http://www.jawapos.co.id

JAKARTA – Rencana peme-rintah menggulirkan energi nuklir, mendapat tenlangan banyak pihak. Termasuk Budayawan Setiawan. Djody yang dikenal dekat dengan Presiden SBY. Djody mendesak pemerintah untuk menunda proyek pembangunan power plant yang menggunakan energi nuklir.
Kepada wartawan, Djody me-ngatakan. Protocol Kyoto mene-tapkan bahwa energi nuklir seba-gai energi terlarang. “Dalam Protocol Tokyo, daftar pertama adalah anti powerplant nuklir. Saya khawatir, masalah nuklir bisa membuat kita sulit. Saya kira, sebaiknya ditunda saja. Kan kita masih puny a gas, batubara, dan biofuel,” paparnya.
Djody telah menolak pengem-bangan nuklir di Indonesia sejak rezim Soeharto berkuasa. Meski dirinya dikenal dekat dengan SBY, sikaptersebuttidakberubah. “Saya khawatir, presiden dapat masukan yang nggak bener. Saya kira, lebih banyak ruginya dibanding untungnya. Kan nuklir bisa ditunda 20 atau 30 tahun lagi,” paparnya.
Menurutnya, letak geografis Indonesia yang dikelilingijajaran gunung berapi, sangatlah riskan untuk membangun PLTN. Seba-gian besar wilayah Indonesia merupakan kawasan berbahaya, rawan gempa. “Ingat, Indonesia memiliki ring of fire. Kalau di-paksakan ada PLTN, kemudian terjadi gempa atau tsunami, hancurlah semuanya. Termasuk anak cucu kita, nanti,” tandasnya.
Sementara itu, Ketua Masya-rakat Rekso Bumi (Marem), Lilo Sunaryo, mendesak pemerintah untuk mengurungkan niatnya mengembangkan nuklir. Karena, sebelum proyek ditetapkan, harus ada Amdal yang disetujui oleh kementerian lingkungan hidup.
Berdasarkan riset yang dUakukan Marem, pembangunan PLTN me-merlukan biaya besar. Masyarakat sudah tahu bahwa nilai proyek PLTN yang ditandatangani di Korea besamyasampai Rp 78,5 triliun.
Nilainya setara dengan 2 (dua) kali lebih pembangunan PLTU dengan kapasitas yang sama.
“Kalau dikatakan harga per kWh lebih murah, itu adalah pro-mosi dan pandangan dari pem-buat pabrikan, bukan cara pan-dang pemerintah,” katanya.
Menurutnya, dampak ikutan dari pengembangan nuklir sangatlah membahayakan. Mulai dari pe-nyimpanan, proses sampai limbah-nya mengandung radioakuf. Yang lebih fatal lagi, lanjutya, pemerintah menilai Semenanjung Muria aman untuk Proyek PLTN. Pemyataan tersebut. merupakan kebohongan publik yang sangat fatal.
Berdasarkan survei para ahli geologi kementerian ESDM yang dilaksanakan April 2007 atas permintaan Batan, disimpulkan bahwa hasil penafsiran data citra satelit, cek lapangan, data geologi dan geofisika menunjukkan bahwa Semenanjung Muria menyimpan potensi rawan bencana geologi, terutama struktur patahan. (ipr)

PLN Siap Miliki PLTN Muria

JAKARTA – Manajemen PT PLN (Persero) menyatakan kesiapannya menjadi pemilik Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) pertama yang diren-canakan dibangun di Semenanjung Muria, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. PLN memiliki kompetensi dalam mengelola proyek pembangkit berkapasitas 2 X 1.000 Megawatt Elektrik senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 27 triliun tersebut.
Direktur Utama PLN Eddie Widiono me-ngatakan, apabila PLN masuk dalam proyek PLTN, hal ini akan menurunkan risiko, sehingga biaya pembangkitnya menjadi lebih murah. Namun, hingga kini PLN masih menekankan pada proses sosialisasi PLTN kepada masyarakat sekitar.
“Kita harus secara jernih menyampaikan kepada masyarakat mengapa PLTN ini diperlukan. Jangan dulu meributkan siapa yang jadi mitra, pendanaan atau lainnya,” katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.
Sebelumnya, PT Medco Energy International Tbk menyatakan kesiapannya ikut ambil bagian sekurangnya 30% dalam PLTN di Muria. Medco telah menandatangani nota kesepahaman (memorandum of understanding /MoU) dengan Korea Hydro and Nuclear Power (KHNP) Co Ltd (dari Korea Selatan untuk merealisasikan proyek PLTN tersebut. (Investor Daily, 27/7).
Arifin Panigoro, chairman Grup Medco, mengatakan, proyek PLTN sangat menarik, mengingat harga jual listriknya cukup murah yaknihanyaUS$o,O3(tiga sen dollar AS, red).
Arifin mengatakan, nantinya dalam proyek tersebut akan terlibat tiga pihak pembeli listrik.
Pemerintah   sebenarnya sudah merencanakan pembangunan PLTN pada tahun 2000,   namun   keputusannya ditetapkan 2005. Ditargetkan, PLTN unit satu 1.000MW akan beroperasi 2016, unit dua 1.000 MW 2017, unit tiga 1.000 MW pada 2023, dan unit empat 1.000 MW pada 2024.

PLTN Ditolak
Sementara itu, Ketua Masyarakat Rekso Bumi (Marem) Lilo Sunaryo dalam pers rilis yang diterima Investor Daily, kembali mempersoalkan sikap pemerintah sudah memaksakan kehendak dan sangat bernafsu ingin segera membangun proyek PLTN. Pemerintah dinilai mengabaikan beberapa ketentuan program yang ditetapkan.
“Sebelum proyek ditetapkan, harusnya Amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) yang disetujui Menteri Negara Lingkungan Hidup,” jelas lilo.
Terkait pernyataan Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Hudi Hastowo yang menyebutkan lokasi Semenanjung IV dipastikan aman dan bebas dari bencana alam dibanding daerah lain untuk proyek PLTN, Lilo membantah. Menurut Lilo, survei para ahli geologi Departemen ESDM yang dilaksanakan April 2007 permintaan Batan menunjukkan bahwa hasil penafsiran data citra satelit, lapangan, data geologi/geofisika baik d maupun lepas lantas, Semenanjung Muria menyimpan potensi rawan bencana geologi terutama struktur patahan.

Medco Cari Uranium Sampai ke Afrika Selatan 

Senin, 30/07/2007 16:59 WIB
Detik.com

Jakarta – Untuk mendapatkan kepastian pasokan uranium bagi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang akan dibangunnya, Medco Group mencarinya sampai ke Afrika Selatan. Padahal, di Kalimantan dan Australia dikabarkan tersedia bahan tersebut.

Assistant of CEO Medco Energi Int Erwin S Sadirsan menjelaskan, pencarian uranium itu merupakan satu diantara banyak hal yang tercantum dalam pengkajian PLTN dengan perusahaan Korea.

“Dari sisi kita mengkaji teknis, keamanan, jenis pembangkit, masih studi,” katanya disela-sela seminar energi di Hotel Darmawangsa, Jakarta, Senin (30/7/2007).

Erwin juga menjelaskan, sebenarnya sudah sejak 2,5 tahun yang lalu Medco ingin menggandeng Korea. Namun perselisihan dengan Korea Utara menghalangi kerjasama tersebut.

Dan hal itu baru terealisasi kali ini. Bahkan rencananya, dalam dua minggu kedepan, pihaknya akan bicara dengan Depkeu mengenai masalah anggaran dan fiskal.

Proyek senilai US$ 3 miliar ini masih mencari-cari lokasi untuk tempat pembangunan PLTN. Namun diakui, untuk wilayah Jawa, Muria memang tempat yang paling aman.

“Disana tidak ada urat gempa tektonik. Kalau vulkanik memang ada,” katanya.
(lih/ir)

Advertisements