From www.nuklir.info

By Chairul Hudaya | January 29, 2008

Apa saja mitos tersebut? Berikut ulasannya :

1. Cadangan uranium yang menipis

Menurut Greenpeace melalui laporannya mengatakan bahwa cadangan uranium saat ini cenderung menipis dan hanya cukup untuk beberapa tahun kedepan. Namun sebenarnya, cadangan yang tersedia cukup besar, bahkan mencapai 600 kali lebih banyak dari cadangan emas yang ada di bumi ini. Selama 20 tahun terakhir ini tidak ada pertambangan uranium yang signifikan. Berdasarkan estimasi, cadangan uranium saat ini diprediksi dapat memenuhi kebutuhan selama 85 tahun kedepan. Para ahli geologi dari IAEA dan OECD menunjukkan bahwa paling tidak sekitar 6 kali lebih banyak uranium yang bisa diexplore yang dapat mensuplai bahan bakar untuk 500 tahun kedepan pada kondisi kebutuhan saat ini. Jika reaktor masa depan dapat mengkonsumsi thorium sebagai bahan bakarnya, maka dapat dipastikan bahwa PLTN akan tetap beropreasi dikarenakan cadangan thorium di bumi kita tercinta mencapai 3 kali dari jumlah cadangan uranium saat ini.

Uranium adalah bahan bakar yang setelah bereaksi akan menghasilkan bahan bakar jenis baru. Tidak hanya senjata nuklir, tetapi uranium dan thorium didalam sampah radioaktif juga dapat diproses kembali menjadi bahan bakar baru, yang menurut ketua ilmuwan Inggris, Sir David King dapat mensuplai kurang lebih 60 % dari total energi listrik yang dibangkitkan di Inggris.

Dengan kata lain, cadangan uranium yang tersedia saat ini lebih dari cukup, terlebih dengan tambahan penggunaan thorium dan plutonium yang dapat mensuplai kebutuhan listrik selama ratusan tahun kedepan.

2. PLTN tidak menghasilkan emisi karbon yang rendah

Pengkampanye anti-nuklir mengklaim bahwa PLTN mempunyai emisi tersembunyi dari efek gas rumah kaca akibat pernambangan uranium dan pembangunan reaktor. Alasan seperti itu sama saja dengan alasan lainnya, seperti misalnya pembuatan turbin angin untuk pembangkit listrik tenaga angin (renewable energy) yang menggunakan beton, baja, dan plastik yang tentu menghasilkan gas rumah kaca juga.

Bahkan OECD menganalisa bahwa total waktu paruh dari efek rumah kaca akibat efek teknologi nuklir seperti penambangan, pembangunan, dan produksi energi masih lebih rendah jika dibandingkan dengan PLT angin, PLTS dan PLTA. Penelitian tersebut menyatakan bahwa PLTN menghasilkan 3-6 gram carbon per kiloWatthour (GC/kWh), PLT Angin sebesar 10 GC/kWh, PLTPB sebesar 105 GC/kWh dan PLTU sebesar 228 GC/kWh.

3. PLTN berbiaya mahal

Biaya pembangkitan suatu pembangkit listrik ditentukan oleh investasi dalam pembangunan / konstruksi (termasuk bunga dan pinjaman modal), bahan bakar, manajemen dan operasi. Seperti halnya PLT angin, PLTS dan PLTA, sebagian besar pembiayaan nuklir terletak pada proses konstruksinya. Biaya bahan bakar (uranium) berkontribusi hanya sebesar 10 % dari total biaya pembangunan yang dibutuhkan. Dengan demikian, PLTN tidak tergantung pada fluktuasi harga bahan bakar seperti halnya pada pembangkit listrik yang berbahan bakar berbasis fosil.

Bersambung…

Advertisements