http://www.jurnalnasional.com
by : Nunik Triana
MENDENGAR kata nuklir bagi sebagian orang mungkin adalah kata yang sangat menakutkan. Pikiran pun biasanya akan langsung terbawa pada insiden jatuhnya bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945. Efek radiasi bom atom yang meluluhlantakkan kedua kota tersebut hingga kini terus dikenang, hingga nuklir yang menjadi isi dari bom ini selalu dipandang sebagai momok.

Padahal, jika digunakan sesuai dengan kaidah yang benar, energi nuklir sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Maka, untuk menjaga penggunaan energi nuklir tetap pada jalurnya, Indonesia pun pada tahun 1998 membentuk Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten). Badan ini kini dipimpin oleh As Natio Lasman.

Untuk mengetahui seberapa besar peran dan langkah-langkah Bapeten dalam melindungi masyarakat Indonesia dari efek nuklir, beberapa waktu lalu Jurnal Nasional sempat berbincang dengan Lasman yang akhir Februari lalu baru saja diangkat sebagai Kepala Bapeten. Berikut kutipannya:

1. Sebagai kepala Bapeten yang baru, langkah-langkah apa yang akan Anda lakukan untuk memajukan badan ini?

Pertama, dari sisi peraturan kami segera menutup hal-hal yang masih bolong-bolong. Jadi, saat ini ada beberapa masalah yang memang belum ada aturannya, tetapi sebenarnya diperlukan betul karena terkait dengan keselamatan para pengguna. Nah, saat ini kami sedang buat aturan itu. Kedua, dari segi perizinan kami akan dorong terus pelayanan prima untuk para pengguna alat-alat yang terkait dengan radiasi dan nuklir, sehingga kesan ijin berbelit dan sulit bisa ditiadakan. Ketiga, masalah inspeksi. Kami akan lakukan inspeksi dengan lebih komprehensif sekaligus melakukan penegakan hukum.

Jadi, bagi para pengguna alat radiasi yang tidak memiliki izin akan kami usahakan untuk memiliki izin, tetapi kalau tetap membandel dan tidak mau alatnya diawasi maka bagi pengguna yang besar kami akan lakukan penegakan hukum langsung. Tetapi khusus untuk pengguna kecil, yang berada di daerah, karena mereka terbatas akses informasinya maka akan kita lakukan pembinaan dulu. Terakhir, Bapeten mencoba untuk menegakkan citra badan. Dalam hal ini saya berusaha untuk melakukan penataan ke dalam, agar para karyawan Bapeten benar-benar melakukan pekerjaannya.

2. Bagaimana masyarakat bisa mengetahui bahwa alat radiasi yang mereka pakai sudah melewati pengawasan Bapeten?

Rencana jangka panjang kami, akan gunakan striker untuk alat-alat yang sudah kami inspeksi. Jadi nantinya semua alat yang telah kami inspeksi akan ditempeli striker. Striker ini juga akan ditulis jangka waktunya, jadi pasien atau konsumen bisa lihat apakah alat tersebut sudah “kedaluwarsa” atau belum, untuk kemudian diinspeksi lagi. Kalau nggak ada strikernya maka dipastikan alat itu nggak diawasi. Maka silakan masyarakat melapor ke Bapeten, jadi kami juga dapatkan informasi ada rumah sakit atau industri yang belum mendaftar sehingga kami bisa segera menindaklanjutinya.

3. Indonesia hingga kini belum memiliki PLTN, kira-kira bagaimana PLTN dapat secara aman diimplementasikan di Indonesia?

Pertama, PLTN itu haruslah yang bersifat acceptable, dapat diterima. PLTN itu juga harus online yaitu berada di atas tanah. Untuk melakukan ini Bapeten mengacu pada standard internasional. Syarat ke dua adalah proven teknologi, artinya semua perangkat dalam PLTN itu baik segi sistem atau power paling tidak sudah digunakan selama tiga tahun. Kalau PLTN-nya masih sangat baru, pasti kami tolak karena belum ada contohnya. Kami juga tidak ingin PLTN Indonesia jadi peroyek uji coba.

4. Seberapa penting Indonesia memiliki PLTN, dan apakah kita memang sudah siap?

Sekarang di dunia sudah terdapat 450 PLTN, baik yang dimiliki oleh negara yang kaya akan sumber daya energi atau tidak. Dan kalau melihat tren semakin melambungnya harga minyak dunia maka mau nggak mau semua negara di seluruh dunia kemungkinan akan pakai PLTN. Lalu tentang siap atau tidak, kalau dari segi sumber daya manusia dan pengalaman ahli-ahli di stasiun tenaga nuklir nasional mengoperasikan tiga buah reaktor nuklir, menurut saya mereka sudah siap operasikan PLTN di Indonesia.

5. Keuntungan Indonesia jika mengaplikasikan tenaga nuklir?

Pertama, harga listrik akan menjadi kompetitif. Kedua, meskipun harga minyak dunia gonjang-ganjing maka tidak akan memengaruhi operasi PLTN karena PLTN itu sekali dimasukkan bahan bakar maka bisa bertahan 12 sampai 24 bulan, tergantung jenisnya. Pendistribusian bahan bakar itu kan juga sangat tergantung pada alam, seperti pasokan batu bara yang terhambat jika ombak tinggi di laut Jawa. Nah, PLTN itu nggak akan terpengaruh.

6. Pekerjaan Anda, adalah pekerjaan yang bergelut dengan radiasi dan nuklir, apakah Anda pernah merasa takut menghadapi efek radiasi?

Tidak, karena saya tahu prinsipnya. Memang ada kiat untuk menghindari efek negatif radiasi, seperti jika ada materi radioaktif kita sebisa mungkin menggunakan pelindung sebagai perisai. Kalau alat itu tidak ada, maka kita bisa bermain dengan waktu untuk meminimalisasi efeknya. Semakin pendek waktu terpapar radiasi, maka semakin baik. Sederhana saja sebenarnya.

7. Radiasi bagi sebagaian besar masyarakat adalah sinar yang menakutkan karena dapat menyebabkan penyakit dan kematian, tanggapan Anda?

Hal ini yang perlu diluruskan. Memang wajar saja masyarakat takut karena mereka masih mengasosiasikan radiasi dengan bom. Semua ini sebenarnya dimulai dari sejarah. Sejarah nuklir radiasi itu muncul dari perang, sehingga begitu ada kata nuklir muncul akan identik dengan bom dan hal itu ada pada gambaran semua orang. Bahkan, yang mayoritas Indonesia. Nah, hal ini ini yang perlu kita luruskan, karena radiasi itu juga banyak manfaatnya bagi kehidupan.

8. Sebenarnya apa efek positif dan negatif dari nuklir dan radiasi?

Radiasi itu banyak manfaatnya tetapi akan menjadi negatif kalau digunakan secara berlebihan. Seperti kemungkinan akan terjadi pertumbuhan anomali di sel-sel tubuh yang dapat berujung pada kanker. Tetapi, di sisi lain, radiasi juga bisa dipakai untuk membunuh sel-sel kanker. Sebenarnya alam pun mengeluarkan radiasi tetapi masih pada ambang aman. Pemanfaatan tenaga nuklir di luar ambang batas tadi itu yang perlu diperhatikan. Nah, bagaimana kita bisa mengetahui sinar radiasi sudah berada di atas ambang batas, itu adalah tugas Bapeten untuk mengawasi untuk kemudian dilaporkan kembali. Sebagai contoh, pengggunaan sinar X-Ray itu kita awasi dengan cara melihat pemanfaatannya dalam satu tahun apakah sudah melewati ambang batas atau belum. Pasien sendiri juga tidak boleh terlalu sering menggunakan sinar ini. Tentang berapa batasannya itu berbeda di tiap alat.

9. Apakah ada hal yang berubah semenjak Anda menjabat sebagai Kepala Bapeten?

Mungkin lebih sibuk saja, saat ini saya hampir tidak ada waktu luang. Kalaupun ada biasanya memilih pulang dan tidur. Dulu saya masih sempat jalan kaki dan wall climbing tetapi sekarang sudah jarang-jarang karena waktunya juga nggak ada. Tetapi, tiap Jumat pagi saya suka senam bersama karyawan di kantor.

Advertisements