25/07/2007 23:26 WIB
Nala Edwin – detikcom

Jakarta – Rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terus mendapatkan tantangan. Greenpeace menilai PLTN mengancam kelestarian lingkungan.

“Insiden pascagempa di PLTN Kashiwazaki di Jepang seharusnya diperhatikan pemerintah. Apalagi Indonesia termasuk negara yang rawan gempa,” kata Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara Nur Hidayati.

Hal ini diungkapkan Hidayati dalam keterangan tertulis Greenpeace yang diterima detikcom, Rabu (25/7/2007).

Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) terus maju dengan rencananya membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di dekat Gunung Muria di Jawa Tengah.

Hidayati khawatir, getaran bumi sekecil apapun dapat mengakibatkan bencana nuklir. Dampak-dampak kebocoran radioaktif yang disebabkan oleh gempa ataupun letusan gunung dapat menjadi bencana besar untuk Pulau Jawa yang berpopulasi lebih dari 100 juta jiwa.

Perusahaan-perusahaan dari Jepang, Korea Selatan, dan Prancis sedang berusaha memenangkan kontrak membangun empat reaktor nuklir berkapasitas 1.000 megawatt.

Proses ‘bidding’ untuk reaktor pertama yang akan dibangun di Ujung Lemahabang rencananya akan dimulai dalam dua tahun mendatang dan sudah akan disetujui sebelum tahun 2010.

“Energi nuklir mengalihkan perhatian kita dari solusi-solusi energi bersih yang terbarukan, lebih nyata dan banyak potensinya di Indonesia,” pungkas Hidayati. (nal/nvt)

Advertisements