Dua partai mendominasi politik Palestina, yaitu Fatah dengan gerakan perlawanan Palestina yang dimulai sejak tahun 1950-an serta Hamas, yang menang pemilihan parlemen Januari 2006.

Keduanya kemudian sepakat membentuk pemerintahan nasional bersatu untuk mengatasi perbedaan yang ada, namun tetap tidak meredakan pertarungan untuk merebut kekuasaan.

Fatah

Fatah
Fatah

Nama lengkap: Harakat al-Tahrir al-Filistiniya atau Gerakan Pembebasan Palestina. Fatah yang menjadi nama pendeknya, berarti ‘penaklukan.’

Awal organisasi : Didirikan oleh Yasser Arafat tahun 1950-an dengan garis perjuangan senjata untuk membebaskan semua Palestina dari pendudukan Israel.

Kelompok ini kemudian berkembang menjadi faksi Palestina yang terbesar, dan mengakui eksistensi Israel yang mengarah pada jalan keluar 2 negara, dengan wilayah Israel sesuai Kesepakatan Oslo 1990-an.

Fatah kemudian menjadi tulang punggung dari pemerintahan hasil kesepakatan Oslo yang disebut dengan Otorita Palestina, khususnya di birokrasi pemerintah dan di sektor keamanan.

Namun Fatah kehilangan kekuasaan dalam pemilihan parlemen 2006, yang direbut Hamas, ditengah-tengah citra para pejabat Fatah korup dan tidak kompeten.

Mahmoud Abbas
Abbas akhirnya memutuskan membubarkan pemerintahan

Peralihan pemerintahan dari Fatah ke Hamas itu memicu kekerasan pertama di jalan-jalan Jalur Gaza.

Sikap terhadap Israel : Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, mendorong agar dimulainya kembali perundingan damai dan merupakan pengkritik perjuangan bersenjata serta serangan atas penduduk sipil Israel. Tujuannya adalah mendirikan negara Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza –yang diduduki Israel– dengan Jerulsam sebagai ibukota mereka.

Brigadir Martir al-Aqsa, kelompok bersenjata yang berkaitan dengan Fatah, mendukung gencatan senjata tidak formal dengan Israel tahun 2005, namun melancarkan serangan ke Israel dengan alasan sebagai aksi balasan.

Status saat ini : Kekalahan dalam pemilihan parlemen tahun 2006 membuat Fatah berada dalam posisi bertahan dan dikuatirkan akan menggunakan pengaruh politik dan kekuatan militer untuk tetap mempertahankan dominasinya. Sebanyak 70.000 aparat kepolisian dan keamanan Otorita Palestina merupakan pendukung setia Fatah.

Setelah beberapa bulan berlangsungnya kekerasan di Palestina, yang menewaskan ratusan warga Palestina, Fatah mencapai kesepakatan dengan Hamas untuk membentuk pemerintahan nasional bersatu.

Namun pekan lalu kekerasan marak kembali dan Presiden Mahmoud Abbas dari faksi Fatah memutuskan untuk membubarkan pemerintah Palestina.

Hamas

Hamas
Hamas

Nama lengkap : Harakat al-Muqawama al-slamiya atau Gerakan Perlanawan Islam. Nama pendek Hamas, yang berarti ‘semangat.’

Awal organisasi : Merupakan cabang dari Ikhwanul Muslimin yang bertekad untuk mendirikan negara Islam di atas wilayah Palestina pada paska Israel 1948, yaitu Gaza dan Tepi Barat.

Sejak didirikan tahun 1987, Hamas bercita-cita mendapai 2 tujuan, yaitu kesejahteraan sosial dan perjuangan bersenjata. Hal ini membuat Hamas dihormati oleh warga Palestina yang menderita di bawah pendudukan Israel. Namun serangkaian serangan bom bunuh diri atas penduduk sipil Israel oleh para pendukung Hamas, membuat organisasi ini dikategorikan sebagai organisasi teroris oleh Israel, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Kemenangan besar Hamas dalam pemilihan parlemen 2006 membuat Hamas meraih kekuasaan untuk pertama kalinya, dan sekaligus pula pengakuan internasional. Namun pemerintah Hamas tetap tidak diakui Israel dan juga oleh negara-negara perunding internasional.

Ismail Haniya
Haniya menegaskan pemerintahannya tetap jalan

Sikap terhadap Israel : Piagam Hamas tidak berkompromi dalam mengupayakan hancurnya Israel. Bagaimanapun Perdana Menteri Ismail Haniya sudah mengungkapkan tentang gencatan senjata jangka panjang dengan Israel, jika mengundurkan diri dari kawasan yang diduduki tahun 1967.

Sayap bersenjata Hamas, yaitu Brigade Izzedine al-Qassam, ikut serta dalam gencatan senjata dengan Israel pada tahun 2005, namun mereka menegaskan hak untuk membalas serangan Israel.

Status saat ini : Para negara donor yang memberikan dana bagi Otorita Palestina menyebut Hamas sebagai organisasi teroris. Tanpa adanya bantuan, maka dana pemerintah pimpinan Hamas jelas amat tipis. Bank-bank menolak untuk menyalurkan dana kepada pemerintah Palestina karena kuatir akan mendapat sanksi dari pemerintah Amerika Serikat. Hamas saat ini menghadapi krisis keuangan yang berat, yang bisa menyebabkan krisis kemanusiaan di Palestina.

Organisasi ini mengerahkan sekita 3.000 aparat keamanannya dan juga para pendukung untuk mengatasi kekacauan di Gaza. Pengerahan pasukan ini membuat ketegangan dengan Fatah semakin meningkat dan memicu bentrokan bersenjata.

Di tengah-tengah ketegangan dengan Fatah, akhirnya Hamas bersedia menjadi mitra senior dalam pemerintahan nasional bersatu Palestina. Bagaimanapun kesepakatan tersebut terbukti tidak berhasil meredakan konflik antar kedua faksi ini.(bbc.com)

 

Advertisements