23/07/2007 17:43 WIB
Triono Wahyu Sudibyo – detikcom

Jepara – Setelah memantau lokasi, Ketua Komisi VII DPR RI, Sony Keraf heran kenapa PLTN dibangun di Semenanjung Muria, Jepara. Kawasan tersebut dinilai tidak aman.

“Ini analisa amdal-nya bagaimana ya? PLTN kok bisa mau dibangun di kawasan tersebut?” kata dia ketika berbincang dengan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Alvin Lie dan detikcom usai berdialog dengan ribuan warga Balong, Kembang, Jepara yang berunjuk rasa menolak rencana pembangunan PLTN.

Mantan Meneg Lingkungan Hidup itu mengaku belum menerima hasil amdal atau berkas rencana pembangunan PLTN. Karena itu, ketika mengetahui lokasi dan menemui warga secara langsung, dia tidak habis pikir kenapa pemerintah terkesan
memaksakan hendak membangun PLTN di Semenanjung Muria.

Dia menjelaskan, pemerintah seharusnya memilih alternatif sumber energi lain. “Sumber energi di negara kita kan berlimpah. Bisa air atau angin. PLTN terlalu berisiko,” ujar dia.

Alvin Lie mengaku pernah membaca PP No 5 Tahun 2006. Dalam aturan itu, pemerintah menganggarkan dana Rp 5 miliar untuk sosialisasi. Setelah dikroscek, ternyata warga yang lahannya akan digunakan sebagai tempat pembangunan PLTN belum pernah memperoleh sosialisasi sama sekali.

“Dengan melihat secara langsung, kami bisa mengajukan alasan-alasan kenapa menolak PLTN. Tidak hanya kata orang begini-begitu, tapi kami punya dasar. Aspirasi warga pasti akan kami bawa ke legislatif,” ungkap dia.

Demo ribuan warga Balong terlihat lebih meriah saat Sony Keraf dan Alvin Lie yang ditemani dua anggota DPRD Jawa Tengah, Patria Rahmadi dan Sarwono itu datang. Warga menyampaikan uneg-unegnya dengan bebasnya.

Menurut rencana, PLTN Muria akan dibangun pada tahun 2010 dan mulai beroperasi pada tahun 2016. Sumber energi berkekuatan 4000 MW itu diharapkan bisa menyulai listrik di Pulau Jawa dan Bali. Penolakan rencana pembangunan PLTN dilakukan warga Jepara, Kudus, Pati, dan sekitarnya. (try/asy)

Advertisements