Pro dan Kontra soal pembangunan PLTN Muria sudah melibatkan banyak pihak. Setelah beberapa aksi masyarakat lokal (Kudus, Jepara, Pati dan Semarang) kini kegiatan itu berangsur-angsur mengarah ke ibukota. Politisi, LSM dan pengamat urun rembug soal ini. Bahkan Metro TV juga akan mengangkatnya dalam acara “Save Our Nation” kamis (12/7) mendatang.

Terlepas itu, kemarin, beberapa anggota LSM Marem mendatangi gedung DPR-RI untuk menyerahkan pernyataan sikap masyarakat dalam bentuk penandatanganan spanduk sepanjang 1.500 meter. Isi spanduknya tentang penolakan atas pembangunan PLTN Muria.

Mereka juga menyatakan bahwa Nuklir bukanlah solusi, namun hanya langkah pelarian pemerintah atas tekanan berbagai pihak (asing). Menurutnya, negeri ini masih punya banyak energi alternatif, katakanlah panas bumi (geothermal), angin, air laut. panas matahari, juga batu bara. Mereka juga memandang proyek ini lebih banyak resiko-nya dibanding dengan manfaat yang bakal diterima oleh negeri ini.

Sementara disatu sisi pemerintah melihat PLTN sebagai sebuah keharusan dan kebutuhan. Ditengah krisis energi listrik dan semakin mahalnya BBM, nuklir bak penyelamat dengan label ‘aman’ , ramah lingkungan dan tentu saja hemat.

Pemerintah juga menganggap penolakan adalah hal yang lumrah, apalagi PLTN adalah sesuatu yang baru bagi negeri ini. Meskipun sebenarnya berbagai proyek kecil yang menggunakan jasa nuklir telah lama di lakukan oleh beberapa peneliti di dalam negeri. Sebut saja seperti pengembangan padi bibit unggul, rekayasa nuklir di Serpong, Bandung dan Jogja. Skalanya memang kecil, namun ini salah satu alasan kuat bila nusantara sudah layak memiliki tekhnologi ini.

Pemerintah tidak berdiri sendiri, beberapa elemen masyarakat menyatakan mendukung PLTN, mereka memandang nuklir adalah suatu keharusan ditengah perkembangan tekhnologi yang semakin pesat di negara lain. Apalagi ditambah dengan berbagai sinyalemen merugikan beberapa waktu yang lalu atas kedaulatan negeri ini.

Tingkah polah negeri tetangga macam Singapura dan Malaysia yang seenaknya mengubek-ubek wilayah NKRI dipandang sebagai sebuah pelecehan, dimana salah sebabnya adalah mandulnya persenjataan yang dimiliki negeri ini.

Ke’mandul’an persenjataan TNI bukannya tidak bisa digunakan, namun karena masih kalah ‘greget’ dibandingkan dengan senjata negeri jiran. Ini memang memalukan, bagaimana harga diri sebuah bangsa besar diinjak-injak oleh negara lain yang jauh lebih kecil. Inilah yang dijadikan alasan sebagian masyarakat untuk menerima tekhnologi ini. PLTN adalah tahap awal dari sebuah perjalanan panjang.

Benarkah kita sudah sedemikian butuh PLTN? tentu perlu jawaban panjang tentang hal ini. Namun, sebelum itu, sebaiknya kita melihat akar masalahnya disini..krisis energi listrik disebabkan karena pasokan PLN yang tidak mencukupi sementara kebutuhan semakin meningkat.

‘Byar Pet’ listrik yang terjadi sebenarnya bukanlah karena minimnya pembangkit, namun lebih disebabkan tidak efisiennya pembangkit yang dimiliki oleh perusahaan plat merah ini. Berapa banyak pembangkit listrik yang tidak beroperasi di PLN? Makanya, sebelum keputusan ini diambil paling tidak pemerintah wajib mengurai benang kusut di PLN lebih dulu.

Advertisements