Jum’at, 01 Februari 2008

Nasional

Gus Dur Usulkan Pembangunan PLTN di Karimunjawa

“Jika IAEA mengatakan tidak layak, pembangunan tidak dapat diteruskan.”

Jakarta — Mantan presiden Abdurrahman Wahid menilai rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, berisiko karena tergolong rawan gempa sehingga membahayakan keselamatan masyarakat. Ia mengusulkan pembangunan pembangkit dipindahkan ke Pulau Karimunjawa.
“Program ini berisiko, sehingga saya berpikir ada pulau kecil bernama Karimunjawa,” katanya saat membuka Seminar Internasional tentang Program Nuklir di Iran kemarin. Sebagai pembicara dalam acara yang dimoderatori mantan Menteri Riset dan Teknologi Muhammad A.S. Hikam itu adalah Duta Besar Iran Bahrooz Kamalvandi, Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia Profesor Hikmahanto Juwana, Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Hudi Hastowo, dan peneliti CSIS Begi Hersutanto.
Abdurrahman, yang biasa disapa Gus Dur, juga mengingatkan pemerintah ihwal pentingnya membangun kepercayaan masyarakat dalam menerapkan program nuklir. Rencana pembangunan PLTN di Jepara, kata dia, selain mempertimbangkan para ahli nuklir, harus mempertimbangkan keinginan masyarakat. “Apalagi para ahli sering kali justru bertentangan dengan keinginan masyarakat,” ujarnya.
Kepala Batan Hudi Hastowo mengatakan, jika lokasi PLTN di Karimunjawa, persoalan akan menjadi rumit. Transmisi akan menjadi mahal karena lokasi pembangkit jauh dengan pusat beban yang berada di Jawa. “Apa nanti kita tidak diketawain negara lain, karena pembangkit listrik seharusnya dekat dengan pusat beban,” katanya.
Tentang keselamatan, ia menegaskan bahwa para ahli sudah memperhitungkannya. Sebab, yang menginginkan jaminan keselamatan sebetulnya bukan hanya masyarakat, Batan juga memperhitungkannya. “Bila terjadi suatu kecelakaan, akan berpengaruh terhadap industri nuklir lainnya, sehingga saling mengawasi,” ujarnya.
Dalam penentuan lokasi PLTN, Hudi menjelaskan, ada berbagai macam data yang harus dimiliki, antara lain mengenai bioteknik, atmosfer, mikrometo, arah angin, curah hujan, sinar matahari, dan geoteknik. Semua data itu harus sudah diukur, antara lain bekerja sama dengan Badan Meteorologi dan International Atomic Energy Agency atau IAEA.
IAEA akan memberikan pertimbangan jika ada kesulitan untuk menentukan sesuatu yang berkaitan dengan nuklir apakah layak atau tidak. Jika data kelayakan sudah lengkap, IAEA akan mengecek apakah sesuai dengan standar internasional atau tidak. “Jika IAEA mengatakan tidak layak, pembangunan tidak dapat diteruskan.”
Hudi menambahkan, berbagai data yang selalu didiskusikan dengan IAEA termasuk yang berkaitan dengan seismik dan aspek vulkanologi. “PLTN yang didirikan di Jepara sejauh ini sudah dinyatakan aman jika dilihat dari kedua aspek tersebut.” AQIDA SWAMURTI

Advertisements