Sabtu, 16 Juni 2007
Pemanfaatan energi nuklir lebih banyak manfaatnya.
MALANG — Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Kusmayanto Kadiman, menilai wajar adanya pro dan kontra soal pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Jepara. Menurutnya adanya pro dan kontra opini publik itu karena PLTN yang dikomersialkan ini merupakan program besar dan baru.

“Kalau ada yang dan kontra mengenai pembangunan PLTN di Jepara itu sangat wajar. Justru yang tidak wajar, kalau semuanya setuju. Itu perlu dipertanyakan, kenapa kok semuanya setuju,” kata Kusmayanto Kadiman seusai meresmikan Open Source serta Warung Informasi dan Teknologi (Warintek) di Pondok Pesantren Mahasiswa Al Hikam Malang, Juamt (15/6).

Semua kelompok baik yang menolak, setuju ataupun acuh tak acuh, menurut Kusmayanto. mesti memberikan penjelasan sesuai dengan argumentasinya masing-masing. Kendati begitu, tegas Kusmayanto, kebijakan energi nasional yang diterbitkan pemerintah lewat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada tahun 2016 Indonesia sudah mengoperasikan PLTN berskala komersial.

“‘Jadi, itu sudah merupakan kebijakan yang harus dilaksanakan,” katanya menegaskan. Menurut dia, sebenarnya di Indonesia pemanfaatan energi nuklir itu bukan lagi merupakan hal yang baru. Alasannya, pemanfaatan energi nuklir itu sudah dilakukan Indonesia. Dia sebutkan seperti di Serpong, Yogyakarta, dan Bandung.

Jika banyak yang kontra, lanjut Menristek, karena mereka hanya melihat pada kasus-kasus yang terjadi di beberapa negara. Dia sebutkan seperti kasus yang terjadi di Cernobyll dan Trimail Island. Lantas, disebutkan juga mengenai Jerman dan Amerika Serikat yang sudah menutup pemanfaatan energi nuklir itu.

”Mereka mengetahui informasi itu hanya pada kasus-kasus yang ditutup. Padahal, setelah menutup pengembangan dan pemanfaatan nuklir-nuklirnya itu, mereka membuka kembali di daerah lain. Nah, itu yang tidak diketahui oleh mereka yang menolak pengembangan dan pemanfaatan energi nuklir di Jepara ini,” katanya.

Besar manfaatnya
Menurut Kusmayanto, pengembangan energi nuklir itu sangat besar manfaatnya ketimbang mudharatnya. Dia contohkan dengan membandingkan pemanfaatan energi batubara dan bahan bakar minyak. Menurut dia, energi nuklir ini justru lebih efisien dan efektif serta ramah lingkungan dibandingkan dengan energi lainnya.

Disebutkannya, seperti energi batu bara dan bahan bakar minyak (BBM), sumber energi tersebut, malah meninggalkan emisi yang merusak lingkungan. Begitu juga bila memanfaatkan energi angin dan tenaga surya. “‘Tenaga surya itu mengeluarkan emisi yang mencemari udara, karena memakai solar cell. Sedangkan tenaga angin di Indonesia ini tidak mungkin. Sebab, angin di Indonesia arahnya berubah-ubah dan tidak stabil sebagaimana di bumi belahan utara dan selatan,” jelas Menristek. Sedangkan energi nuklir menurutnya merupakan alternatif yang paling ekonomis, ramah lingkungan karena emisinya kecil, aman dan murah.

Dibandingkan dengan memakai energi gas, batu bara dan BBM, pembiayaannya lebih murah. Untuk 1 KwH hanya dibutuhkan biaya sekitar 2,6-3,8 sen dolar AS per KwH bila memakai energi nuklir. Sedangkan kalau memakai energi gas, batubara dan BBM dibutuhkan sekitar 4 sen dolar AS/KwH.

Makanya, menurut Kusmayanto, pemerintah lebih tertarik menggunakan energi nuklir. Sebab, pembangunan energi nuklir itu, kata dia, diprediksi hanya memakan biaya sekitar 1,15 X 1,25 juta dolar AS/KwH dibandingkan dengan memakai energi gas, batubara atau BBM yang bisa menelan biaya 1 juta dolar AS untuk 1 mega watt.

Ikhtisar:
— Masyarakat menolak karena hanya tahu kasus PLTN yang ditutup saja.
— Dibandingkan dengan batu bara dan BBM, energi nuklir lebih murah. aman, dan ramah lingkungan.

(aji )

Advertisements