Detik.com

Jakarta – Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman diam-diam membawa lima anggota Komisi VII DPR ke Korea Selatan (Korsel) dan Jepang untuk ‘belajar’ nuklir. Tindakan Menristek ini sangat disayangkan.

“Sangat saya sayangkan bahwa Menristek membiayai kegiatan anggota Komisi VII tidak secara transparan. Hal ini dapat mempengaruhi independen dan netralitas anggota terkait dalam menyikapi kebijakan pemerintah, khususnya mengenai
rencana pembangunan PLTN di Semenanjaung Muria,” kata anggota Komisi VII DPR Alvin Lie kepada detikcom, Selasa (24/7/2007).

Tujuh anggota DPR yang tergabung dalam Kaukus Nuklir DPR RI yang diajak Menristek ke Korsel dan Jepang adalah Ketua Komisi VII Agusman Effendi, Tjatur Sapto Edy, Zainuddin Amali, Zulkieflimansyah, M Najib, dan Tamam Achda. Selain Tamam, para anggota DPR ini berkunjung ke Korsel dari 21-25 Juli 2007. Sedangkan Tamam kebagian berkunjung ke Jepang dari 29 Juli-2 Agustus.

Menurut Alvin, melalui SMS, Menristek mengakui bahwa sebagian anggaran sosialisasi PLTN sebesar Rp 5 miliar memang digunakan untuk memberangkatkan beberapa anggota Komisi VII itu, maupun tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat dan lain-lain untuk lebih mengenal pro-kontra PLTN.

Apa yang dilakukan Menristek, kata Alvin, hal ini bisa menjadi konflik kepentingan, karena anggota Komisi VII berwenang mengalokasikan anggaran untuk Kementerian Ristek. “Seharusnya anggaran sosialisasi difokuskan untuk konsultasi dan menggali aspirasi dengan warga yang akan langsung tersentuh pembangunan PLTN di Semenanjung Muria,” jelas Alvin. (asy/nrl)

Advertisements