Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
05/07/2007 03:48:29 WIB
SERPONG, Investor Daily
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendukung program pengembangan nuklir untuk tujuan damai, menciptakan pembangkit energi, meningkatkan kesehatan, dan untuk mendukung teknologi pertanian. Untuk itu, Presiden menantang para peneliti dalam negeri mengembangkan teknologi nuklir yang bisa memberi manfaat bagi kesejahteraan bangsa.


“Pembangunan teknologi nuklir harus fokus pada penciptaan energi, kesehatan, dan untuk meningkatkan kebutuhan pangan,” kata Kepala Negara dalam kunjungan kerjanya ke Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) di Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan (Puspiptek) di Serpong, Banten, Rabu (4/7).

Pada kunjungan tersebut, Presiden didampingi ibu negara, Ani Yudhoyono, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, dan Kepala Batan Hudi Hastowo.

Presiden meminta kepada para peneliti untuk menciptakan terobosan baru melalui pemanfaatan teknologi nuklir sehingga bisa dinikmati generasi mendatang. “Mari kita ubah negeri kita. Kita jadi bangsa yang hemat. Ingat, saat ini kita telah memasuki gelombang keempat peradaban dunia,” ujar dia.

Ia mengatakan, sebagai bangsa yang besar Indonesia harus mampu menyejajarkan diri dengan negara lain dalam pengembangan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Indonesia telah terlebih dulu mengembangkan teknologi nuklir, tetapi terbengkalai seiring berbagai kemelut yang dihadapi bangsa ini.

“Kalau Thailand bisa, kalau India bisa, Indonesia juga harus bisa. Kita harus mengubah kompleksitas dunia menjadi kesejahteraan,” kata Presiden.

Indonesia harus melakukan terobosan teknologi, penelitian dan pengembangan di berbagai bidang, terutama pangan, energi, air dan obat-obatan. Terobosan teknologi itu diharapkan bisa menyelamatkan kehidupan bangsa di masa mendatang. Ia juga menantang para peneliti untuk mengembangkan teknologi yang bisa mendeteksi gempa dan tsunami, serta obat-obatan atau virus untuk flu burung dan HIV-AIDS.

Presiden menyambut gembira upaya yang sudah dilakukan para peneliti di Batan, antara lain pengembangan di bidang ketahanan pangan, seperti pengembangan varitetas unggul padi, pangan ternak, dan kesehatan.

Presiden yakin, peradaban akan terus berubah dan tidak ada masa depan tanpa teknologi. Karena itu pemerintah selalu memberikan apresiasi dan dukungan bagi para peneliti untuk terus berinovasi dalam rangka mengejar ketertinggalan dari negera-negara lain. “Mari kita mulai dari sekarang,” kata SBY.

Sementara itu Kepala Batan Hudi Hastowo mengatakan, teknologi nuklir yang dikembangkan di Indonesia hanya untuk tujuan damai. Visi ke depan Batan adalah antara lain mewujudkan iptek nuklir untuk pengembangan di berbagai bidang kehidupan seperti pangan dan kesehatan.

Sehari sebelumnya, diskusi tentang Masalah Kebocoran dan Kemungkinan Meledaknya PLTN Nuklir digelar. Pakar pegolahan limbah nuklir dari Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan (MPEL) Sofyan Yatim mengatakan, secara teknologi, Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang saat ini dikembangkan di berbagai belahan dunia, termasuk yang akan dibangun di Semenanjung Muria, Jawa Tengah, tidak menghasilkan limbah radiaktif berbahaya.

Teknologi pengolahan limbah nuklir yang dikembangkan dan diterapkan di beberapa negara, termasuk di Asia sudah sudah sangat maju dan dinyatakan aman.

Menurut Sofyan, teknologi pengolahan limbah nuklir telah mengikuti panduan internasional, baik merujuk basic safety standard radiation dari International Atomyc Energy Agency (IAEA) maupun Weste Advisory Safety Standard Committee (WASSC). Selain itu juga ada International Convention on the Safe Management of Radioactive Weste and Spant Fuel.

“Lembaga-lembaga ini juga akan selalu memonitor setiap rencana pemanfaatan tenaga nuklir oleh suatu negara,” kata Sofyan yang juga mantan Kepala Pusat Teknologi Pengolahan Limbah Radioaktif Batan. (Investor Daily, Rabu 4/7).

Sedangkan pakar nuklir yang juga Ketua MPEL Budi Sudarsono menambahkan, industri nuklir merupakan satu-satunya yang mewajibkan pengelolaan seluruh limbah dan mendapatkan pengawasan internasional. Selain itu, studi Eropa juga telah mengakui bahwa energi nuklir merupakan sumber energi yang paling ramah lingkungan dari semua segi. Bahkan emisi karbon dioksida (C02) yang dihasilkan mendekati 0%.

“Jadi sebenarnya, jika energi nuklir dikembangkan secara optimal, akan sangat membantu program pencegahan pemanasan global (global warming),” ujar mantan deputi Batan itu.

Lebih lagi, dari segi biaya produksi, energi nuklir ternyata sangat rendah jika dibandingkan dengan pembangkit listrik yang menggunakan batubara, gas atau bahan bakar minyak (BBM).

Untuk menghasilkan satu kilowatt (kWh) listrik, biaya produksi yang harus menggunakan energi nuklir hanya US$ 1,72 sen. Biaya produksi untuk pembangkit berbahan bakar batubara mencapai US$ 2,2 sen per kWh, gas (US$ 7,57 sen), dan solar (US$ 8,08 sen).

Lebih jauh dia juga menegaskan, kemungkinan meledaknya reaktor PLTN sangat kecil. Pasalnya PLTN yang saat ini dikembangkan di berbagai belahan dunia sudah sangat berbeda dengan PLTN di masa lalu, seperti yang dikembangkan Uni Sofiet di Chernobyl. “Reaktor yang dikembangkan di Chernobyl itu tipe RBMK, yang memang tidak aman,” tukas Budi. (nov)

Advertisements