25/07/2007 17:06 WIB
Muhammad Nur Hayid – detikcom

Jakarta – Kunjungan diam-diam 5 anggota Komisi VII DPR bersama rombongan Menristek ke Korsel dan Jepang menuai kritik. Zulkieflimansyah, anggota DPR yang turut ‘belajar’ nuklir menyesalkan hal itu. Sebab keberangkatan mereka adalah hasil penunjukan Fraksi.

“Saya sendiri berangkat karena ditunjuk fraksi. Ya kalau ada masalah internal, jangan dikaitkan dengan yang lain,” cetus Zul, panggilan akrab politisi PKS itu saat dihubungi wartawan, Rabu (25/72007).

Karena itu, kata Zul, jika ada anggota fraksi yang keberatan dengan penunjukan itu sebaiknya dibicarakan di internal. Bukan diumbar pada pers.

“Kalau nggak ada sosialisasi kita disalahkan, tapi sosialisasi juga disalahkan. Ini maksudanya apa?” kilah Zul.

Kunjungan itu, kata Zul, adalah upaya untuk mencari solusi dan memahami secara utuh tentang nuklir. Menristek telah bertindak tepat dengan mengajak pihak terkait dalam kunjungan yang dimulai 21 Juli itu.

“Rombongan yang ikut ke Korsel itu rombongan besar. Ada 15 orang, yaitu ulama dari Jepara, wakil dari PBNU, Perwalian Gereja Indonesia (PGI), ormas-ormas lain, serta 5 anggota perwakilan Komisi VII,” urai Zul.

Dia menambahkan, kunjungan yang dilakukan oleh rombongan itu sangat positif. Terutama untuk memberikan pemahaman seutuhnya soal nuklir sebagai sumber energi.

“Ini penting agar nuklir tidak hanya dipahami sebagai alat pembuat bom. Karena perekonomian kita tidak akan pernah berkembang kalau tidak berinovasi di bidang ini,” jelasnya,

Menurut Zul, hasil dari kunjungan ini akan menjadi bahan penting untuk mengkaji kembali rencana pembangunan PLTN di Semenanjung Muria.

“Saat ini, dari 5 anggota DPR yang diajak rombongan Menristek, 4 orang sedang kembali ke Tanah Air,” ujarnya.

Keempat anggota DPR itu adalah Ketua Komisi VII Agusman Effendi, Zainuddin Amali, Zulkifliemansyah dan Tjatur Sapto Edy. Ketua Pokja Nuklir DPR, M Nadjib, melanjutkan perjalanan kunjungan ke Jepang. (fiq/nrl)

Advertisements