05/09/2007 18:44 WIB
Keberpihakan Wartawan Dalam Penulisan Berita Dipertanyakan
Dikhy Sasra – detikcom

Jakarta – Keberpihakan seorang wartawan dalam pembuatan berita ditanggapi serius oleh praktisi media sekaligus mantan wartawan Tempo Martin Alaida dalam sebuah diskusi yang bertajuk “Indepedensi Media di Era Pasar Bebas, Tempo Versus RGM”yang digelar di Gedung Joeang, Rabu (5/9/2007).

Martin menyatakan kedekatan seorang wartawan dengan nara sumber tidak boleh memengaruhi pemberitaan dan harus mengedepankan kode etik yang baik. Keberpihakan dalam penulisan berita dengan nara sumber ditenggarai akan merusak kredebilitas pers.

“Kedekatan seorang wartawan dengan nara sumber itu sangat penting,tapi yang menjadi permasalahan ini adalah perekayasaan terhadap berita, dikarenakan seorang wartawan dekat dengan nara sumber tersebut, ini yang sangat harus dihindari dari perekayasaan” ungkap Martin Alaida

Martin juga menambahkan, dia menyesalkan sikap seorang wartawan Tempo yang ikut dalam persaingan usaha para pengusaha besar dengan menawarkan data pajak gelap. Karena kedekatan seorang wartawan itu adalah keharusan untuk mendapatkan berita yang benar sesuai dengan fakta,namun demikian sepanjang tidak menggangu idealisme pemberitaan, karena untuk mendapatkan pemberitaan yang benar penuh dengan tantangan ,investigasi, terjun ke lapangan serta mengesampingkan unsur persaingan bisnis dalam pemberitaan.

Acara diskusi yang dihadiri Ikatan Alumni Tempo, Setiyardi Negara (moderator), Amsar A Dulmanan,Dosen serta”Pendiri rumah kita” dan Praktisi Media Martin Alaida yang juga mantan wartawan Tempo.

Seperti diketahui mencuatnya kasus Tempo Vs RGM ini diawali dengan mencuatnya Kasus pembobolan PT Asia Agri di Bank Fortis Singapura masih yang terus ditelusuri Polda Metro Jaya. Salah satu saksi, Meta Dharma S, seorang wartawan Tempo, yang masih ditunggu kesaksiannya.Meta dan Vincentius terbukti melakukan komunikasi lewat layanan pesan singkat atau short message service (SMS) yang dilakukan keduanya, dalam layanan singkat tersebut

Meta terbukti menawarkan data gelap tentang perusahaan tempat Vincentius bekerja dengan imbalan uang sebesar 70 juta , pada tempat transaksi di Jl. Denpasar Raya 2, Kuningan, Jakarta Selatan.

Dalam kasus ini, Vincentius Amin Sutanto, telah dinyatakan bersalah. Mantan Financial Controller Asian Agri ini dihukum 11 tahun penjara dengan denda Rp 150 juta subsidair 6 bulan kurungan.

Selain Vincent, Hendri Susilo dan Agustinus Ferry Sutanto, juga telah dinyatakan bersalah dalam kasus yang sama. Mereka divonis masing-masing 8 tahun penjara.

Tim penyidik menengarai kasus ini dilatarbelakangi oleh persaingan usaha. Mereka juga menduga ada konspirasi mendukung Vincent agar melanjutkan pelaporannya ke KPK yang menuding adanya penggelapan pajak yang dilakukan Raja Garuda Mas (RGM).

Vincent dinyatakan bersalah karena telah memalsukan sejumlah identitas untuk membentuk 2 perusahaan, PT Asian Agri Jaya (AAJ) dan PT Asian Agri Utama (AAU). Kedua perusahaan ini dimanfaatkan untuk menampung uang yang semestinya masuk ke rekening sah perusahaan agro industri dari kelompok usaha Raja Garuda Mas itu. (bal/bal)

Advertisements