Sabtu, 22 Desember 2007

KORAN TEMPO – Nasional

Priyo Budi Siap Jelaskan Kasus Bapeten

JAKARTA — Ketua Fraksi Partai Golkar Dewan Perwakilan Rakyat Priyo Budi Santoso menyatakan siap menjelaskan keterlibatannya dalam kasus Badan Pengawasan Tenaga Nuklir (Bapeten) kepada Komisi Pemberantasan Korupsi sebelum 2 Januari. “Kalau diizinkan KPK, saya siap bahkan lebih senang ke sana pada 21, 22, dan 23 Desember,” kata dia di kantor Partai Golkar, Jakarta, kemarin.
Priyo dua kali tak menghadiri panggilan KPK. Bekas anggota Panitia Anggaran DPR ini akan dimintai keterangan oleh KPK terkait dengan kasus korupsi Rp 9.414 miliar proyek pembangunan gedung Pusat Pendidikan dan Latihan di Bapeten.
Priyo menolak disebut menghindar dan tak kooperatif. Menurut dia, KPK baru sekali melayangkan surat panggilan pada 17 Desember, yakni saat dirinya ke Portugal. Sekembali dari Portugal, stafnya memberi tahu perihal surat tadi. “Itu pun panggilan kedua. Yang pertama, saya tidak tahu,” kata dia.
Salah satu Ketua Partai Golkar ini mengaku telah berbicara dengan Erry Riyana Hardjapamekas, kini bekas Wakil Ketua KPK. Dari Erry, ia disarankan memenuhi panggilan itu 2 Januari. “Disarankan, sebaiknya Dinda datang saja pada 2 atau 3 Januari,” kata dia. “Nah, saya akhirnya lega. Oke kalau gitu saya datang saat itu.”
Nama Priyo disebut saksi dalam persidangan kasus korupsi pengadaan lahan Pusdiklat Bapeten dengan terdakwa pemimpin proyek Sugio Prasojo. Saksi, bekas anggota Panitia Anggaran DPR periode 1999-2004, Noor Adenan Razak, mengaku menerima duit dari Sugio senilai Rp 1,527 miliar. Ia menyebut beberapa nama anggota Dewan lain, salah satunya Priyo. Noor saat ini menjadi tersangka gratifikasi kasus tersebut.
Juru bicara KPK, Johan Budi S.P., mengatakan KPK memanggil Priyo yang ketiga kali sebagai saksi pada awal Januari. Dua panggilan sebelumnya, kata dia, pada 10 dan 17 Desember. Priyo, selaku bekas anggota Panitia Anggaran, kata dia, tidak memenuhi panggilan pertama karena mengawasi penanganan semburan lumpur Lapindo. Berikutnya, kata dia, karena bertugas ke Portugal. “Dia minta reschedule,” katanya.
Erry enggan menjelaskan percakapannya dengan Priyo. Menurut dia, Priyo dipanggil berdasarkan surat panggilan KPK. Erry menolak berkomentar lebih lanjut, “Saya sudah tidak jadi pimpinan lagi. Jadi tidak bisa (memberi keterangan).” ANTON APRIANTO | RINI KUSTIANI | KURNIASIH

Advertisements