukung PLTN,” ujarnya.
Akhir Maret lalu melalui Kantor Dinas Pendidikan diedarkan buku gratis berjudul PLTN Manfaat dan Potensi Bahayanya. Buku mewah berwarna setebal 25 halaman tersebut, menurut Deputi Menteri Negara Riset dan Teknologi Bidang Dinamika Masyarakat Prof Dr Carunia Mulya Firdausy, untuk memberikan pengenalan tentang PLTN sebagai salah satu sumber energi.
Basuki, pencipta mata pelajaran Pendidikan Antikorupsi ini, berpendapat akan jauh lebih berguna jika Kementerian Negara Riset dan Teknologi memberikan buku gratis seputar energi alternatif, seperti energi surya, angin dan matahari. Buku energi alternatif justru tepat dan berdaya guna untuk merangsang minat belajar para siswa.
Misalkan saja dibuat contoh rangkaian sederhana energi angin yang bisa dipraktikkan guru dan siswa. Jika gerakan energi alternatif dimasalkan tentu bisa memberikan dampak signifikan pengurangan kebutuhan bahan bakar minyak. “Langkah-langkah seperti ini yang justru dibutuhkan sekolah, guru dan siswa. Berikan mereka kail biar merangsang minat dan bakat di tingkat bawah,” ujar Basuki.
Buku gratis terbitan pemerintah hanya memberikan gambaran positif PLTN. Tidak ada hal negatif tertuang pada buku itu.
“Kebocoran PLTN di Chernobyl, Ukraina, sedikit pun tidak disinggung, padahal dampak yang ditimbulkan luar biasa dan masih terasa sampai sekarang,” ujar guru matematika SMP Keluarga di Kudus ini.
Ia menambahkan agar buku itu tidak mengundang pro dan kontra dilingkup satuan pendidikan, sebaiknya segera diterbitkan buku baru yang lebih terinci mengupas PLTN.
(SU Herdjoko)

Advertisements