Sumber : Harian Suara Merdeka(Rabu, 14 Februari 2007)
Penulis: Mochamad Widjanarko (staf pengajar Program Studi Psikologi di Universitas Muria Kudus, Peneliti di Lemlit-PSL Muria Reserach center UMK)

SEJAK studi percobaan pertama akhir 1970-an, ada tim yang melakukan pemilihan tapak, lokasi PLTN. Seluruh Pulau Jawa disisir dan ditemukan 14 lokasi yang memenuhi syarat. Percobaan studi kedua, 1980-an, didapat 5 lokasi tapak terbaik dari 14 pilihan.

Tahun 1990-an, studi kelayakan yang lebih serius memilih satu dari 5 yang terbaik, yaitu Semenanjung Muria. Di sekitar Semenanjung Muria ada 6 pilihan titik yang dianggap terbaik, diseleksi lagi menjadi 3 dan akhirnya pilihan terakhir ditetapkan di Lemah Abang, Jepara.

Kriteria penentuan tapak ini sangat ketat. Aspek geologi struktur tanah tapak harus berada di wilayah stabil, tidak boleh ada patahan lempeng bumi yang mengarah ke lokasi tapak, apalagi patahan yang melintasi tapak tidak boleh sama sekali.

Seismologi (kegempaan) dan aspek gunung berapi (vulkanologi) juga diperhitungkan. Tapak harus jauh dari gunung yang bisa meletus. Aspek hidrologi air tanah di lokasi tapak dinilai, termasuk hidrologi kelautan seperti kemungkinan tsunami dipertimbangkan juga kepadatan penduduk di sekitar tapak, ada kriteria tersendiri.

Inilah cerita, kenapa lokasi tapak PLTN berada di Desa Balong, Lemah Abang, Kabupaten Jepara. Tulisan ini akan mencoba menguraikan “konflik” positif negatif akan berdirinya PLTN Muria.

Energi Murah Berbasis Bencana

Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Muria tidak perlu dikhawatirkan mengulang kasus reaktor Chernobyl di Rusia yang menelan banyak korban jiwa.

Pasalnya, PLTN Muria adalah untuk pembangkit tenaga listrik, sedangkan Chernobyl untuk memproduksi plutonium bagi pengembangan nuklir itu sendiri, sehingga kasus kebocoran seperti Chernobyl tidak perlu dikhawatirkan

Nuklir sebetulnya bukanlah barang baru di Indonesia. Untuk keperluan riset, sejumlah perguruan tinggi sudah mengembangkannya seperti UGM, ITB, demikian pula Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Di rumah sakit, nuklir sudah lama digunakan untuk keperluan diagnosa. Hanya saja, untuk mengeksploitasi nuklir sebagai energi diperlukan reaktor tersendiri.

Teknologi nuklir sangatlah efisien untuk menggantikan sumber energi yang tidak terbarukan. Satu kilogram uranium setara dengan 1000 – 3000 ton batu bara atau setara dengan 160 truk tangki minyak diesel yang berkapasitas 6.500 liter (Lasman, 2006).

Penerapan teknologi nuklir di Indonesia sudah dipersiapkan cukup lama, di antaranya dengan mengembangkan rekator nuklir untuk riset di Tamansari, Bandung sejak tahun 1964 kemudian di Yogyakarta dan Serpong, Tangerang Untuk yang di Tamansari sudah beroperasi sejak 42 tahun lalu yang mampu menghasilkan listrik 2.500 Kwh,(Aminjoyo, 2006). Besarnya minat investor dalam membangun PLTN Muria tak terlepas dari prospeknya yang cukup potensial. Dari segi dana yang diperlukan, pembangunan PLTN lebih murah dibandingkan pembangunan pembangkit listrik lainnya.

Untuk setiap kilowatt energi yang dihasilkan di PLTN Muria diperkirakan hanya butuh dana antara US$ 1.500 – US$ 1.800. Sedangkan harga jual listrik diperkirakan bisa mencapai US$ 3,5 sen – US$ 4,2 sen untuk setiap kilowatt hours (kwh). PLTN Muria diharapkan dapat selesai tahun 2016.

Produksi listriknya diharapkan dapat memasok sebesar 10 persen dari total kebutuhan listrik jaringan Jawa-Bali.

Tahun depan (2008) pemerintah akan menggelar tender proyek pembangunan PLTN Muria berkapasitas 4.000 megawatt, bertahap sampai 2025 .

Tim ahli dari Indonesia siap dengan teknologi yang juga dipakai di Prancis, Amerika, Korsel dan Jepang itu.

Keinginan pembangunan PLTN Muria bisa jadi juga mengacu pada keberhasilan pengoperasian PLTN di Prancis, Jepang dan Korea (Negara-negara yang miskin sumberdaya energi primer). Setidaknya alasan-alasan diatas yang meniatkan pemerintah Indonesia untuk menginisiasi pembangunan PLTN Muria.

Walaupun pengembangan nuklir untuk tujuan damai, banyak pihak seperti : WALHI (Friends of Earth Indonesia), Greenpeace, Manusia (Masyarakat Anti Nuklir Indonesia) dan masyarakat sipil lainnya menentang pembangunan itu. Alasannya, Muria masih diragukan tingkat keamanannya.

Di sisi lain, energi terbarukan seperti tenaga surya, panas bumi, angina, biomassa, arus laut hingga ombak bisa dimanfaatkan secara maksimal.

Realitas industri nuklir saat ini tidak berbeda dengan keadaannya pada abad ke-20 dimana bahaya adalah bagian integral yang tidak dapat dipisahkan.

Berbeda dengan nuklir, energi terbarukan dan efisiensi energi dapat menyediakan kebutuhan energi lebih cepat dan lebih aman. Indonesia harus menjadi pelopor dalam pengembangan energi terbarukan di kawasan karena Indonesia diberkahi dengan sumber-sumber energi terbarukan yang potensial dan menunggu untuk dikembangkan.

Penyebaran Informasi

Proses pelibatan, penyebaran informasi pada masyarakat diakui dan dicantumkan di dalam UU No 10/ 1997 tentang Ketenaganukliran, pasal 15 (a) dan (b) yang menyatakan: adanya jaminan kesejahteraan, keamanan, dan ketenteraman masyarakat dan terdapatnya jaminan keselamatan dan kesehatan pekerja dan anggota masyarakat serta perlindungan terhadap lingkungan hidup.

Kebutuhan manusia dalam konsep humanistik akan rasa aman dari radiasi, kemungkinan kebocoran limbah nuklir, gangguan human error, kemungkinan hancurnya PLTN oleh gempa tektonik dan rasa tentram tidak mengalami gangguan psikologis (stres) berkepanjangan karena dekat dengan lokasi PLTN serta terdapatnya rasa dihargai, diajak untuk membicarakan, berdiskusi, srawungan akan rencana pembangunan PLTN, termasuk berbesar hati jika masyarakat menolak rencana PLTN merupakan kata kunci, proses-proses untuk dapat memperoleh kepercayaan rakyat.

Jelaslah, bisa ditarik benang merah bahwa sebenarnya dalam proses sekarang ini, yang terpenting adalah bagaimana forum dialog sikap pro-kontra pembangunan PLTN Muria dapat dilakukan pada batas-batas penilaian yang objektif dan rasional.

Kontroversi PLTN tidak dapat hanya sekedar dianalisis secara fisika dan teknis, melainkan juga perlu dianalisis secara eko-sosio-kultural, psikologis.

Advertisements