http://www.jurnalnasional.com
Pontianak | Kamis, 21 Feb 2008

Pra studi kelayakan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menyatakan, di Kalimantan layak untuk dibangun Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), dengan kisaran tenaga yang dihasilkan 1.000 Mega Watt (MW). “Pekan lalu Batan sudah melakukan pra studi kelayakan awal. Dan pembangunan PLTN itu sebaiknya di Kalimantan Barat,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kalimantan Barat, Fathan A Rasyid seusai Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Jangka Menengah Daerah Kalbar tahun 2008 – 2013 di Pontianak, awal pekan ini.

Pertimbangannya, jumlah penduduk di provinsi ini masih sedikit, kondisi geografis relatif lebih stabil, dibanding provinsi lain di Kalimantan, serta memiliki deposit uranium. Fathan menambahkan, untuk menghasilkan energi listrik 1.000 MW selama tiga puluh tahun, jumlah uranium yang dibutuhkan sekitar lima ribu ton.

“Tetapi pembangunan reaktornya dipisah menjadi 10 pembangkit masing-masing berkapasitas 100 MW,” kata Fathan. Reaktor yang digunakan akan memanfaatkan teknologi generasi keempat yang diklaim paling aman dan canggih. Untuk menyiapkan reaktor tersebut waktu yang dibutuhkan berkisar antara lima hingga tujuh tahun. “Ini belum kesiapan awal lainnya. Tetapi program nuklir ini akan menjadi salah satu rencana kami di masa mendatang,” kata Fathan. Dalam jangka waktu lima tahun mendatang, akan dilakukan studi lebih lanjut untuk rencana pembangunan PLTN tersebut.

Sebelumnya, Batan memperkirakan cebakan uranium di Kalimantan Barat yaitu di Kabupaten Sintang dan Melawi dengan kandungan terukur sebanyak 12.419 ton uranium. Cadangan uranium terbesar berada di Kalan, Bukit Ekormaja di Kecamatan Ella Hilir, Melawi. Jumlah cadangan uranium tersebut belum termasuk cebakan uranium yang berada di wilayah Kabupaten Landak dan Sanggau yang diperkirakan kurang lebih sama jumlahnya. Energi yang tersimpan dari uranium itu cukup besar, dan bila dikonversi dengan energi batubara secara fisika, diketahui bahwa satu kilogram Uranium-235 sebanding dengan tiga juta kilogram batubara berkalori sangat tinggi.

Salah satu negara yang menawarkan teknologi nuklirnya adalah Jepang. Jepang menggunakan dua tipe PLTN untuk memenuhi 30 persen kebutuhan listrik di negara itu yakni Pressurized Water ReactorB (PWR) dan Boiling Water Reactor (BWR) yang digunakan secara fifty-fifty.

“Keduanya sama saja. Indonesia bisa memilih salah satu atau keduanya untuk PLTN,” kata Direktur Humas Japan Atomic Energy Agency (JAEA) Minoru Kubo di sela Workshop on Public Nuclear Science and Technology in Indonesia di Jakarta, awal pekan ini seperti dikutip Antara.

Dari 30 negara di dunia yang memiliki PLTN, dua pertiga menggunakan tipe PWR. Namun tidak berarti tipe BWR lebih tidak terjamin keselamatannya. “Misalnya ketika gempa tahun lalu, baik tipe PWR seperti PLTN di Shika dan PLTN di Kashiwazaki Kariwa yang tipe BWR, kedua reaktor tak berdampak apa-apa, jadi soal keselamatan sama saja,” katanya.

Jepang menggunakan dua tipe PLTN sekaligus karena jika hanya memiliki satu tipe, kemudian menemui masalah dikhawatirkan akan menghambat operasionalisasinya. K keberlanjutan pasokan energi nasional pun bisa terganggu.

Thonthowi Dj

Advertisements