Liek Wilardjo

Pojok Mang Usil edisi Rabu (13/6), antara lain, berisi celetukan: Promosi obat sering berlebihan dan menyesatkan. Obat pegel linu sembuhkan batuk rejan! Ironisnya, sentilan Mang Usil itu bisa dipandang jadi bumerang bagi Kompas sendiri.

Dalam tajuknya tanggal 9/6/2007, Kompas berharap bahwa energi nuklir dapat menanggulangi pemanasan global dan perubahan iklim. Padahal, kalau diibaratkan sebagai obat, pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) hanyalah obat untuk menyembuhkan kelesuan menahun yang selama ini diderita industri nuklir. Tidak tepat kalau “obat” ini hendak dipakai untuk mengatasi perubahan iklim sebagai akibat emisi gas rumah kaca (GRK).

Emisi GRK memang harus dikurangi secara drastis. Sampai sekarang belum ada “usaha habis-habisan” melalui kerja sama antarbangsa untuk mengatasi pemanasan global. Protokol Kyoto akan habis masa berlakunya pada tahun 2021 dan belum ada protokol penggantinya yang dimufakati semua bangsa. Amerika Serikat (AS) masih tidak mau menuruti imbauan Uni Eropa.

Kesadaran memang mulai timbul di kalangan rakyat AS. Kampanye “hijau” Al Gore mulai menampakkan hasil. Posisi gereja-gereja konservatif yang semula mendukung George W Bush dalam isu emisi GRK sekarang sudah bergeser. Terutama setelah dihajar Badai Katrina, rakyat AS sadar bahwa emisi CO2 dan GRK lainnya merupakan ancaman yang serius. Negara Bagian California berusaha beralih ke sumber daya energi yang lebih ramah lingkungan daripada bahan-bakar fosil.

Protokol Kyoto memang belum memadai, tetapi setidaknya protokol itu merupakan suatu usaha awal. Di bawah kepemimpinan George Bush, AS meninggalkan protokol itu seenaknya sendiri. Pasalnya, AS tidak mau menanggung biaya untuk mencapai penurunan aras emisi GRK-nya sebanyak 7 persen di bawah aras tahun 1990 pada akhir masa berlakunya protokol itu, yakni tahun 2012. Kilahnya, semula AS tidak yakin bahwa ada hubungan antara emisi GRK dan pemanasan global. Bahkan, pemanasan global itu sendiri pun diragukan.

Belakangan, hubungan antara emisi GRK dan pemanasan global serta perubahan iklim memang tak dapat disangkal lagi. Namun, sebagai negara yang paling mengotori atmosfer dengan GRK yang dihamburkan industrinya, AS tidak mau membayar akibat ulahnya itu dengan mematuhi ketentuan protokol Kyoto. Padahal, beberapa negara maju di Eropa, seperti Swedia dan Jerman, sekarang pun sudah melampaui kewajibannya, yakni menurunkan aras emisi GRK-nya sampai 8 persen di bawah aras tahun 1990.

Tiga cara

Protokol Kyoto berusaha meringankan beban negara-negara maju dengan tiga cara, yakni mekanisme pembangunan bersih (clean development mechanism/CDM), pelaksanaan bersama (joint implementation), dan perdagangan karbon (carbon trading). Cara-cara ini dapat dianggap “menguntungkan” negara-negara berkembang. Melalui CDM, misalnya, Jerman membantu beberapa proyek pembangunan di Indonesia. Namun, yang lebih diuntungkan ialah negara-negara industri maju sebab biaya penurunan emisi GRK di negara mereka sendiri jauh lebih mahal.

Emisi dapat dibeli melalui CDM dengan harga hanya 3 dollar AS-20 dollar AS per ton karbon yang dihemat. Padahal, di AS biayanya akan mencapai 125 dollar AS. Karena itu, Deplu AS (State Department) mengatakan kepada Senat bahwa Protokol Kyoto adalah “efektif secara ekonomis”. Toh, AS tetap saja menolak meratifikasi protokol itu!

Dua raksasa industri baru, yakni China dan India, sejak semula tidak mau menerima Protokol Kyoto yang mereka nilai tidak adil. Akibat keras kepalanya AS, China, dan India, plus ketakpedulian negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang membabat dan membakar hutannya, emisi GRK masih meningkat 4 persen. PLTN memang punya andil dalam penurunan emisi GRK, tetapi tidak berarti karena paling banter cuma 0,2 persen. Padahal, PLTN menghadirkan masalah yang tidak kalah menakutkan ancamannya, yakni musibah nuklir, terorisme, dan pembuangan limbah radioaktif dan radiotoksik, lagi pula berumur teramat sangat panjang sekali.

“Panacea”?

Para pendukung PLTN mengatakan bahwa limbah radioaktif dapat diatasi dengan rubiatron yang rancangannya, yang disebut accelerator driven system (ADS) atau accelerator driven transmutation of wastes (ATW) sudah ada. Akan tetapi, sudahkah rubiatron semacam itu beroperasi dan terbukti efektif untuk menurunkan umur radioisotop? Kelihatannya kok belum!

Seandainya ATW itu dibangun dan dioperasikan sebagai “obat” untuk mengatasi limbah radioaktif, “obat” itu pastilah bukan broad spectrum antibiotics yang mujarab untuk segala macam radioisotop. Dengan fluks tertentu dan energi proton tertentu dalam berkas proton monoenergetik, tentunya sistem itu hanya “pas” untuk satu jenis radioisotop. Padahal, akibat ulah manusia mengoperasikan PLTN, muncul ratusan jenis radioisotop dan limbah serta bahan bakar nuklir bekas di dunia ini bertambah terus. Itulah warisan “maut” kita untuk generasi yang akan datang!

Julukan El Niño dan La Niña untuk gejala cuaca yang menghadirkan hujan berlebihan dan kemarau berkepanjangan adalah salah kaprah. El Niño berarti “Si Buyung Yesus”. La Niña barangkali berarti “Si Upik Maria”. Namun, ternyata bukan berkat, melainkan kesengsaraan yang dihadirkan duo fenomena cuaca itu!

Juga salah kaprah untuk meyakini bahwa PLTN adalah obat mujarab untuk pemanasan global. Demikian pula, adalah salah kaprah untuk menganggap rubiatron sanggup menjinakkan semua jenis radioisotop. ATW, kalau nanti ada, bahan panacea yang manjur untuk semua jenis isotop.

Liek Wilardjo Fisikawan, Etikawan di UKSW Salatiga

Advertisements