Indonesia Media Monitoring

ADAM AIR – Drama 13 Menit di Majene

Posted in Sorotan by monitoringmedia on March 26, 2008

25/03/2008 22:41 WIB
M. HUSNI NANANG

adamair0107.jpg

(sumber gbr: http://www.tempointeraktif.com)

INILAH.COM, Jakarta – Lebih setahun berlalu, misteri kecelakaan Boeing 737-400 PK KKW AdamAir akhirnya terkuak. Departemen Perhubungan akan meningkatkan pengawasan dan audit tiga bulan sekali.
Fakta penyebab terjadinya kecelakaan pesawat AdamAir di perairan Majene, Sulawesi Selatan, 1 Januari 2007, akhirnya terkuak juga. Semua runtutan kejadian penuh drama selama 13 menit, terungkap. Bermula dari rusaknya alat navigasi inertial reference system (IRS) hingga terjadinya kecelakaan. Semua diwarnai kurangnya pengetahuan pilot dalam menangani standar operasional prosedur (SOP) ketika terjadi kegagalan IRS.
Kecelakaan AdamAir terjadi sebagai kombinasi beberapa faktor, termasuk kegagalan kedua pilot dalam intensitas memonitor flight instrument, khususnya dalam dua menit terakhir penerbangan.
“Fokus konsentrasi pada malfungsi IRS telah mengalihkan perhatian kedua pilot dari flight instrument dan membuka peluang terjadinya increasing descent dan bank angle (kemiringan pesawat) tidak teramati. Kedua pilot tidak mendeteksi dan menahan kemudi sesegera mungkin untuk mencegah kehilangan kendali,” papar Tatang Kurniadi, Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dalam laporan hasil investigasinya di Gedung Dephub, Selasa (25/3).
Salah satu investigator KNKT, Kapten Santoso Sayogo kepada INILAH.COM mengatakan, kerusakan IRS suatu saat bisa saja terjadi pada pesawat manapun. Saat terjadi kerusakan alat navigasi, pilot mengubah posisi IRS NAV (navigation) ke posisi ATT (attitude). Namun otopilot malah jadi off atau disengaged. Sang pilot berusaha memperbaiki, tapi tidak terasa arah pesawat miring (bank) ke kanan sebesar 1 derajat per detik. “Sangat pelan sekali. Sensasinya seperti naik mobil di traffic light, mobil mundur pelan,” tandas Santoso.
Peringatan bank angle terdengar saat pesawat miring ke kanan 35 derajat. Karena otopilot mati, seharusnya dikemudikan secara manual oleh pilot. Namun pilot tidak sadar kalau otopilot mati, pesawat terbang tanpa kendali dan akhirnya menghunjam perairan Majene, Sulawesi Selatan dengan kecepatan 1000 km/jam, hancur berkeping-keping.
Sangat ironis sekali, SOP untuk training perawatan dan pengendalian IRS serta aircraft upset recovery yang seharusnya oleh operator ini tidak pernah ada di Indonesia. Begitu juga kedua pilot AdamAir KI 574, Revri Agustian Widodo dan kopilot Yoga Sutanto. Sebelumnya pilot-pilot yang belum mempunyai training trouble shooting IRS, masih tetap diperbolehkan untuk menerbangkan pesawat.
”Karena rekomendasi untuk semua pilot tentang pengendalian IRS serta aircraft upset recovery bagi awak pesawat baru ditekankan regulator setelah kejadian ini,” ujar Santoso.
Ketika dikonfirmasi tentang hal ini, Dirjen Perhubungan Udara Budhi M Sujitno mengatakan, terjadinya suatu kecelakaan tidak pernah disebabkan satu faktor saja. “Kecelakaan itu selalu disebabkan karena multi faktor, dikarenakan adanya benih-benih kelalaian yang terakumulasi, akhirnya menimbulkan kecelakaan,” kata Budhi.
Menurutnya, Ditjen Perhubungan Udara pada 23 November 2007 telah merespons masukan KNKT dengan menerbitkan safety circular untuk semua operator penerbangan tentang defisiensi yang memerlukan tindakan spesifik, khususnya tentang perawatan IRS dan defisiensi pada pelatihan penerbang.
Budhi menambahkan, pihaknya saat ini melakukan peningkatan pengawasan dan audit secara signifikan tiga bulan sekali. Begitu juga, menggunakan kewenangannya untuk secara tegas mencabut izin operasi pesawat jika peringatan tidak diindahkan.
Soal kecukupan rasio inspektur pesawat di Indonesia, lanjut Budhi, sudah cukup memadai, sekitar 1:4, seperti halnya yang terjadi di luar negeri. Namun khusus untuk pesawat besar (jumbo) memang saat ini masih kurang karena inspektur yang ada telah pensiun. ”Ditjen Perhubungan Udara akan segera mengatasi hal ini,” tegasnya.
Menteri Perhubungan Jusman Syafei Djamal menyatakan bahwa kecelakaan AdamAir diharapkan bisa menjadi pelajaran, khususnya dalam hal membangun budaya keselamatan penerbangan di Indonesia. “Ini artinya kita belajar dari kecelakaan yang terjadi untuk menghindari kecelakaan serupa terjadi di masa mendatang,” kata Menhub.
Kecelakaan AdamAir di perairan Majene, Sulawesi Selatan, ini menjadi tamparan keras bangsa Indonesia. Sudah saatnya pemerintah sebagai regulator dan operator lebih memperhatikan faktor keselamatan. Sudah terlalu banyak korban jiwa melayang. Buat bangsa ini bisa berbangga dengan maskapai domestik. [I4]

25/03/2008 08:06 WIB
KNKT Ungkap Misteri Pesawat AdamAir yang Hilang di Majene
Gagah Wijoseno – detikcom

adamairplane.jpg

Jakarta – Teka-teki pesawat AdamAir yang hilang di perairan Majene, Sulawesi Barat, akan terjawab hari ini. Komisi Nasional Keamanan Transportasi (KNKT) akan membeberkan hasil investigasinya di Gedung Dephub.
“Nanti sekitar jam 10.00 WIB dihadiri Ketua KNKT (Tatang Kurniadi) dan mungkin Bapak Menteri,” jelas Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) Publik Dephub Bambang S Ervan saat dihubungi detikcom, Selasa (25/3/2008).
Bambang menjelaskan, pembeberan investigasi tidak ada kaitannya dengan status AdamAir yang kini sudah dicabut izinnya. Ada prosedur yang harus dilalui.
“Investigasi ada rules-nya, dibuat draf laporan akhir. Setelah itu diserahkan ke pihak-pihak terkait seperti perusahaan penerbangan, otoritas penerbangan, maupun pabrikan pesawat,” paparnya.
Setelah mendapat draf tersebut, mereka harus memberikan tanggapan. Bambang mengatakan, semua pihak diberi waktu maksimal 60 hari untuk menjawab tanggapan.
“Baru setelah itu dibuat draf laporan final yang akan diumumkan hari ini,” jelasnya.
Meskipun AdamAir sudah dicabut izinnya bukan berarti hasil investigasi tidak penting diumumkan. Menurut Bambang, hasil investigasi berguna untuk semua pihak agar kejadian serupa tidak terulang lagi.
Pesawat AdamAir dengan nomor penerbangan KI 574 hilang pada tanggal 1 Januari 2007. Semua penumpang dan awak yang berjumlah 102 orang diyakini tewas.
Bangkai pesawat yang bisa ditemukan hanya berupa serpihan. Paling besar berukuran 1,5 meter.
Penyidik KNKT otomatis hanya bisa berharap dari black box yang ditemukan pada tanggal 27 Agustus 2007 di perairan Majene dengan kedalaman 2.000 meter. Black box lalu berhasil dibaca tanggal 10 September 2007 di Washington, AS. ( gah / nrl )

25/03/2008 11:21 WIB
AdamAir Jatuh Akibat Alat Navigasi Kemudi Otomatis Rusak
Nurvita Indarini – detikcom

plane7.jpg

Jakarta – Pesawat AdamAir yang jatuh di perairan Majene, Sulawesi Barat, pada 1 Januari 2007 bermula dari kerusakan Inertial Reference System (IRS). Kerusakan IRS terjadi 13 menit sebelum kecelakaan.
“Kedua pilot mencoba mengoreksi dengan mengubah posisi IRS. Namun kemudian auto pilot disconnect,” ujar salah satu investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Kapten Santoso Sayogo, dalam jumpa pers di Dephub, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (25/3/2008).
IRS adalah alat navigasi yang berfungsi memberikan input kepada sistem kemudi otomatis. IRS berguna untuk membantu penerbang melakukan navigasi. Manurut Santoso, meskipun rusak, sebenarnya pesawat masih bisa diterbangkan karena IRS hanya memudahkan saja.
Saat itu pesawat berbelok ke kanan 1 derajat per detik. Setelah 35 derajat, terdengar warning bank angle sebanyak 3 kali. Pilot mencoba mengubah arah pesawat ke kiri, namun kemudian terjadi structure failed.
“Seharusnya, salah satu penerbang memperbaiki salah satu instrumen, yang satunya lagi menerbangkan. Namun ini dua-duanya memperbaiki,” kata pria yang akrab disapa Santos ini.
Kedua pilot sebenarnya telah membuka Quick Reference Hand Book untuk mencari tahu prosedur penanganan masalah. “Sayangnya, mereka hanya membaca judulnya saja tanpa melakukan prosedur yang telah tertuang,” ujar dia. ( aan / asy )

25/03/2008 11:57 WIB
Pesawat AdamAir Hujam Laut dengan Kecepatan Sangat Tinggi
Nurvita Indarini – detikcom

adam.jpg

Jakarta – Pesawat AdamAir KI 574 ditemukan berkeping-keping di perairan Majene, Sulawesi Barat, pada Januari 2007. Terkuak sudah mengapa pesawat itu sampai pecah berkeping-keping.
“Saat masih di udara, pesawat masih utuh (tidak meledak). Nah sewaktu menabrak laut, pecah karena kecepatan amat tinggi. Energi kinetiknya diperkirakan 10 kali dari kecepatan mendarat biasa,” ujar investigator Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Mardjono Siswo Suwarno.
Hal tersebut disampaikan Mardjono dalam jumpa pers di Gedung Departemen Perhubungan (Dephub), Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (25/3/2008).
Informasi tersebut diperoleh dari pembacaan data kotak hitam Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (CVR). Saking tingginya kecepatan, lanjut Mardjono, badan pesawat pecah berkeping-keping kecil.
“Potongan terbesar pesawat hanya sepanjang 2 meter,” ujarnya.
Sementara Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengelak menjelaskan ada atau tidaknya human error dalam kecelakaan tersebut, karena bukan bagian dari tugas KNKT.
“Human error ada dalam istilah akademik. Namun dalam investigasi tidak ada human error. Kita tidak akan blame orang atau organisasi,” ujarnya. ( nwk / nrl )

25/03/2008 12:04 WIB
KNKT Rilis 11 Rekomendasi Kecelakaan AdamAir di Majene
Nurvita Indarini – detikcom

Jakarta – Terkait jatuhnya pesawat AdamAir di perairan Majene, Sulawesi Barat, 1 Januari 2007 silam, KNKT mengaku telah mengeluarkan 11 rekomendasi. 8 Di antaranya telah dilaksanakan oleh Ditjen Perhubungan Udara, AdamAir, dan PT Angkasa Pura I.
“Isi rekomendasinya, agar Ditjen Perhubungan Udara menyiapkan semacam rules atau tata laksana operasi perawatan innertial reference system (IRS),” kata Menhub Jusman Syafii Djamal dalam keterangan pers di Gedung Dephub, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (25/3/2008).
Selain itu, kata Jusman, KNKT juga merekomendasikan agar keterampilan pilot dalam menyelesaikan situasi darurat ditingkatkan. Namun Jusman tidak menyebutkan seluruh 11 rekomendasi tersebut.
Sementara Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengatakan, investigasi atas kecelakaan sistem pesawat tersebut memang lama dan dibutuhkan waktu lebih dari 12 bulan.
“Pada 17 Juli 2007, telah dilakukan preliminary report. Itu minim data dan fakta. Sementara draft final report baru pada 19 Desember 2007,” jelas Tatang.
Kemudian, akhir Februari 2008, draft final report dianalisa oleh tim investigasi hingga jadi final report. “Ada tolok ukurnya. Kalau 12 bulan tidak bisa, ya ditambah 12 bulan lagi. Kita lebih dari 12 bulan. Sejak ditemukan data dan fakta, kita kemudian membuat report dalam 4 bulan. Ini lama karena harus lama,” ujar Tatang.
Tatang kemudian memaparkan, sinyal locator beacon dari flight recorder terdengar pada 21 Januari 2007. Posisi koordinatnya pun langsung dicatat.
Pencarian pesawat dihentikan saat serpihan pesawat dan sinyal locator beacon berada di kedalaman laut 2.000 meter. Lalu pada 2 Agustus 2007, dilakukan operasi pengangkatan flight recorder.
Setelah itu digital flight data recorder dan cockpit voice recorder ditemukan dan diangkat pada 27 dan 28 agustus 2007.
( bal / nrl )

25/03/2008 13:08 WIB
Kata-kata Terakhir Pilot AdamAir Sebelum Menghujam Laut Majene
Nurvita Indarini – detikcom

Jakarta – “Jangan dibelokin, jangan dibelokin,” kata pilot AdamAir Majene Revri Agustian Widodo kepada co-pilot Yoga 1 Januari 2007 lalu. Pilot tidak sadar bahwa pesawat itu berbelok tanpa ada yang mengendalikan.
Itulah kata-kata pilot Revri yang sempat didengar oleh tim investigasi KNKT. Menurut Mardjono, investigator KNKT, kedua pilot panik ketika innertial reference system (IRF) Boeing 737-400 yang mereka kendalikan rusak.
“Ada suara, jangan dibelokin, jangan dibelokin. Itu suara pilot. Dia pikir karena pesawatnya berbelok, rekannya telah membelokkan pesawat,” cerita Mardjono kepada wartawan di Gedung Departemen Perhubungan, Jl Medan Merdeka Barat, Selasa (25/3/2008).
Kala itu, menurut Mardjono, Revrian dan Yoga tidak sadar jika autopilot sudah tidak berfungsi. Ketika pesawat meluncur deras 60 derajat, pesawat sudah tidak bisa dipertahankan berada di udara. Dan byaaaar! Pesawat berisi 102 jiwa itu menghajar perairan Majene, Sulawesi Barat.
Kata Mardjono, ketika pesawat sudah tidak terkendali dan meluncur deras, ada bunyi peringatan yang sempat terekam cockpit voice recorder (CVR) dan flight data recorder (FDR). Namun bunyi itu tak terdengar lama.
“Mungkin tidak sengaja dimatikan. Jadi pesawat terbang tanpa dikendalikan oleh pilot secara manual. Mereka baru memegang kendali pesawat setelah meluncur 60 derajat. Jadi itu sudah terlambat,” jelas Mardjono. ( ana / nrl )

25/03/2008 15:08 WIB
Kronologi Jatuhnya Pesawat AdamAir di Majene
Nurvita Indarini – detikcom

Jakarta – Tragedi jatuhnya pesawat AdamAir di perairan Majene, Sulawesi Barat, terjadi lebih dari setahun lalu. Meski demikian kemirisannya masih terasa hingga sekarang.
Pesawat Boeing 737-400 dengan nomor penerbangan DHI 574 yang melayani rute penerbangan Surabaya-Manado telah siap di Bandara Juanda Surabaya pada Senin 1 Januari 2007. Pukul 05.59 UTC atau 12.55 WIB pesawat tersebut lepas landas dengan mengangkut 102 orang.
Diperkirakan pesawat tersebut mendarat di Bandara Sam Ratulangi Manado pukul 08.14 UTC atau 16.14 Wita. Namun tiba-tiba pesawat tersebut hilang kontak. Komunikasi terakhir adalah pada pukul 15.07 WITA atau 07.07 UTC. Saat itu, diduga pesawat naas ini berada di sekitar Rantepao, Tator.
“Pesawat PK-KKW ini hilang dari pantauan radar pada ketinggian 35 ribu kaki,” ujar Ketua KNKT Tatang Kurniadi dalam keterangan pers di Gedung Dephub, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (25/3/2008).
Rekaman flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR) baru diketemukan dan diangkat pada 27 dan 28 Agustus 2007. Hasil analisa CVR menunjukkan, pilot mengalami masalah navigasi, sehingga perhatiannya terfokus pada permasalahan inertial reference system (IRS) setidaknya selama 13 menit terakhir penerbangan.
Akibatnya, pilot Kapten Revi Agustian Widodo dan kopilot Yoga hanya memberi perhatian minimal pada flight requirement lainnya, termasuk identifikasi dan usaha melakukan koreksi.
Saat terbang di ketinggian 35 ribu kaki, posisi autopilot adalah on. Untuk mempertahankan sayap pesawat tidak miring, autopilot menahan posisi stir kemudi aileron 5 derajat ke kiri.
Namun pilot melihat posisi IRS di kiri dan kanan tidak sama, alias menyimpang. Lalu kru memutuskan memindahkan IRS kanan dari posisi NAV (navigation) ke posisi ATT (attitude). Hal semacam ini biasa dilakukan saat di darat. Tetapi autopilot malah jadi off atau disengaged. Pesawat pun perlahan miring ke kanan.
Tet… Tet… Tet… Terdengar alarm peringatan autopilot mati di ruang kokpit. Tapi tak lama bunyi itu menghilang, diduga tidak sengaja dimatikan oleh pilot dan kopilotnya. Perhatian mereka berdua terfokus untuk mengoreksi IRS.
“Karena autopilot mati, seharusnya dikemudikan secara manual oleh pilot. Namun mereka tidak sadar kalau autopilot mati. Jadi pesawat terbang tanpa kendali,” kata investigator KNKT Mardjono.
“Bila IRS bermasalah, pesawat masih bisa terbang. Apabila alat ini bermasalah, maka sebaiknya tidak usah diotak-atik dan menghubungi tower bandara,” imbuh Mardjono.
Tiba-tiba terdengar “bank angle” sebanyak 3 kali, yang merupakan peringatan bahwa pesawat telah miring ke kanan melewati 35 derajat. Ketika bank angle 100 derajat dengan pitch attitude mendekati 60 derajat nose down, pilot tidak berusaha memiringkan pesawat ke sisi sebaliknya untuk menyeimbangkan.
Tidak terdapat tanda-tanda kedua pilot dapat mengendalikan pesawat secara tepat dan seksama sesudah peringatan bank angle berbunyi. KNKT menyebut, kecelakaan terjadi sebagai kombinasi beberapa faktor termasuk kegagalan kedua pilot dalam intensitas memonitor instrumen penerbangan, khususnya dalam 2 menit terakhir penerbangan.
Burung besi itu pun meluncur ke bawah dengan kecepatan 330 meter per detik atau sekitar 1.050 km per jam. Saat itu, pilot baru berusaha memegang kendali pesawat secara manual.
Mereka belum menyadari kemiringan pesawat lantaran kemiringan terjadi sangat perlahan, yakni 1 derajat per detik. Kepanikan pun menyergap kedua pilot itu ketika menyadari pesawat miring. “Jangan dimiringin, jangan dimiringan,” teriakan terdengar dari ruang kokpit.
Keduanya sempat membuka quick reference hand book yang tersedia pada chapter 11. Sayangnya mereka hanya membaca judul tanpa melakukan prosedur yang tertera dalam buku tersebut.
Upaya mengendalikan pesawat terlambat dilakukan. Bahkan salah satu bagian pesawat patah. Burung besi itu pun menghunjam ke perairan Majene dengan kecepatan sangat tinggi. Di dalam air, pesawat itu pecah. Karena berat jenisnya lebih besar daripada berat jenis air, serpihan pesawat banyak yang tidak mengambang.
Saat itulah nyawa 85 orang dewasa, 7 anak-anak, 5 balita, 4 awak kabin serta pilot dan kopilotnya melayang. Jasad mereka terkubur dalam laut.
( nvt / ana )

Ekonomi / Sektor Riil
19/03/2008 11:19 WIB
Adam: Putusan Dephub Tepat
M HUSNI NANANG

INILAH.COM, Jakarta – Presdir AdamAir Adam Aditya Suherman mengucapkan apresiasi atas keputusan pencabutan izin terbang yang dilakukan Departemen Perhubungan (Dephub). Keputusan itu dianggap tepat.
“Pencabutan operation specification saya anggap suatu keputusan yang tepat karena Dephub sangat mengetahui kondisi AdamAir saat ini. Dan sebelum pencabutan itu saya sudah menyampaikan kondisi kemelut antar pemegang saham,” kata Adam saat ditemui di kantornya, Jalan Gedong Panjang, Jakarta, Rabu (19/3).
Diakui Adam kemelut di antara pemegang saham itu telah menurunkan moralitas karyawan atau demoralisasi karyawan yang dapat berpotensi mengancam keselamatan penerbangan.
Apa yang menimpa AdamAir, imbuh Adam, akan diserahkan sepenuhnya kepada pemegang saham, apakah mereka masih memiliki komitmen atau tidak.
“Apakah akan tetap berjalan setelah ada penghentian atau bubar sampai di sini saja. Namun sebagai direksi, apa pun keputusan pemegang saham, saya minta agar pemegang saham dapat arif dan bijaksana,” tegas Adam.
Pemerintah melalui Dephub memutuskan mencabut izin terbang AdamAir karena kondisi manajemen dan armadanya dianggap mengkhawatirkan. Pencabutan izin terbang dilakukan sejak pukul 00.00 WIB tadi malam. Manajemen AdamAir diberi kesempatan selama tiga bulan untuk menyelesaikan masalahnya. Jika dalam tempo itu tidak ada perbaikan, Dephub akan mencabut izin AOC-nya. Dan jika dalam tempo 6 bulan tidak ada kejelasan, maka izin usahanya akan dibekukan.[L5]

21/03/2008 16:33 WIB
Chappy Hakim: AdamAir Seharusnya Ditutup 2 Tahun Lalu
M. Rizal Maslan – detikcom

Jakarta – Chappy Hakim menilai penutupan maskapai AdamAir merupakan tindakan yang sangat terlambat. Dia menyatakan, seharusnya AdamAir ditutup dua tahun lalu.
Dua tahun lalu, tepatnya tanggal 11 Pebruari 2006 pukul 10.45 WITA, sebuah pesawat Boeing 737 mendarat darurat di Bandara Tambolaka, Sumba Barat, NTT, setelah tiga jam berputar-putar tanpa arah. Namun, besoknya pesawat itu terbang lagi menuju Makassar tanpa izin, akibatnya tim Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) tidak menjumpai pesawat itu untuk diselidiki.
“Ini contoh yang sangat fatal dari pelanggaran aspek safety dan disiplin,” kata pengamat penerbangan Chappy Hakim dalam jumpa persnya di Jl Cipaku II/18, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (21/3/2008).
Padahal, lanjut Chappy, berdasarkan hasil audit Departemen Perhubungan mendapatkan data antara lain pilot profisiency dilakukan oleh pilot yang tidak berwenang, perawatan pesawat tidak sesuai dengan Company Maintenance Manual, pesawat terbang tanpa diperiksa dulu dan pelaksanaan perawatan pesawat tidak menggunakan ‘check list’.
“Inilah gambaran bahwa kasus Tambolaka jauh lebih parah dari apa yang diutarakan dalam hasil audit beberapa hari lalu,” jelasnya.
Kenapa saat itu tidak dicabut izin penerbangan AdamAir? “Jawabannya, ada sesuatu yang salah dalam pengelolaan dunia penerbangan di Indonesia. It must be something wrong!” pungkas Chappy.
Dia juga menilai maskapai penerbangan yang kerap mengalami kecelakaan dan melanggar aturan harus segera ditutup. Sebab persoalan keselamatan dan kepatuhan penerbangan tidak bisa ditolerir lagi.
“Karena ada tiga hal penting di sini, menyangkut nyawa orang, nama baik pemerintah sebagai regulator dan harga diri bangsa dan negara,” kata mantan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) tersebut.
Menurut Chappy, masalah safety (keamanan) dan disiplin atau kepatuhan pada peraturan tidak bisa dinegosiasikan, ditolerir atau dikompromikan. “Safety dan disiplin harus hitam putih, tidak ada warna abu-abu dalam kedua hal tersebut,” tegas mantan Ketua Tim Nasional Evaluasi Keselamatan dan Keamanan Transportasi (EKKT) ini.( zal / mar )

About these ads

6 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. iyong said, on March 26, 2008 at 11:34 am

    Adam oh Adam… Tragis nasibmu

    Ancungan Jempol untuk DEPHUB yang akhirnya berani menutup Adam Air. Mari berbenah, pantau terus airlines yang lain. jangan terlalu gampang menngeluarkan izin bagi airlines swasta. Keselamatan rakyat yang harus dipentingkan.

    Tolong pantau terus pertumbuhan Garuda Indonesia, my wish, Garuda Indonesia SEJAJAR dengan SIA dan MAS…KITA PASTI BISA

  2. karisma said, on August 2, 2008 at 9:06 am

    ini adalah berita yg bagus bgt karena sekarang misteri jatuhnya adamair sudah terkuak!

  3. UmmuAzzam said, on August 2, 2008 at 9:13 am

    Aq benci banget sama koruptor2! gara2 korup juga nih kasus bisa terjadi! Alhamdulillah Adam Air dah ditutup…TAPI… Ati2 tuh dia “ganti topeng!”
    Aq sebel tau gak, nih isu gede banget ke seluruh dunia, Indonesia dikenal ancur2an…
    Bahkan pilot2 RI dipecat di negara laen, pdhl gara2 memang ada kecelakaan lain yg disebabkan cuaca buruk yg parah… ahhhhhhhh…Indonesia! Kamu bisa maju kalo’ gak ada koruptoR! kamu bisa bangkit kalo semua pihak JUJUR! JUJUR MEMBANGUN NEGERI!!!
    salam sedih, banjir air mata…

    Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun…

  4. nina said, on August 7, 2008 at 10:20 am

    thank you ulasan lengkapnya, Sob.. aku barusan denger bocoran rekaman 5 menit sebelum jatuh (entah itu otentik atau tidak) yang jelas, miris aku dengernya.. Mungkin the only good thing is that, the pilot remembered God Almighty in his last breath. That’s a beautiful death, I think… :)

    btw, aku co-pas sedikit ya, utk di blog aku (aku link ke situs ini juga kok.. thanks)

  5. Itho said, on March 18, 2009 at 12:49 pm

    aneh ya dl ada ahli yg bilang pesawatnya meledak macem2 ternyata begitu . btw ayah saya seorang pilot yang kebetulan Captain Refri Hadodo sebelum menjadi Captain pernah menjadi Co-Pilot Ayah saya dan teman akrab dari masih muda .Ayah saya mengakui itu suara asli Captain Refri Hadodo. Setelah mendengar blackbox tersebut ayah saya mengatakan Captain Refri Hadodo sudah bingung antara langit dan lautan pada saat2 terakhir . Sebetulnya ada beberapa prosedur yg Captain – Co-pilot tidak lakukan yaitu prosedur untuk melihat bahwa antara lautan dan langit . Captain dan Co-Pilot mengatakan “Allahuakbar” berkali2 karena mereka sudah tau .

    Btw thx to Captain Refri Hadodo dan Co-Pilot yang sudah berusaha sampai akhir . Dan semoga semua korban dan cabin crew yang ikut termasuk Captain dan Co-Pilot diterima disisi-Nya amin .

  6. Muhammad Fachrie said, on April 11, 2009 at 2:50 pm

    Setahu saya, pada rekaman black box sesaat sebelum pesawat menghujam permukaan laut, terdengar dengan SANGAT JELAS teriakan yang menyebut ALLAHU AKBAR.. Teriakan itu berulang beberapa kali. Lalu kenapa tidak diangkat sedikitpun oleh pihak KNKT maupun pihak investigator??? Ada apa dibalik semua ini??? Apakah ini kesengajaan untuk menunjukkan keMahaBesaran Allah???
    Tanya kenapa???


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: