Selasa, 11 Maret 2008 | 13:17 WIB

BANDUNG, SELASA – Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso M.Sc berpendapat, pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia di masa depan tidak dapat dihindari dalam memenuhi kebutuhan enerji masyarakat.

“Namun, untuk memenuhi kebutuhan enerji sekarang ini, pemanfaatan sumber daya alam seperti gas, batubara dan minyak, relatif masih mencukupi,” kata Djoko di Bandung, Selasa, seputar upaya mengatasi krisis tenaga listrik di berbagai wilayah Indonesia.

Dari sisi teknologi, katanya, PLTN tidak bermasalah karena faktor keamanannya telah dirancang dengan baik. Namun demikian  faktor manusiannya, tentu masih perlu waktu, sehingga PLTN sebaiknya menjadi pilihan pembangkit terakhir dalam mengatasi krisis enerji.

Memang PLTN secara teknologi pernah mengalami masalah seperti kasus Chernobyl di Rusia dan Bhopal di India puluhan tahun lalu, tetapi dari pengalaman tersebut telah dilakukan berbagai evaluasi dan perbaikan sehingga PLTN dinyatakan tetap aman dan efisien.

Sejumlah negara maju menggunakan PLTN, seperti Jerman dan Jepang. Teknologinya terus diperbaiki dalam mengurangi segala resiko yang dapat timbul. “Oleh sebab itu, secara teknologi, PLTN dapat dikatakan relatif tidak bermasalah,” katanya.

Masalahnya, menurut dia, terletak pada disiplin, sikap mental dan tingkat peradaban umumnya masyarakat Indonesia dalam mengoperasikan teknologi canggih.

“Dapat saja secara teknologi pesawat terbang itu canggih, namun bila ’human error’ yang menjadi ’crusial point’, maka akan sulit diprediksi tingkat keselamatannya,” ujarnya.

Djoko berharap, walaupun Indonesia tidak akan dapat menghindari pemanfaatan tenaga nuklir sebagai sarana bagi mencukupi kebutuhan tenaga di masa mendatang, tetapi PLTN, lanjutnya, sebaiknya dijadikan sebagai cadangan terakhir pembangkit tenaga listrik, sekaligus memberi waktu lebih lama bagi mesyarakat dalam proses adaptasi sekaligus pembelajaran dan pendewasaan mental. (ANT)

Advertisements