http://www.sinarharapan.co.id

Jakarta–Kelambanan pemerintah untuk mencari pembangkit energi alternatif menjadi bukti ketidakseriusan dalam mencari solusi dari krisis listrik yang ada sekarang ini. Sementara itu, alternatif sumber daya pembangkit yang ada, seperti nuklir dianggap masih kurang meyakinkan.
“Bila dibandingkan negara lain, pengembangan energi alternatif kita tertinggal jauh. Dalam waktu tiga tahun terakhir, hampir tidak ada pengembangan mengenai energi terbarukan yang signifikan,” ujar Fabby Tumiwa, Direktur Institut for Essential Services Reform (IESR), Selasa (4/3).
Bila melihat perkembangan energi alternatif yang tergolong energi terbarukan, terlihat potensi yang ada, seperti disia-siakan saja. Seperti energi panas bumi, yang saat ini cadangannya mencapai 27.000 MWe (Megawatt of electrical output), baru dipakai sepertiganya, yaitu sebesar 9.000 MWe atau setara dengan listrik sebesar 800 MW.
Cadangan energi dari pembangkit air diperkirakan ada sebesar 75,67 gigawatt. Namun yang dikembangkan baru sebesar 24 gigawatt saja. Demikian diungkapkan Dr Lobo Balia, selaku staf ahli Menteri Bidang Kewilayahan dan Lingkungan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada kesempatan berbeda.
Menurut Fabby, banyak bentuk hambatan yang dibuat pemerintah sendiri, sehingga meminimkan upaya mereka dalam mengembangkan energi alternatif tersebut, seperti hambatan regulasi, insentif dan perpajakan. “Pengembangan energi alternatif terhambat karena pemerintah tak fokus kesana hingga tahun terakhir ini,” urai Fabby.

Nuklir
Di lain pihak, energi nuklir masih dianggap kurang meyakinkan kesiapan keberadaannya. Alternatif pembangkit energi ini diamati banyak pihak merupakan pilihan kebijakan tak populer dan mengandung risiko tinggi.
“Nuklir tetap tak menunjukkan kelayakan kebijakan sekuriti energi,” kata Fabby lagi. Selain itu, secara hitung-hitungan ekonomi, prediksi biaya yang harus dikeluarkan untuk operasional Pembangkit Listrik Tenaga Nulklir (PLTN) diperkirakan akan lebih tinggi ketimbang melakukan investasi pada teknologi ramah lingkungan yang berkembang sekarang ini.
“Segala macam suku cadang harus dihadirkan dari luar negeri. Sebaiknya kita belajar dari kasus pesawat F-16 yang dibeli dari Amerika. Ketika mereka mengembargo, justru kita sendiri yang kelabakan,” kata Fabby.
Kepala badan Tenaga Atom Nasional (Batan) Hudi Hastowo hanya menyatakan kalau problem listrik yang ada sekarang ini terbilang pelik. “Nuklir hanya satu solusi yang diajukan. Dan belum tentu semua orang menolak,” ujar Hudi, Selasa (4/3).
Sampai sekarang, pemerintah tetap meneruskan maksud membangun PLTN di semenanjung Muria Jepara. Meskipun protes berkali-kali diungkapkan warga desa sekitar. Menurut Hudi, hal tersebut menunjukan masih tak baiknya proses sosialisasi yang dilakukan. (sulung prasetyo)

Advertisements